Selasa, 08 April 2014

Fanfiction / Oneshoot - Mate ( Special Fanfiction For Choi Siwon Birthday)



            ONE SHOOT – MATE ( Special Fanfiction For 29 th Choi Siwon Birthday )

A  Fanfiction By Septi Titanika
      
Cast : Choi Siwon

Inka Veda Putri

Genre : Romance

Rated : PG 15

Length : One Shoot /4689 word.

The Fanfiction Is mine, castnya milik saya. Inspirasi cerita ini adalah dari cerita lama yang pernah saya tulis saat sekolah dulu, dari FF saya, protect the wife dan dari film Thailand Hello Stranger. Apabila ada kesamaan itu hanya kebetulan, don’t bash and happy reading^-^
Awas cerita aneh, nggak ada konflik sama sekali , nggak ada feel sama sekali dan typo bertebaran, Judul nggak sesuai dengan ceritanya.


Universitas City College Of San Fransisco,
 San Fransisco, Amerika Serikat .

Salah satu universitas terkenal di San Fransisco itu itu masih cukup ramai oleh puluhan mahasiswa walaupun hari sudah cukup sore. Mereka yang sudah menghabiskan kelasnya hari ini lebih memilih bersantai di taman kampus yang hijau, menghirup udara segar di musim panas. Walaupun musim panas merupakan waktu libur, tapi bangunan kampus itu tetap saja ramai.

Choi Siwon mengusap kacamatanya yang berkabut dan menutup The Three Musketeers yang sudah dibacanya hingga sepertiga. Dia menengok lagi – untuk yang ke sepuluh kalinya ke arah fakultas desain lalu menghembuskan nafas panjang, oke dia masih akan terus menunggu sampai Seo Yi Hyun keluar. Sejam, dua jam, sampai tengah malam pun dia akan tetap berada di sana. Dia sudah bertekad akan menjemputnya walaupun Yi Hyun sudah melarangnya, “Choi Siwon, aku sangat sibuk beberapa hari ini, kita bicara lain kali saja…”


Yeojachingunya itu beberapa hari ini sulit dihubungi, mereka sempat bertengkar karena masalah sepele. Dia hanya berusaha mengingatkannya agar tidak terburu buru dan mengambil jalan yang salah. Tapi gadis itu bersikap sekeras batu, ‘ aku sudah memikirkannya berulang ulang dan tidak akan mundur selangkahpun’. Siwon menyandarkan punggungnya di bangku kayu tempatnya duduk, matanya ke bangunan gedung megah bertingkat tiga itu. Tidak mudah masuk ke sana, dia saja tidak berhasil. Seo Yi Hyun lah yang berhasil masuk ke sana dengan susah payah, dan sekarang dia bertekad mempertahankannya, bahkan bila mungkin naik ke tingkat yang lebih tinggi. Sekarang kesempatan itu terbuka lebar, namun Siwon menentangnya.

“Aku hanya tidak ingin kau berhasil namun dengan jalan yang salah..” gumamnya pelan. Salah seorang teman Yi Hyun baru saja meninggal dan dia bermaksud menggunakan desainnya atas namanya. Teman yang tidak mungkin dilakahkan oleh Yi Hyun dengan desainnya sendiri. Siwon mengecek ponselnya, dia sudah menelfon Yi Hyun tiga puluh enam kali hari ini. Yi Hyun hanya membalasnya dengan sebuah pesan singkat, kalau kau belum menyetujui apa yang ingin kulakukan, aku belum akan bicara denganmu…

Siwon bisa paham dengan apa yang dirasakannya, dia pergi ke Amerika untuk mengejar impiannya menjadi seorang desainer kelas dunia hanya dengan berbekal sedikit uang. Dia belajar tanpa lelah bahkan kadang tidak tidur agar tidak kehilangan beasiswanya. Begitu kesempatan itu datang, orang bodoh mana yang akan menyia nyiakannya?

Berbeda dengan dia yang datang ke Amerika hanya karena bosan hidup dengan adiknya di Korea. Dia membuka tasnya, mengelus kalung yang diberikan adiknya sebelum dia kembali ke Korea kemarin. Kalung berbandul potongan Yin dan Yang berwarna putih, Yang. Ujung bibirnya menyunggingkan senyum miris. Walaupun mereka saudara kembar, mungkin selamanya mereka tidak bisa bersama, tidak akan pernah sepaham. Apa adiknya memberikan kalung itu sebagai penegasan? Hanya Yin, dia sudah memisahkan Yin dan Yang itu. Adiknya sepertinya benar benar tidak sudi lagi mereka hidup bersama.

Siwon membuka lagi novel classic yang cukup tebal di pangkuannya, ada kertas terlipat yang terselip di sana. Benda yang mungkin sekarang menjadi nyawa Yi Hyun, sketsa desain milik Yoon Hee Joo. Dia menelusuri gambar yang masih berupa coretan pensil itu..huft…

Inka menengok ke sana kemari, mencoba mencari orang Asia di antara orang bule yang berserakan. Ponselnya tidak lepas dari telinga, dimana sih sepupunya? Tersesat di kampus asing dalam mimpipun tidak pernah sekalipun terjadi.

“Yoga, kamu pergi kemana sih?” Dia sudah berdiri di tangga utama yang menuju pintu kampus, namun kemudian berbalik lagi, kalau dia masuk, mungkin malah tidak akan bisa keluar. Dia sudah berputar putar di luasnya taman universitas itu, namun tidak ketemu juga. Katanya hanya ingin ke toilet, tapi malah hilang entah ke mana, tidak sadarkah jika dia buta Amerika?

“Yoga, angkat telfonku…”dia merutuk pada ponselnya. Dia dan Yoga, sepupunya,  diutus kakek mereka ke Amerika untuk mengurus beberapa hal sehubungan dengan meninggalnya sepupu mereka yang ada di sana, Yoon Hee Joo.

Dengan kesal, Inka membanting tubuhnya di bangku kayu di bawah pohon yang cukup teduh. “Menyebalkan sekali, kenapa juga aku bisa sampai di sini, walaupun Yoon Hee Joo itu sepupuku, aku juga baru bertemu di sekali…” Dia bahkan tidak sudah lupa punya sepupu orang Korea. Tangannya gemas memukul mukul novel tebal yang tadi dititipkan Yoga padanya. “Tidak tau apa buku ini berat, Yoga, kupukul kalau kamu kembali…” . Dia melempar The Three Musketeers itu ke tanah, namun sedetik kemudian mengambilnya lagi sambil mengomel tidak jelas.

Siwon menengok ke belakang punggungnya. Dia sempat mendengar sebuah kata, Yoon Hee Joo, tapi kata lainnya diucapkan dalam bahasa yang tidak dia mengerti. Bangku tempatnya duduk ada dua dan menempel saling membelakangi, seorang gadis duduk memunggunginya. Apa dia ingin mengambil desain Yoon Hee Joo juga?

“Yoga dimana kamu? Kamu mau aku jadi gelandangan, hah?” akhirnya Yoga mengangkat telfonnya. “Hah, kamu tunggu di situ, aku kesitu jangan ke mana mana, di dekat pohon besar, oh iya,  aku sudah lihat…” Inka memberesi ranselnya dan berjalan pergi, meninggalkan novelnya di bangku.

Siwon menghela nafas, mengirim SMS pada Yi Hyun,

kutinggalkan di bangku taman, ambillah…dia meletakkan bukunya di bangku taman dan melangkah pergi dari tempat itu. Yi Hyun sudah berusaha keras dan mungkin hal terbaik yang bisa dia lakukakan adalah mendukungnya…

***

“Kau tinggalkan di mana, tidak ada apa apa?” pagi pagi Yi Hyun sudah membangunkan Siwon , benar benar datang ke rumahnya dan menarik selimutnya dengan paksa. “Kau bilang kau selipkan di buku, aku sudah hampir mengancurkan buku ini, tapi tidak menemukan apapun…” Yi Hyun melemparkan buku tebal itu ke Siwon, Siwon lebih sigap menangkapnya.

“Aku menaruhnya di buku itu…” Siwon membalik buku itu, membuka lembarannya seperti petugas bank menghitung uang. Bagaimana mungkin bisa tidak ada?

“Kau benar benar ingin menghalangi jalanku, oppa?” Yi Hyun duduk di sisi ranjang Siwon, tubuhnya melemas. “Aku sudah jauh jauh pergi ke sini dan aku tidak ingin gagal..kumohon sekali ini saja, aku benar benar harus melakukannya..”

“Aku menyelipkannya di sini…” antara halaman seratus empat puluh dan seratus empat puluh satu, dia bahkan masih ingat dengan detail. Dia mencoba mengembalikan ingatannya ke kampus kemarin, tiba tiba dia merasa disengat listrik. “Gadis itu..” dia nyaris memekik. Hee Joo memandangnya tidak mengerti.

“Ayo kita cari di kampus..” Siwon menarik jaketnya. Gadis yang duduk di belakangnya kemarin juga membawa buku yang sama, semoga buku itu tertukar dan Yi Hyun mengambil buku yang salah. Mau dicari sampai tahun depan pun juga tidak akan ketemu.

“Kertas itu penting, oppa, makanya kau jangan meletakkannya sembarangan, bagaimana kalau ada orang yang menggunakannya?”

Mustahil memang mencari orang tidak dikenal di kampus, tapi bagaimana bisa tahu kalau tidak dicoba?

***

“Sayang aku baru bertemu dengan Yoon Hee Joo sekali..” Inka dan Yoga berjalan beriringan menuruni tangga, dia mendekap kotak berisi barang barang milik Hee Joo yang akan mereka bawa pulang. “Aku tidak sepintar dia, hebat ya dia bisa mendapat beasiswa di Amerika..”

“Hem..” jawab Yoga pendek, dia sibuk memandangi foto Hee Joo di ponselnya. “Otakku tidak seencer dia, mungkin Tuhan sayang padanya hingga memanggilnya lebih cepat…” kata Yoga lirih. Mereka jarang bertemu karena hidup di negara yang berbeda. Terakhir Inka melihat Hee Joo adalah dua tahun lalu, saat dia berlibur ke Jakarta.

“Kamu tidak ingin kuliah di sini?” tanya Yoga tiba tiba.

 Inka menoleh, “Kuliah di sini?” tiba tiba dia ingat dengan kuliahnya, rumahnya, pac..dia menarik nafas panjang, dia bahkan tidak pamit akan ke Amerika.

“Kemarin kamu bilang ingin lari saja? Di pesawat, masa kamu sudah lupa?”

Lari, itulah yang sedang dilakukannya sekarang. Lari seperti vampir yang takut pada matahari, lari dari sesuatu yang indah dan memberikan kehidupan. Akhir akhir ini dia merasa resah dengan hubungannya dan pacarnya, Stea, dia sudah mencoba berbahagia di sampingnya, namun tetap saja ada yang mengganjal. Dia sudah berusaha tidak membuatnya sedih dan memikirkan apa yang sudah terjadi. Namun dia terlalu perasa dan seperti ingin menghindarinya. Dia tahu betul dengan apa yang Stea rasakan, hutang nyawa itu tidak enak. Dia bahkan tidak yakin hubungan mereka masih bisa dijalani….

“Woi, jangan melamun ?” bentak Yoga,” Nanti kamu bisa kerasukan, Hee Joo baru saja meninggal siapa tahu arwahnya masih ada di sini..hiii…” dia bergidik.

“Ih jangan bicara begitu, tidak baik. Ya sudah, ayo jalan…” Inka mencoba tertawa. Stea, apa kamu tidak mencariku? Batinnya.  Dia sudah mencob menelfonnya berulang ulang namun tidak tersambung. Mama Stea bilang dia pergi ke Lombok, apa dia benar benar ingin menjauhinya?

Siwon dan Yi Hyun berlari secepat yang mereka bisa, mengejar orang yang sudah satu jam mereka cari. Mereka baru menemukannya ketika gadis itu sudah melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi.

“Heii…kau tunggu…” Siwon menghentikan langkahnya, terengah engah.

“Oppa, kau yakin dia orangnya?” Yi Hyun menyusul di belakangnya, menata nafas. Terlambat , pintu taksi sudah terbuka ketika dia berteriak. “ Nonaa….tunggu.., kembalikan bukuku…” sia sia dia mambuang tenaganya untuk berteriak, taksi itu tancap gas dengan kecepatan penuh, membawa impiannya, tujuannya datang ke Amerika pergi entah kemana, hancur seperti debu..Dia menatap Siwon dengan mata memerah, tubuhnya menegang.

“Kau harus berusaha sendiri..” Siwon mencoba menenangkannya, “Kau pasti bisa..”

“Aku tidak mau bertemu denganmu lagi..”Yi Hyun mengusap air yang turun dari matanya. Dia berlari pergi, tidak peduli pada Siwon yang terus terusan memanggilnya. Siwon memukul udara, bukankah dia sudah mengatakannya sejak awal? Dia sangat mencintai Yi Hyun, ingin melihanya sukses, namun di satu sisi dia juga tidak setuju dengan cara kotor Yi Hyun . Dia bisa ikut frustasi.

***

Kereta  Amtrak Coast Starlight melaju cepat dari kota Davis menuju  stasiun terdekat dengan Golden Gate di Emeryville, meninggalkan bayangan pepohonan yang berlarian dengan cepat. Inka menutup brosurnya, membaca terlalu lama malah membuatnya pusing. Dia mencoba menghibur diri dengan berjalan jalan mumpung sedang ada di Amerika, tapi nyatanya pikirannya sama sekali tidak bisa fokus. Dia memandang ke luar lewat jendela kereta, dia akan ke Golden Gate, dia bahkan sudah membeli tiket untuk mengikuti tur Golden Gate By Cruiser. Yoga pergi sendiri, entah dia akan ke mana Inka juga tidak tahu. Pikirannya sedang kalut, mungkin kalau dia hilang malah akan lebih baik.

Inka menimang nimang ponselnya, Stea mungkin juga tidak akan mengangkatnya jika dia menelfon dengan nomor Amerika. Biarkan saja lah, mungkin menjauh untuk sementara akan lebih baik, untuk introspeksi diri. Apa Stea sedang kebingungan mencarinya sekarang?

Mata Siwon membulat, dia merasa tidak asing dengan gadis yang duduk sendirian menghadap jendela. Rambutnya yang tergerai berantakan ditiup angin dengan kaos lengan panjang dan syal katun yang sewarna dengan kaosnya, putih, memangku tas selempangnya…

Benar, dia gadis yang membawa bukunya kemarin. Kalau kemarin dia mengejarnya dengan menggebu gebu, maka sekarang niat itu tidak ada sama sekali. Semalam dia dan Yi Hyun bertengkar hebat, kepalanya juga menjadi sedikit pusing. Siang ini tanpa pamit pada Yi Hyun , dia pergi jalan jalan ke Golden Gate. Dia sudah tidak peduli lagi, terserah Yi Hyun mau melakukan apa.

May I seat in here?” Sebetulnya nomor kursi Siwon ada di belakangnya, namun sepertinya duduk di situ lebih nyaman dan gerbong itu hany terisi kurang dari separuh.

Inka menoleh, baru sadar jika kursi di sampingnya kosong, dia memperhatikan orang yang berdiri di dekatnya dari ujung kaki sampai ujung topinya, tinggi, bermata sipit, dan yeah..jauh lebih tampan dari Stea, orang Asia, mungkin Jepang atau Korea. Dia mengangguk tanpa ekspresi.

Siwon duduk menempelkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi senyaman mungkin, memangku ranselnya dan membuka buka brosur wisatanya.

“Oh, kamu mau ka Golden Gate juga? Sepertinya kamu orang Asia..” senang rasanya menemukan orang yang satu ras di tempat antah berantah seperti ini.

“Ya aku Korea..” Siwon tersenyum kecil, dia sudah lama tidak bertemu orang Asia juga, hanya Yi Hyun dan sekarang dia sudah bosan melihatnya setiap hari.

“I’m Indonesian…” Inka memperkenalkan diri, “Bali, you know, Bali?”

Siwon mengangguk, dia pernah ke sana sekali – sewaktu berumur empat tahun kalau tidak salah. Mulutnya gatal ingin menanyakan soal buku itu, tapi sudahlah, itu sudah tidak penting lagi sekarang. Jika Yi Hyun mau berusaha sendiri, dia pasti akan sukses. Lagipula sepertinya gadis ini orang yang nyaman untuk diajak bicara, mungkin sedikit bisa mengurangi beban yang menumpuk tumpang tindih di hatinya.

“Kamu sudah pernah ke Golden Gate?” Inka takut jika dia tersesat.

“Tenang saja, aku sudah hampir empat tahun di Amerika..” Siwon mengacungkan empat jarinya. Inka tertawa kagum, Siwon ikut tertawa.

“Syukurlah..” Inka mengelus dada, “ Aku belum pernah ke Golden Gate dan hanya sendirian, sepupuku maninggalkanku entah ke mana…”

“Oh, kau hanya sendirian?” Siwon menengok ke kanan kiri, sampai sampai dia tidak menyadari kalau mereka sama sama hanya pergi sendirian. “Berani sekali kau, kau gadis yang hebat..” Siwon mengangkat dua jempolnya. “Kau juga hanya sendirian ke Amerika? Dalam rangka berlibur atau apa?”

Mata Inka menatap kehijauan pepohonan di luar, namun pikirannya sama sekali tidak ke sana. Dia teringat Stea, dia masih dalam tahap pemulihan setelah transplantasi ginjal, apa dia sehat sehat saja sekarang? Dia sering lupa minum obat, ahh Inka bahkan sudah menambah beban pikirannya…

“Dalam rangka apa?” haruskah dia jawab dalam rangka kabur dari masalah? “Sepupuku meninggal, jadi aku kemari..” Inka tersenyum simpul.

Siwon tercekat, “ Sepupumu kuliah di San Fransisco?”

“Hehem..dia baru saja meninggal..”

Lagi lagi Siwon menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, telinganya berdengung, bukan karena keramaian kereta. Rasa gelisah menyusupi dadanya, untung dia tidak berhasil mengejar gadis Indonesia ini. Kalau berhasil, Yi Hyun mungkin akan dimasukkan ke penjara. Tuhan masih melindunginya dan Yi Hyun, Yi Hyun pasti akan berhasil dengan usahanya sendiri.

“Maaf, aku sudah mengingatkanmu padanya…”

“No problem, aku juga tidak terlalu mengenalnya…oh, ini sudah sampai di stasiun ya?” laju kereta mulai melambat. Dari stasiun Emeryville mereka masih harus naik bus ke  Fisherman Warf untuk benar benar sampai ke Golden Gate, “Ayo turun, kita jalan sama sama saja..”

Siwon mengangguk dan mengikuti langkah langkah riang Inka. Ayolah Choi Siwon lupakan Yi Hyun sebentar dan cobalah bersenang senang, selama ini kau sudah terlalu sering mengikuti apa yang dia inginkan.  Dia memasang senyum lebar, “Kita tunggu busnya di sana..”

***

Inka melipat tangannya di perut, kulit telapak tangannya sering mengelupas jika terkena udara dingin, alergi. Musim panas di Amerika benar benar berbeda dengan di Indonesia, ini musim panas tapi angin laut membawa kabut di mana mana. Sudah jam lima sore, kabut sudah kembali turun mengukung teluk San Fransisco. Inka menatap takjub pada Golden Gate yang berdiri kokoh di peluk kabut, hingga tampak seperti terbenam di awan. Awan awan itu berwarna jingga karena ditimpa sisa sinar matahari,menciptakan harmoni sempurna dengan Golden Gate yang didominasi oleh warna merah.

“Aku sudah beberapa kali ke sini,  tapi aku belum pernah melihatnya seindah ini..” Siwon menyeruput mochacinnonya, ke dua tangannya tertangkup pada badan cangkir keramik berwarna coklat itu, sensasi hangatnya terasa menggelitik. Sisa uapnya keluar ketika dia berbicara.

 “Huh, beberapa bulan lalu udaranya juga tidak sedingin ini…pemanasan global semakin parah” gumamnya, dia datang bersama Yi Hyun beberapa bulan yang lalu. Menikmati sunset pasifik dari atas kapal dengan bahagia. Seratus delapan puluh derajat berbeda dari sekarang, pergi dengan orang tidak dikenal, tanpa pamit dan dalam suasana hatinya yang kacau.

 Inka merapikan rambutnya yang berantakan tertiup angin laut yang cukup kencang, mereka berdiri di dek, menikmati pemandangan indah kota dari atas kapal. Pulau Alcantraz mulai menjauh di belakang, bebatuan granitnya tampak mempesona dan misterius dengan beberapa bangunan penjara yang telah kosong. Siwon mengarahkan kameranya ke mercusuarnya yang makin mengecil, sebelum benar benar hilang dari pandangannya. Dia berbalik dan mengarahkan lensanya ke kerlap kerlip lampu kota yang tampak seperti kunang kunang di negeri dongeng. Sangat berbeda dengan dua orang yang sedang berusaha membebaskan diri dari belitan keresahan di hati…

“Kau mau mengambil foto juga?” Siwon menyorongkan kameranya.

“Tidak ah…” tolak Inka halus, “Kalau aku mengambil foto, nanti aku jadi ingin ke sini lagi…”. Besok dia akan pulang ke Indonesia, kemarin dia sama sekali tidak bersemangat ke sini, tapi sekarang  rasanya melah berat untuk pergi. Benar, sesuatu akan menjadi berharga ketika hanya sedikit atau sudah benar benar tidak ada. Mungkin hubungan cintanya juga akan menjadi berharga jika sudah tidak ada. Apa harus diakhiri dan jika masih mungkin dimulai dari awal lagi?

“Kau tidak mau ke sini lagi, kenapa?” tanya Siwon penasaran.

“Aku mencoba mencari pelarian ke sini…” jadi tidak ingin mengulanginya lagi, sekali saja seumur hidupnya. Mencari tempat untuk kabur hingga ribuan kilometer.

“Kau sepertinya sedang ada masalah, aku melihatmu tidak bersemangat di kereta tadi..apa kau masih memikirkan Yoon Hee Joo..” Siwon buru buru menutup mulutnya ketika gadis di sampingnya itu menatapnya tajam, “Maksudku apa kau masih bersedih dengan kematian sepupumu?” dan segera meralatnya.

“Aku dan dia tidak terlalu dekat, kami baru bertemu dua kali seumur hidup. Bukan , bukan itu, ini soal aku dan pacarku…”. Mungkin bercerita kepada orang asing yang besok tidak akan ditemuinya lagi malah akan lebih baik. Hatinya sudah buncah oleh beban, dadanya seperti ditindih batu besar. Kotak rahasianya, tempatnya paling nyaman dan aman untuk bercerita kini sudah pergi sangat jauh. Meninggalkannya, pamit hanya dengan sebuah surat pendek, tidak akan pernah bisa dia lihat lagi sekalipun dia memanggilnya hingga tenggorokannya putus. Tanpa sadar matanya basah, dia mengusapnya dengan ujung syal.

“Maaf kalau aku membuatmu pada hal buruk yang tidak ingin kau ingat…”

“Akulah yang bodoh meninggalkan dia tanpa pamit. Hubungan kami sedang berada di titik renggang dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, di tempat seindah ini aku juga tidak bisa melupakannya”

“Jangan kau paksa melakukan sesuatu yang kau tidak sanggup untuk kau lakukan…” Dia juga sedang mencoba membiarkan Yi Hyun melakukan apa yang ingin dia lakukan, dia tidak akan sanggup melihatnya sedih.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, hubungan kami di luar terlihat baik, tapi tidak begitu, ini lebih seperti balas budi…”

“ Aku juga mengenal seorang wanita, dia ingin melakukan hal yang sebetulnya aku tidak suka…menurutmu aku harus bagaimana?”

“Pacarmu?”

“Entahlah nanti…” Jawab Siwon pendek, dia menghabiskan tegukan terakhir cappucinonya. Kalau Yi Hyun benar benar akan melakukan hal bodoh itu, mengatasnamakan desain Hee Joo atas dirinya, hubungan mereka akan berakhir, dia  akan memutuskannya. Kalau dia benar benar merasa hebat, itu artinya sudah tidak membutuhkannya lagi.

“Seseorang pasti punya alasan melakukan sesuatu, entah itu baik atau buruk..” Kenapa ‘dia’ membawanya masuk ke dalam hubungan ini, pasti ada alasannya, sekalipun ‘dia’ tahu tidak akan mudah bagi Inka untuk merasa nyaman. Sekarang dia sedang berusaha memahami alasan itu, berusaha menerimanya walaupun rasanya sangat sakit.

“Kenapa kau mengambil alasan yang buruk untuk pergi ke Amerika? Kenapa kau mengambil niat untuk lari, bukankah akan lebih baik kalau kau mengajak kekasihmu dan membicarakannya bersama di senja yang nyaman seperti ini?” Siwon menatap wajah Inka yang memerah terkena biasan sinar matahari. Seharusnya pertanyaan itu ditujukan untuknya, kenapa dia tidak mengajak Yi Hyun  dan bicara baik baik?

“Aku terlalu takut untuk melihatnya..” itu akan mengingatkannya pada ‘dia’. “Dia sudah berusaha mendapatkanku selama tiga tahun, aku tidak ingin melihatnya menjadi putus asa karena pada akhirnya kami bersama namun dengan cara yang tidak kami inginkan..” Inka mendesah, “Dia sekarang hidup dengan ginjal orang yang sangat mencintaiku…” Adakah hubungan yang lebih buruk dari itu?

“Kau orang yang sangat beruntung ya, kenapa kau harus kabur jika dikelilingi orang yang menyayangimu?”. Berbeda dengan dia, dia dan Yi Hyun, bertengkar sehari, berbaikan dua hari, bahkan dia baru saja mengusir adiknya yang jauh jauh datang dari Korea hanya untuk menengoknya.

“Kasih sayang yang terlampau banyak itu malah kadang bisa menyesatkan…” Inka menyedot vanilla latenya yang mulai dingin. Pandangannya terarah jauh ke bayangan matahari yang tinggal separuh terlukis dia air yang keemasan. Di seberang sana, daratan Amerika yang bersiap menyambut malam mengintip dari balik kabut yang makin menebal. Laut pasifik juga tampak samar samar.

“Kisah cintamu sepertinya rumit…” lagi lagi Siwon mengarahkan kameranya, kali ini ke arah wajah Inka. Inka menutupnya dengan tangan, dia suka difoto, tapi tidak dengan wajah sayu, mata merah dan rambut berantakan.

“Ah aku merasa bersalah meninggalkan dia tanpa pamit…” Inka merenggangkan tangannya yang pegal, namun dia segera menyesalinya, udaranya makin dingin. Dia mengeluarkan ponselnya dari tas selempangnya, berharap menemukan satu saja telfon atau SMS dari nomor Stea, kamu benar benar tidak mencariku? Benar benar senang aku menghilang? “Mungkin dia merasa bebas jika aku tidak ada, dia tidak akan punya beban lagi, aku juga tidak tega melihatnya seperti itu…”. Inka menutup wajahnya ketika tiba tiba ingatannya kembali ke beberapa bulan yang lalu, reaksi syok Stea ketika baru sadar setelah transplantasi ginjal. Saat itu dia mendapatkan hasil dari apa yang diinginkannya selama tiga tahun, namun bersamaan dengan itu penderitaanya juga dimulai.

Siwon mengucak rambut Inka, entah kenapa dia juga sedih melihat gadis ini sedih, rasanya seperti mengobrol dengan teman lama. “Kau harus perbaiki hubunganmu dengan dia, ada orang yang telah berkorban untuk kalian, itu adalah sebuah keberuntungan…”. Dia juga ingin memiliki keberuntungan seperti itu. “Jangan sampai kau menyesal hanya karena hal bodoh…”

Inka berbalik, memunggungi Siwon, mengusap matanya yang basah, apa sih yang dia lakukan, menangis di depan orang asing. Di depan Stea saja dia tidak pernah menangis…

“Aku hanya tidak ingin melihatnya tersiksa…”

“Berpisah denganmu pasti akan membuatnya lebih tersiksa, walaupun dia tersiksa sekarang setidaknya itu akan sedikit berkurang kalau kau ada di sampingnya…”. Siwon juga tidak tahu kenapa bisa bicara seperti itu seperti hubungannya adalah yang paling sempurna di dunia. Teori saja. “Maaf aku jadi lancang menasehatimu seperti ini…” Dia membuang pandangannya ke lumba lumba yang berkejaran mengikuti arus kapal dan buru buru memotretnya.

“Kau ini seperti Mamaku saja, menasihati ini itu…” Inka tertawa, “Oh lumba lumba…” Dia menunjuk ke air. Lumba lumba itu refleks membawa ingatannya ke Lombok, pantainya yang indah, di mana dia dan Stea pernah bersenang senang. Orang Korea ini benar, akan lebih mudah jika mereka hadapi bersama, bukan malah memisahkan diri. Hatinya mulai sedikit longgar...

“Berjanjilah kau dan kekasihmu akan segera berbaikan, lalu kembalilah ke sini bersamanya…” Kali ini Siwon berhasil mengambil foto Inka. Inka memberengut.

“Ya, kau masih akan tinggal lama di Amerika? Kita buat double date nanti…” canda Inka, kali ini dia malah bergaya dan tersenyum manis, masa bodohlah.

Siwon termenung sejenak lalu tertawa sinis, “Ya  aku akan segera mencari kekasih..”

“Kalau aku berbaikan dengan pacarku, kenapa kau tidak melakukannya juga?” Dia meninju lengan Siwon pelan.

“Dia orang yang sulit, dia akan segera berganti nama dan tidak mengingatku lagi..” Siwon mengusap rambutnya yang juga berantakan oleh angin, sial, dia lupa membawa topi. “ Cita citanya akan tercapai dan aku juga tidak dia butuhkan lagi…” . Dia yang mendampinginya selama hampir empat tahun ini, menerimanya apa adanya walaupun mereka jelas jelas sangat berbeda. Kalau bukan karena Yi Hyun dia juga tidak akan tahu bagaimana orang miskin hidup, sekarang sepertinya memang harus sudah berakhir, sudah mulai membosankan.

“Jauh jauh aku ke sini, ternyata malah menemukan orang galau juga…” yah nasib mereka hampir sama, resah dengan cinta yang membelenggu.

“Aku tidak bisa terus membela orang yang melakukan hal yang salah…”

“Sekalipun kau sangat mencintainya?”

“Aku akan mencoba hidup tanpa dia…”

“Kau tidak takut akan berakhir seperti aku…” Mencoba pergi namun nyatanya itu sulit untuk dilakukan. Tiga tahun persahabatannya dengan Stea tidak mudah untuk dilupakan, terlanjur terlalu banyak hal yang telah terekam. Dan saat mereka telah menjadi kekasih, sangat sulit untuk pergi. “Aku mau ke toilet dulu, titip tasku ya…” Inka melepas tas selempangnya dan meletakkannya di dekapan Siwon sebelum dia menjawabnya.

Sampai semenit kemudian Siwon merasa membeku. Dia dan Yi Hyun sudah bersama sangat lama, mampukah mereka hidup terpisah? Yi Hyun yang berjuang keras dari nol, tegakah dia menghancurkannya? Gadis dengan mimpi setinggi bintang yang telah menyadarkannya bahwa dia juga harus punya mimpi yang harus diraih. Dia datang ke Amerika hanya karena muak dengan adiknya, tanpa tujuan apapun. Pertama kali dia menemukan Yi Hyun pingsan di depan rumahnya karena lelah berjalan kaki karena kehabisan uang. Setelah sadar yang diingatnya pertama kali adalah sekolahnya, dia ada ujian dan langsung meloncat pergi, tidak boleh terlambat. Sejak saat itu hubungan mereka dimulai,  Yi Hyun banyak mengajarkannya tentang arti kehidupan. Memberitahunya bahwa dia tidak boleh kalah pada badai sekalipun, mendorongnya agar menjadi manusia hebat.

Dadanya seperti ditusuk tusuk, tegakah dia membiarkan Yi Hyun berjuang sendirian? Haruskah dia merelakan orang yang sangat dia cintai hanya karena masalah seperti ini? Selama ini apapun masalahnya mereka hadapi bersama…

Siwon menatap tajam tas berwarna merah di pelukannya. Mungkin ini memang jalannya, gadis itu mungkin yang dikirim Tuhan agar dia bisa mengambil keputusan yang benar. Ini adalah takdir, ya dia tahu inilah jalan permainannya, sudah ditunjukkan dengan sangat jelas. Tangannya bergerak cepat membuka resleting tas Inka sambil memejamkan mata. Tubuhnya merasa seperti dilolosi ketika melihat sebuah buku tebal, The Three Musketeers , hilang, lemas. Buku itu terlihat jelas di bawah penerangan lampu kapal yang beberapa meter jauhnya dari tempatnya berdiri.

Siwon menemukannya, kertas itu, masih terselip di sana.  Tangannya bergetar ketika menyentuh kertas itu. Dia buru buru mengambilnya dan memasukkannya ke saku. Pertemuan ini seperti sebuah kutukan baginya. Yah inilah jalannya, dia harus melindungi Yi Hyun.

“Terimakasih…” Inka mengambil kembali tasnya dari tangan Siwon, tepat ketika Siwon menarik resletingnya sampai di ujung, tertutup dengan sempurna.

Siwon hanya mengangguk kecil. Inka menyodorkan kopi padanya, sempat sempatnya dia mengambilnya. “Ada lumba lumba lagi…”

“Baiklah…” Siwon memasukkan tangannya ke saku jaket, “ Berjanjilah kau akan kembali ke sini dan kita buat double date…”. Seo Yi Hyun, marilah kita hadapi ini bersama sama, kita berjuang bersama sampai mati. Siwon mengacungkan kelingkingnya, Inka tersenyum dan mengaitkan kelingking mereka.

“Kau akan mendukungnya?”

“Kau benar dia pasti punya alasan melakukan itu, yang perlu aku lakukan sekarang adalah menjaganya…” berjalan bersama di sampingnya. Setelah ini dia akan ke asrama Yi Hyun dan membuatnya menangis bahagia.

“Aku juga akan minta maaf pada Stea…” Inka akan menysulnya ke Lombok dan akan menjadi pacar terbaik untuknya. Ini adalah takdir untuk hubungan mereka, walaupun awalnya sulit, tapi pasti bisa jika mereka menjalaninya bersama sama.

Mereka berdua sama sama tersenyum, lalu diam terbawa pikiran masing masing. Menyerap banyak banyak angin laut yang dingin untuk sedikit merilekskan pikiran dan hati. Perahu makin melaju mendekati pelabuhan, tiang Golden Gate yang kokoh juga tampak tertinggal. Air yang keemasan mulai menghitam karena matahari telah benar benar tenggelam, San Fransisco sudah benar benar memulai kehidupan malamnya. Udara makin menusuk, namun mereka masih betah berdiri di dek. Dalam pertemuan yang singkat, dua anak manusia telah menemukan kedamaian.

“Selamat tinggal Golden Gate…, terimakasih…”kata Inka dalam hati.

“Aku pasti akan kemari lagi…” Siwon berjanji dalam hatinya, dalam senja yang lebih indah.

**

Inka sibuk menjilati es krim yang dibelinya, dua sekaligus, tiramisu di tangan kiri dan vanilla di tangan kanan, bibirnya sampai belepotan. Siwon juga membawa sebuah es krim coklat.

“Oh, itu busku sudah datang, aku harus pergi sekarang…” Siwon menunjuk bus yang akan segera membawanya kembali ke Apartemennya. Sebetulnya masih banyak yang bisa dilihat di San Fransisco, tapi hari sudah larut dan mereka harus pulang. Mereka kembali dari Golen Gate naik kereta bersama dan sekarang harus naik bus masing masing. “Senang bertemu denganmu hari ini…”

“Aku juga senang tidak sendirian jalan jalan di Golden Gate..terimakasih, oh apa bahasa Korenya, kamsahamnida…” Inka membungkukkan kepala, seperti yang sering dilihatnya di drama  jika orang Korea mengucapkan terimakasih. Kamsahamnida siapa ? ”Siapa namamu?” . Rasanya Inka ingin tertawa keras keras, mereka mengobrol seperti teman lama, tapi bahkan belum menyebutkan nama.

“Aku Inka, namamu siapa? Ya ampun kita belum berkenalan…”

“Aku Choi Siwon, daaa…” Siwon melambaikan tangannya, kalau tidak cepat cepat dia bisa tertinggal bus. Satu kakinya meloncat ke bus, disusul satu kakinya lagi. Dia melambaikan tangannya lagi ke Inka yang kini jarak mereka kini dua puluh meter, lalu makin jauh, jauh dan hilang sama sekali. Mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi, kutukan ini telah berakhir. Siwon merasakan dadanya sangat lega…

Inka masih melambaikan tangannya, “Choi Siwon…” gumamnya pelan. Dia akan mengingatnya, orang yang baik. Mungkin mereka tidak akan bertemu lagi, pertemuan dan obrolan singkat, curhat pada orang asing, namun mampu membuatnya benar benar lega. Dia merapatkan syal dan jaketnya, bersiap untuk kembali ke hotel . Dia sudah tidak sabar untuk pulang ke Indonesia, bertemu dengan pacarnya tercinta…

Kakinya yang baru memulai dua langkah terhenti karena dia merasa menginjak sesuatu. Dia membungkuk dan memungutnya, melongok ke arah bus Siwon, namun sudah benar benar hilang jauh. Mungkin Choi Siwon menjatuhkannya, dia menggenggam erat benda itu dan berlari kecil mendekati busnya yang sudah datang.

Benda itu sebuah kalung berbandul potongan Yin dan Yang berwarna putih, Yang…

Yin dan Yang, Soulmate…

Yang.

Mate.


END

Huaaaa gajeeee *malu…terimaksih ya kalau ada yang membaca cerita gaje ini J
Soul dan Mate bukan twoshoot ya, tapi dua oneshoot yang sebetulnya masih nyambung..bingung kan? Aku juga hahaha *evil.

HAPPY CHOI SIWON DAY
HAPPY 29TH CHOI SIWON
HAPPY BIRTHDAY CHOI SIWON, SAENGIL CHUKAE HAMNIDA…
Happy birthday captain…
Terima kasih telah memberi inspirasi bagi jutaan elf…
Memberiku banyak inspirasi untuk menulis…
Semoga sehat dan sukses selalu…
SARANGEOO…..



1 komentar: