Minggu, 24 Agustus 2014

TRUTH, OR DEATH ? PART 18



TRUTH OR DEATH?

  PART 18



A Fanfiction By Septi Titanika

Cast :
·         Wu Yi Fan aka Kris
·         Kim Myung Soo (INFINITE)
·         Cho Ha Ra (OC)
·         Im Min Ji (OC)

Other Cast :
·         Kim Jong In (EXO)
·         Jung Dae Hyun (BAP)
·         Kim Jong Dae (EXO)
·         Oh Ha Young (A PINK)
·         Xi Luhan (EXO)

Genre : Romance, Sad, Married Life, Mistery

Rated : PG 15

Length : Chaptered/ 6172 words

Cover By Admin Mouse Cover Fanfiction

The Story is mine, idenya dari otak saya, saya masih sangat amatiran, apabila ada kesamaan itu hanya kebetulan belaka. Semua Tokoh di FF ini adalah milik keluarga, Tuhan, agensi dan fansnya, OC nya milik saya. Awas typo merajalela, EYD tidak benar, Don’t bash , don’t plagiat and happy reading ^-^

***

“Hyo Sun – ah Imo tahu kau main di depan pintu, ayo masuk jangan main air…” Ha Ra melongok ke pintu depan, Hyo Sun menjulurkan tangannya panjang panjang, mencoba menerima air hujan. “Hyo Sun – ah cepat kemari…”

Hyo Sun berlari lari mendekat, tangannya basah. Ha Ra ingin mengomelinya tapi tidak bisa, dia anak Kris. Fakta itu sudah membuatnya ingin menangis, bagaimana dia bisa marah ? Dia mengambil tisu dan mengusap tangan bocah itu.

“Imo sedang memasak, ya?” Hyo Sun berjinjit, mencoba melihat apa yang ada diatas kompor. “Eommaku tidak pernah memasak…” dia menundukkan kepalanya. Soo Ra selalu membawa bekal buatan Ibunya.

“Eommaku tidak akan mati kan, Imo?” tanya Hyo Sun lirih, tadi dia sempat mendengar dokter mengucapkan kata mati, meninggal dan kritis. Dokter dan suster mengerumuninya, dia ingin melihat tapi tidak boleh.

Ha Ra berjongkok dan memeluk Hyo Sun, membenamkan dagu di pundak kecilnya. Min Ji terlalu pintar merajuk pada Tuhan. Dia berhasil membuat Tuhan iba, membuat pertahanan Ha Ra runtuh. Dia telah memohon secara halus – namun licik , agar suaminya dikembalikan. Ha Ra akan memberikannya, cepat atau lambat dia juga akan kehilangan Kris, jadi dia harus membiasakannya mulai sekarang. Kalau Kris tidak mati di pelukannya mungkin rasanya tidak akan terlalu sakit. Biarlah dia kembali ke tempatnya yang benar.

Tapi Kris tidak mengingat apapun, bagaimana menjelaskannya?

“Imo kenapa menangis?” tanya Hyo Sun takut takut, dia mundur lupa bahwa Ha Ra sempat marah padanya. Ketika perhatian semua orang terpusat pada Ibunya, Ha Ra langsung membawanya pulang. “Imo masih sakit?” Hyo Sun menempelkan tangannya di kening Ha Ra.

“Eommamu tidak apa apa sayang…” Ha Ra tersenyum lebar, senyum palsu. “Kau lapar kan? duduk di sini, ayo makan” Dia menggendong Hyo Sun dan mendudukkannya di kursi makan. Tadi pagi Ibunya memasak ayam goreng yang tidak Kris suka, dia tinggal menghangatkannya. Min Ji pasti tahu Kris tidak suka ayam goreng.

 “Makan yang banyak agar kau cepat besar…” Ha Ra mendorong piring berisi nasi ke depan Hyo Sun. Anak itu langsung makan dengan lahap, dua butir nasi menempel di bibirnya.

Ha Ra trenyuh memperhatikan Hyo Sun makan dengan lahap. Anak sekecil dia sudah terombang ambing dalam takdir hidup yang kejam. Dia mengusap nasi di bibirnya. Appamu ada di sini, Appamu menyayangimu, kau tidak akan diejek lagi karena tidak punya Appa. Kau punya orang tua yang lengkap. Hyo Sun – ah, aku akan memberikan semua waktuku untuk kau habiskan bersama Appamu.

“Imo minum…” Hyo Sun menggigit ayamnya.

Ha Ra mendorong air putih dan beranjak membuat teh untuk dirinya sendiri. Dia perpegangan pada sisi pantry, kepalanya benar benar pening. Tangannya meraba raba mencari teh – mungkin bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan – namun tidak menemukannya. Yang ada hanya teh herbal mahal yang baru saja dibeli Ibunya. Air panas mengenai tangannya ketika dia menyeduhnya.

“Itu apa Imo?” Hyo Sun menunjuk cangkir teh Ha Ra.

“Teh, kau mau?” Ha Ra memijit keningnya. Hyo Sun mengangguk dan menyesap itu, dia melet melet, tidak enak. Hey, bukankah itu teh yang sama dengan yang dibuangnya di tempat sampah? Mendadak dia ingat Paman jahat yang juga membawa teh yang sama. Appa Myung Soo juga membawa teh seperti itu di rumah samchon Dae Hyun.

“Imo, ini teh Paman jahat…” celetuk Hyo Sun.


Ha Ra mengangkat wajahnya dan menatap Hyo Sun meminta pengulangan. Hyo Sun turun dari kursi dan mendekatkan bibirnya ke telinga Ha Ra. Di film petualangan yang sering dilihatnya begitu caranya berbagi rahasia.

“Imo, aku pernah lihat Paman jahat membuka tas Nenek… ” kata Hyo Sun cepat. “Appa Myung Soo juga pelnah minum teh sepelti ini, camcon Dae Hyun juga…”

Mata Ha Ra melebar, “Kau bicara apa Hyo Sun – ah?” teh seperti itu dijual secara bebas, jadi siapapun bisa meminumnya. “Coba ceritakan pada Imo, Paman siapa?” tandasnya.

Hyo Sun menggeleng, “ Nappaeun Samchon…”

“Kau ini terlalu banyak menonton film petulangan…” Ha Ra menghela nafas,  “Sudah habiskan makananmu…” Ha Ra mulai membereskan meja sambil mengawasi Hyo Sun, anak sekecil dia belum bisa mengarang.

Sesuatu seperti menyambar kepalanya ketika dia mencuci tangan Hyo Sun setelah selesai makan, tubuhnya seperti disengat listrik. Teh, Myung Soo, teh … malam itu…

 “Hyo Sun – ah, kau bilang apa? Ada yang membuka tas Nenek?” otaknya memproses sebah kemungkinan. Yang dia minum bukan teh yang dibeli Ibunya, tapi teh lain yang sudah dicampur dengan entah apa itu yang membuatnya seperti mabuk.

Hyo Sun berpikir beberapa saat kemudian mengangguk.

Ha Ra memukul meja, keparat kau Kim Myung Soo. Jadi malam itu mereka dikendalikan? Ada yang sengaja melakukannya, ada yang memanfaatkan keadaan Kris dan menjadikan Ha Ra korban. Membunuh dua lalat dengan sekali sabet. Dia paham Kris dan Ha Ra luar dalam sampai ke ujung kuku. Tangan Ha Ra terkepal keras hingga buku buku jarinya memutih, licik kau Kim Myung Soo.  Ha Ra tersenyum getir, bukan licik tapi luar biasa cerdas.

Membunuh Ha Ra dan Kris secara bersamaan dengan tangan Kris, menjauhkan Mi Ji darinya, dia menonton dari jauh sambil bertepuk tangan. Bahaya ternyata sudah mengepung mereka dari segala arah. Dia, Kris, Min Ji, Hyo Sun, semuanya. Myung Soo sudah membuktikannya bahwa dia bisa melakukannya dalam sekali tepuk.

Ha Ra berjalan terhuyung ke kursi makan, sekarang semua yang ada di depannya berputar. Malam itu untuk pertama kalinya dia mengucapkan cinta pada Kris dan Kris membalasnya dengan sesuatu yang lebih dari itu, sangat besar. Ha Ra merasa langit diruntuhkan di atas kepalanya, lalu malam itu apa? Dia hanya berhalusinasi karena pengaruh obat? Semua yang terjadi di bawah pengaruh obat. Obat yang mendorong mereka, bukan nurani.

Obat Cho Ha Ra, bukan nurani, kau dikerjai.

Ha Ra menekan dadanya menahan sakit, dia masih bisa mengingat dengan jelas semuanya tanpa cela. Itu semua tidak ada artinya sekarang. Dia menelungkupkan wajahnya di meja, menangis terisak isak diiringi pandangan tidak mengerti dari Hyo Sun.

Kim Myung Soo keparat kau.

***

BRUK…

Punggung Myung Soo membentur tembok, dia berusaha bangun, namun sekali lagi krah kemejanya dicengkeram oleh Jong In dan sekali lagi bogem mentah mengenai hidungnya hingga berdarah. Sebelum dia berhasil bangun Jong In sudah mendorongnya ke tembok lagi. Tidak ada gunanya dia melawan, dia yang salah.

“Kalau terjadi sesuatu dengan Min Ji aku tidak akan segan untuk mematahkan lehermu…” gigi Jong In bergemeletuk menahan amarah. “Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Min Ji lagi…” kali ini dia mendesis, nafasnya naik turun dengan cepat. Baju dan rambutnya yang tadi klimis tampak berantakan.

Keadaan Min Ji memburuk, detak jantungnya bahkan sempat hilang. Sekarang tim dokter sedang menanganinya. Dua orang suster memperhatikan mereka dari ujung lorong tapi tidak berani mendekat, apalagi melerai.

“Kau bukan suami Min Ji, aku akan melaporkanmu ke polisi atas kasus penculikan” Jong In menunjuk Myung Soo, tepat di hidungnya. “Aku akan mencari tahu siapa kau sebenarnya…” ancam Jong In.

Myung Soo bangun, berpegangan pada tembok sambil mengusap hidungnya dengan ujung lengan kemeja putihnya. “Kim Jong In – ssi, kau salah paham aku bisa menjelaskan semuanya padamu…” tidak mungkin mengatakan bahwa sebenarnya semua yang dilakukannya adalah untuk melindungi Min Ji.

“Aku sudah menyediakan dokter terbaik untuknya di rumah, aku benar benar serius akan menjaganya….”

“Aku bersumpah akan memasukkanmu ke penjara…” kepalan tangan Jong In mengambang di udara, sebelum emosinya kembali naik dia berbalik pergi. Myung Soo menedang tembok, sial.

***

“Dokter Kang bagaimana dia?” Kris melongok melewati bahu dokter Kang Ji Young, Min Ji masih dalam masa kritisnya. Ada rasa perih yang menusuk nusuk ulu hatinya – apakah itu sebuah telepati? Telepatinya dengan Ha Ra yang sudah terikat saja tidak seperti ini, Apa yang dulu pernah dilakukannya dengan Min Ji hingga rasanya tidak karuan seperti ini?

“Tuan Wu…” dokter Kang menghela nafas pelan, “ Im Min Ji mengalami tekanan yang sangat berat, di fisik dan juga jiwanya. “Namanya juga mulai muncul di media akhir akhir ini, itu sangat tidak baik, dia butuh ketenangan. Kurasa dokter Kim Myung Soo mengakui ini di waktu yang salah ”

Kris memandang Min Ji, bagaimana dia bisa membantunya? Min Ji punya suami sementara dia punya istri. Dia mengangguk ketika dokter Kang berpamitan dan pergi. Kris meraih tangan Min Ji, menggenggamnya, dia mengaduh, sakit di ulu hatinya makin menusuk. Dia memaksa otaknya mengingat apa yang terjadi bertahun tahun lalu, namun otaknya sudah lebih parah dari orang pikun.

Kris berjalan keluar, mengeluarkan ponselnya, dia ingin menelfon Ha Ra tapi SMS darinya sudah lebih dulu masuk. Dia menyuruhnya beristirahat di rumah sakit saja, siapa tahu Min Ji lebih membutuhkannya dan juga berpesan tidak usah mengkhawatirkan Hyo Sun karena sudah bersamanya. Dia melangkah ragu pulang atau tetap menemani Min Ji, Ha Ra juga sedang sakit.

“Kris Wu – ssi…” dokter Shim tersenyum lebar seperti biasanya sambil  menyembunyikan tangannya ke belakang punggung. Tadi dia membawa amplop yang dijepit di bawah ketiak “Kau sibuk? Ada yang ingin kubicarakan denganmu…”

Aniyo…” Kris mengangguk dan berjalan beriringan dengan langkah panjang dokter Shim.

Dokter Shim menutup pintu di belakangnya dan menyuruh Kris duduk, “Apa kau mau minum teh?” tanpa menunggu jawaban dia menyeduh dua gelas teh panas dengan gula rendah kalori seperti biasanya. Dia mendorong cangkir teh ke depan Kris dengan kikuk, cangkir itu bergetar hingga isinya sedikit tumpah mengotori di meja.

“Apa ada sesuatu yang penting?” Kris mencoba melihat ke belakang punggung dokter Shim, dia meletakkan kertasnya di atas dispenser sementara menyeduh teh. Kalau hanya soal kesehatannya itu sudah tidak terlalu penting.

Dokter jangkung itu mengusap tengkuknya, dan meletakkan tubuhnya di samping Kris. Kertas itu sudah ada di tangannya namun dia malah menjejalkannya ke saku. “Aku tidak tahu harus mengatakannya atau tidak padamu…” katanya dengan nada sungkan.

“Apa itu? apa ada keajaiban virus itu hilang dari tubuhku?” Kris terkekeh lalu meneguk tehnya.

“Ini bukan tentangmu, aku mendapatkan ini dari dokter Choi, dia menyuruhku menyampaikan ini padamu, istrimu…” dokter Shim menghela nafas panjang, “ hamil, Cho Ha Ra, dia hamil empat minggu…” Dokter Shim menepuk nepuk pahanya, seperti anak kecil yang mengatakan kalau dia baru saja makan sesuatu yang dilarang.

UHUK... teh itu sukses menyembur dari mulut Kris, mengotori meja dan kemejanya, dia batuk batuk untuk beberapa lama. Dokter Shim menepuk punggungnya, saking bingungnya, dia menyuruh Kris minum lagi dan Kris tersedak lagi.

Kris merebut kertas itu dari tangan dokter Shim, dokter Shim menariknya kembali, mereka berebut seperti anak TK. Kris menyobek amplopnya dengan mata melebar, dia tidak sabar menelusuri tulisan dan angka yang tidak dia mengerti hingga pada akhirnya sampai pada kesimpulan yang terakhir. Kris setengah meremas kertas itu dan menyangga keningnya dengan tangan, pening. Matilah kau Kris Wu, mati saja sekarang. Astaga, apa salahnya hingga hukumannya seberat ini?

“Pikirkan dengan kepala dingin…” dokter Shim lagi lagi menepuk pundaknya. “Ini adalah sebuah keajaiban Tuhan, kita tidak pernah tahu dengan apa yang Tuhan rencanakan. Kita sudah mencegahnya dengan segala cara, aku iri padamu, kau masih sangat hebat” dokter Shim menepuk nepuk pundaknya, “Kau benar benar menikmati tiga bulan terakhirmu rupanya…”

Kris menyandarkan tubuhnya di sofa, tubuhnya lemas. Tuhan terlalu sayang atau terlalu jijik padanya? Suami mana yang tidak senang akan jadi Ayah? Keadaannya berbeda, dia tidak akan kuat hidup sampai anaknya lahir. Dan bagaimana jika anak itu nanti… Dia akan punya anak? Kris memukul kepalanya sendiri. Dia akan menanggung dosa setelah mati karena tidak menafkahi anak dan istrinya. Hanya sekali, tapi kenapa akibatnya sefatal ini?

Apa artinya perjanjian yang mereka buat di malam pertama pernikahan?

“Aku harap semuanya akan baik baik saja, kau ingin memberi tahu Ha Ra sendiri, atau biar aku yang melakukannya?” dokter Shim hanya berbasa basi, dia tidak akan mampu melakukannya. Dia putus dari pacarnya setahun lalu dan belum berpacaran lagi, sudah lupa bagaimana caranya menghadapi wanita yang histeris.

“Selamat tuan Wu…” dia menjabat tangan Kris, “Kau dan Ha Ra akan segera menjadi orang tua…” Bukan, bukan mereka, tapi Ha Ra akan segera menjadi orang tua.

Sebelum mati, ternyata Kris harus gila dulu.

***

Ha Ra kembali lagi ke rumah sakit dengan mengebut, tidak peduli dengan ponselnya yang terus berdering dan Ibu yang melarangnya pergi sebelum hujan reda. Kepalanya benar benar pening, namun dia tidak peduli dan hanya mengurangi sedikit kecepatan mobilnya.

Kim Myung Soo sudah kenal Min Ji sejak lama, dia juga kenal Kris sejak lama. Dia ingin merebut Min Ji dari Kris dan sampai sekarang dia masih berusaha melakukannya,  bahkan kini dia ikut menyeretnya ke dalamnya. Min Ji dan Kris berpisah itu juga pasti Myung Soo yang melakukannya entah bagaimana caranya. Min Ji meninggalkan Kris, Kris bunuh diri itu bohong. Itu kesimpulan yang Ha Ra ambil.

Ha Ra memarkirkan mobilnya sembarangan dan berlari masuk, Kris ada bersama Min Ji sekarang, akan lebih mudah bagi Myung Soo untuk melakukan sesuatu pada mereka. Dia harus melindungi mereka – suaminya dan juga istrinya.

Melindungi wanita yang akan mengambil suaminya.

Langkah Ha Ra terhenti, sesuatu seperti menusuk nusuk perutnya. Mungkin karena belum makan sejak semalam. Dia berpegangan pada tembok, rasa menusuk nusuk itu bertambah dengan rasa mual, lagi lagi rasanya seperti dibalik.

“Cho Ha Ra, kau tidak apa apa?” sebuah lengan menyangga tubuhnya, Jong In entah muncul dari mana, “Kau pucat sekali, ayo kau harus diobati…” dia meletakkan tangan Ha Ra di pundaknya dan melingkarkan tangan di pinggangnya, memapahnya.

“Kau lihat Myung Soo?”  Ha Ra mengedarkan matanya ke ujung lorong.

“Aku baru saja memukulinya dan aku akan segera memasukkannya ke penjara, kau tidak usah khawatir. Kris akan tetap bersamamu dan Min Ji akan bersamaku, masalah ini akan segera selesai…” kata Jong In geram.

“Kau, ahh perutku…” Ha Ra mencengkeram perutnya.

“Aku akan jujur padamu bahwa aku mencintai Min Ji, aku sudah merawatnya sejk lama dan aku juga ingin mendapatkan balasan atas jasaku” Jong In memelankan langkahnya karena Ha Ra tampak kepayahan. “Setelah dia sembuh aku akan melamarnya…”

Jika sesimpel yang dipikirkan Jong In maka Ha Ra juga setuju, dia dengan Kris dan Min Ji dengan Jong In, semuanya bahagia. Namun ini sudah menyangkut hidup dan mati dan juga menyangkut kebenaran yang tersembunyi. Dia harus mencari tahu alasan Myung Soo melakukan semua ini entah itu baik atau buruk. Kebenaran itu harus dia kuak, walaupun resikonya dia yang akan hancur.

“Aku akan memperjuangkan Min Ji, apapun yang terjadi…” Jong In mengepalkan tangannya.

“Jika kau bisa bersama Min Ji, bagaimana dengan aku? Ini tidak adil…” Dia akan sendiri. Jikapun semuanya terkuak, tetaplah dia yang akan jadi tumbal.

“Bagaimana kalau kuberikan Hyo Sun padamu?” Jong In mencoba mencairkan suasana.  Dia melihat Kris dan dokter Shim keluar dari lift, dokter Shim menyarukkan paksa sebuah kertas ke dalam saku jasnya. “Cho Ha Ra…” ketika Jong In menoleh, tangan Ha Ra sudah terkulai, semua yang ada di depannya menjadi putih lalu berubah hitam pekat dalam sekejap.

“Cho Ha Ra…” Kris dan dokter Shim memanggilnya bersamaan namun Ha Ra sudah tidak mendengar  apa apa.

***

FLASHBACK

“Im Min Ji kau dimana? Im Min Ji aku di sini…” seorang remaja jangkung membuka pintu ruang kelas, tidak ada siapa siapa. Dia berlari keluar mencari di lapangan basket namun juga tidak ada seorangpun di sana. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku, menelfon namun juga tidak ada jawaban.

“Min Ji – ya…” panggilnya lagi, salju turun cukup deras dan hari ini sekolah dipulangkan lebih cepat karena badai. Min Ji belum pulang juga dari tadi hingga dia berinisiatif mencarinya ke Sekolah. Hari ini dia tidak sekolah karena sakit dan terpaksa harus keluyuran ke sekolah. “Min Ji kau dimana? kau bisa terjebak badai jika tidak segera pulang…” lagi lagi suaranya hanya bergema di lorong lorong kelas yang telah kosong.

Wu Yi Fan menaiki tangga ke lantai dua, Min Ji suka menyendiri di perpustakaan, semoga dia ada di sana. Nafasnya terengah ketika dia menendang pintu hingga menimbulkan suara keras. Dia mendengar suara isakan dari sebuah sudut, kalau biasanya isakan di perpustakaan yang sepi itu menakutkan, kali ini amatlah melegakan.

Yi Fan mencari asal suara itu dan menemukan Min Ji duduk di lantai diantara dua rak tinggi yang penuh buku, meletakkan kepalanya di lututnya yang tertangkup. Dia menyentuh lengannya pelan, Min Ji memukul tangannya, “Pergi kau…” katanya di sela isak tangisnya.

“Ayo pulang kita bisa terjebak badai…” kata Yi Fan lembut, “Ibumu mengkhawatirkanmu…” dia ikut berjongkok di samping sahabatnya itu.

“Ibu tidak peduli padaku, aku tidak ingin melihatnya…” Min Ji mengangkat wajahnya, pipinya basah dan matanya bengkak. “       Jangan sebut sebut Ibuku, pergilah kalau kau hanya ingin membicarakan Ibuku ” dia mendorong Yi Fan.

“Kau harus mendengar penjelasan Ibumu dulu…” suara Yi Fan berubah serak, “Ayahku juga bisa membantu menyelesaikan masalah ini, Jun Su hanya salah paham…” dia mengusap bahunya yang baru saja dipukul oleh Jun Su, perut dan pipinya juga memar, Jun Su tidak salah paham. “Sebentar lagi Jun Su pasti akan minta maaf padamu, Jun Seok juga, ayo kita pulang…”

Min Ji menggelengkan kepalanya kuat kuat. Dia dan Jun Su sudah saling mengenal sejak umur empat tahun, seperti apapun Min Ji mengerjai dan mengoloknya Jun Su belum pernah sekalipun marah. Semenjak ada masalah kecil diantara orang tua mereka sikapnya sedikit berbeda dan kemarin puncaknya. Orang tua mereka muncul di koran dan dia marah besar. Dia bilang Ibu Min Ji telah memfitnah Ayahnya. Ketika Min Ji bertanya pada Ibunya lagi lagi dia mendapat marah. Dia mencoba bertanya baik baik pada Jun Seok, anak itu juga tidak mau bicara.

“Yi Fan – ah…” Min Ji mengusap pipinya dengan punggung tangan dan membetulkan posisi duduknya. “ Tidak benar kan jika Ibuku orang jahat?” dia menatap Yi Fan serius dengan pandangannya yang berkabut.

Yi Fan memaksakan sebuah senyum dan menggeleng. Bohong. Tadi pagi tanpa sengaja dia mendengar pembicaraan Ibu Min Ji dan Ayah Jun Su, mereka adalah buronan Korea yang melarikan diri ke Cina karena terlibat kasus malpraktek di istana Presiden. Sekarang pemerintah Korea dan Cina sudah mulai mencium jejak mereka, cepat atau lambat mereka akan ditangkap.

“Katakan Yi Fan – ah, Ibuku bukan orang jahat, apa yang dikatakan Jun Su itu salah…” Min Ji histeris, air matanya tumpah lagi.

Yi Fan membuka jaket dan menyelimutkannya ke bahu Min Ji, dia mendengar suara guguran salju di luar, udara makin dingin.

“Tenanglah semuanya pasti akan baik baik saja…” Yi Fan memegang kedua bahu Min Ji. Tidak akan ada yang baik setelah ini, Ayahnya bekerja di kejaksaan jadi dia tahu hukuman untuk buronan adalah hukuman mati, dia memejamkan mata – untuk tersangka dan seluruh anggota keluarganya. “Ayahku akan menyelesaikan semuanya…” dia menarik Min Ji ke dalam pelukannya.

“Aku akan melindungimu, percayalah padaku…” Yi Fan mengelus pundak Min Ji pelan, “Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu…”

“Benarkah itu? Janji?” Min Ji menatapnya, dia mengulurkan kelingking, Yi Fan membalas dengan menyentuhkan jempolnya. Dua remaja itu tersenyum dalam bingkai salju. Satu senyum penuh pengharapan dan satu senyum putus asa.

Aku tidak akan melindungimu, sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu…

FLASHBACK END

Min Ji merasa tubuhnya dihempaskan lalu terjatuh di sebuah tempat yang keras. Dia melihat lorong putih panjang yang berakhir dengan sebuah padang bunga luas yang tidak bisa lihat dimana ujungnya. Lalu dia bermimpi melihat Yi Fan, dia bermimpi Yi Fan memeluknya dan menenangkannya yang ketakutan. Rasa dingin di tubuhnya melumer karena pelukannya yang hangat dan belaian tangan besarnya membuatnya merasa aman.

Dia mencari taman bunga itu tapi sudah tidak ada lagi, yang ada di depannya juga putih namun tidak ada bunga, hanya bau antiseptik yang menyengat. Cahaya yang masuk ke matanya juga tidak lagi seputih tadi, sedikit kuning dan membuat matanya pedih, cahaya lampu. Sesuatu menghalangi mulut dan hidungnya, dia meraba raba melepasnya.

Telinganya menangkap suara dengkuran halus di sela sela monopoli bising ventilator, Kim Jong In, kepalanya terkulai dan tangannya ada di perutnya. Min Ji memejamkan mata lagi, yang memeluknya tadi Yi Fan atau Jong In? Di ruangan itu tidak ada siapa siapa selain mereka berdua. Min Ji membetulkan letak masker oksigennya lagi ketika kepala Jong In bergerak dan matanya berkedip kedip. Dia diam saja ketika Jong In bangun dan mengecup keningnya lalu meninggalkannya pergi.

Terimakasih Jong In – ah, terimakasih…

***

Aegy….

Ha Ra menempelkan tangannya di perut dan mengelusnya perlahan. Ada yang sedang tidur di dalam sana, meringkuk di rahimnya yang hangat. Dia masih sangat kecil, masih berupa gumpalan darah – darahnya yang bercampur dengan darah Kris – namun dia pasti akan segera tumbuh menjadi anak yang pintar dan tidak tahu malu seperti Ayahnya. Sembilan tidak delapan bulan ke depan dia akan bermain main di rahim Ha Ra, makan , jungkir balik, menendang nendang dan juga bermain main dengan tali pusar  seperti yang dilihatnya di internet.

Dia akan jadi Ibu.

Dua bulan lalu dia masih seorang reporter yang tidak pernah kencan dan menunggu kekasihnya yang tidak ada kabarnya. Sulit dipercaya hidupnya begitu cepat berubah. Ha Ra menutup mulutnya, takut suster tahu jika dia tertawa sendiri. Dia berkali kali menghela nafas, meyakinkan diri bahwa ini bukanlah mimpi. Dalam pernikahannya dengan Kris dia tidak merencanakan punya anak.

Namun entah kenapa perasaannya begitu ringan setelah semuanya terjadi, apa pengaruh si jabang bayi? Dia sama sekali tidak menyesal dan juga tidak takut. Jika Kris benar benar pergi nanti dia tidak akan sendirian, Tuhan telah mengirimkan duplikatnya. Ternyata Tuhan bukan hanya baik pada Min Ji, tapi juga baik padanya. Ha Ra semakin yakin bahwa keputusannya untuk mengembalikan Kris ke Min Ji itu benar, dia tidak boleh serakah.

Dia patut berterimakasih pada Kim Myung Soo, kalau bukan karena dia anak mereka tidak mungkin ada.

Kim Myung Soo sialan.

“Nyonya Wu, kau tampaknya senang sekali…” suster tersenyum pada Ha Ra. Suster itu sudah terbiasa menghadapi wanita yang hamil jadi bagaimanapun Ha Ra berusaha tidak menimbulkan perhatian dia dengan mudah bisa mengetahuinya. “Selamat ya nyoya Wu, suamimu sangat tampan anakmu juga tidak akan beda jauh darinya…” dia tersenyum senyum sambil terus membereskan meja.

“Apa anak laki laki akan seperti Ayahnya?” tanya Ha Ra antusias. Dia dan Jong  Dae  dulu berangan angan jika mereka menikah maka ingin anak pertama perempuan.

“Tidak juga kadang dia juga mirip Ibunya, kau jangan khawatir nyonya Wu, genmu dan gen suamimu sangat bagus…”suster itu tertawa renyah.

“Kau ini…” Ha Ra mendengus, dia memandang perutnya, kau anak laki laki atau perempuan? Senyumnya menghilang ketika sadar bahwa anaknya otomatis akan jadi adik Hyo Sun. Dia belum memberitahu Hyo Sun dan Ibunya, tidak berani membayangkan reaksi mereka yang pasti akan overdosis.

“Suster…” senyumnya telah benar benar luntur, ada yang mengganjal di pikirannya. Sekarang dia masih minum antibiotik dari dokter Shim dan juga obat obatan herbal, dia tidak tahu itu akan mempengaruhi bayinya atau tidak.

“Ada apa nyonya Wu?” suster itu memandangnya lama karena Ha Ra tidak juga bicara. “Ada yang ingin kau tanyakan? Kalau tidak aku akan keluar untuk mengambilkan vitamin untukmu…”

Ha Ra tergagap, “Tidak apa apa, pergilah saja…”

Setelah Suster muda itu pergi, Ha Ra meraih ponselnya dan membuka internet, mencari jawaban atas pertanyaannya. Suaminya seorang penderita AIDS dan ada kemungkinan virus itu akan masuk ke tubuhnya dan berimbas ke bayinya. Jangan berpikiran buruk Cho Ha Ra, kau sudah minum obat. Dia juga minum obat agar tidak hamil, tapi obat itu ciptaan manusia, bukan Tuhan.

“Kau melihat apa?” Ha Ra tidak sadar jika Kris sudah berdiri di samping ranjangnya. Dia buru buru menyembunyikan ponselnya.

“Tidak apa apa, Eomma menelfon…”

“Menelfon apa, aku melihat kau membuka internet ” dengus Kris sambil mengupas buah yang baru saja dibelinya. “Habiskan, ini bagus untukmu…” dia menyuapkan satu siung jeruk tanpa berani menatap Ha Ra, matanya tertuju ke ujung sepatunya.

Appa…” Ha Ra mempunyai sebuah panggilan baru, jantungnya berdetak cepat ketika menyebut kata Appa.

Kris menoleh dengan cepat, “Cho Ha Ra aku benar benar minta maaf karena terus membebani hidupmu, kau boleh hukum aku apa saja terserah…” katanya putus asa. Hubungan mereka yang awalnya direncanakan tiga bulan akan tersambung hingga puluhan tahun, “Kris, kau benar benar bodoh…”

Grepp… Ha Ra meleburkan dirinya, memeluk Kris. Bukan hanya kau yang bodoh Kris, tapi kita berdua dibodohi oleh Kim Myung Soo.

“Jangan salahkan dirimu aku tidak apa apa, kau jangan khawatir, aku pasti akan merawat anak ini, kita kan sudah menikah dan saling mencintai malah aneh kalau kita tidak punya anak…” Ha Ra tertawa. Hatinya dijatuhi batu, remuk tanpa sisa. Dia harus pura pura bahagia. “Aku ini pekerja keras, tidak akan kesusahan kalau hanya menghidupi seorang anak, tenang saja…” dia mencubit pipi Kris yang pucat.

Kris menatapnya tepat di manik matanya. Ha Ra menarik narik pipinya, hidungnya ketika dia tidak memberikan reaksi apa apa. “Pakai krim matamu, jangan sampai anakku lari terbirit birit karena mengira kau hantu…”

Suara Ha Ra yang ceria malah membuat Kris ingin menangis.

“Kau mendadak bisu ya?” Ayo Cho Ha Ra teruslah pura pura kau baik baik saja, sempurnakan aktingmu. “Aku tidak suka melihat rambutmu seperti ini…” dia membetulkan poni Kris yang berantakan. “Aku lebih suka keningmu terlihat…” dia melepas ikat rambutnya dan sedikit menengadahkan kepala mengikat rambut Kris.

Mereka begitu dekat, dia bisa merasakan bau obat yang menusuk. Dia bisa melihat mata Kris basah.

“Aku baik baik saja, kau harus percaya padaku…” Ha Ra menangkupkan tangannya di kedua pipi kurus Kris. “Aku punya permintaan, bisakah kau menurut padaku? Maukah kau menuruti semua yang kukatakan?”

Air mata Kris benar benar melelah. Dosanya pada Ha Ra benar benar tidak bisa diampuni. Dia bahkan tidak bisa berbuat apa apa ketika Ha Ra menciumnya, tenang dan lembut hingga wajah mereka tak lagi berjarak. Dan dia juga hanya bisa pasrah ketika Ha Ra menyatukan tangan mereka di perutnya, merasakan sebuah nyawa baru di sana.

Ini ciumanku yang terakhir Yi Fan Oppa untuk tanda perpisahan kita, saksinya anak kita, biar dia tahu dia juga punya Ayah dan Ibu yang saling mencintai dan amat menyayanginya…

Suster menutup pintu sepelan mungkin namun tetap menimbulkan suara. Pipinya bersemu merah, dia mengganggu.

“Ada apa, Suster?” Kris menoleh, berusaha bersikap biasa saja.

Suster itu mengangguk, “ Maaf Tuan Wu, dokter Kang Ji Young menyuruhku memberi tahu anda bahwa nona Im Min Ji telah sadar…”  dan buru buru pergi. Ha Ra menghela nafas panjang.

***

“Selamat siang tuan Kim Myung Soo, aku kepala Polisi Park Jung Soo dari kepolisian Seoul…” Kepala Polisi Park menunjukkan tanda pengenalnya. Dia menghadang langkah Myung Soo yang terburu. “Kau harus ikut aku ke kantor polisi, aku membawa surat perintah” dia mengeluarkan kertas berkop kepolisian.

Myung Soo menganggukkan kepalanya. “Maaf, aku sedang sibuk sekarang” Min Ji baru saja sadar dan dia harus melihatnya. Kepala Polisi Park tidak sendiri, dia dikawal Jung Dae Hyun di belakangnya. Myung Soo tidak akan bisa lari kemana mana.

“Kau harus ikut kami sekarang, kau hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan saja berkaitan dengan penangkapan dokter Joon”

“Aku pasti akan ikut, tapi tidak sekarang, ada urusan yang harus kuselesaikan” Myung Soo sudah gatal untuk segera berlari.

“Tapi kau harus datang ke kepolisian sekarang Tuan Kim Myung Soo…” Dae Hyun menambahkan, “Kau tidak memenuhi panggilan kami kemarin, jadi kau harus datang sekarang. Kami membawa surat perintah resmi atau kau akan dihukum dengan pasal lain terkait usaha melarikan diri ” katanya sopan.

Ck… Myung Soo berdecak, kalau tidak ditempat umum dia pasti sudah berlari dan memukul kedua orang yang menghalangi jalannya itu. Dia terpaksa menurut dengan berat hati, sesekali dia menoleh ke lift, dia hanya perlu masuk ke sana dan akan melihat Min Ji. Dia harus memastikan apa yang terjadi pada Min Ji setelah dia sadar, makin baik atau makin buruk.

“Kepala polisi Park apa kabar?” Mereka bertemu Kris dan Ha Ra di depan ruang dokter.

Annyeong…” Ha Ra ikut menyapa.

“Oh, kalian ada di sini? Apa kau sakit atau nyonya Wu sedang sakit?” Kepala Polisi Park memandang Ha Ra yang bersendal jepit dan memakai piyama rumah sakit.

“Tida apa apa aku hanya flu saja dan agak parah…” Ha Ra mengeratkan gandengannya di lengan Kris, refleks ketika melihat Myung Soo. “Kami harus menengok seseorang juga…” dia melanjutkan.

“Lain kali kita minum bersama Detekfit Wu, kami harus kembali ke Kantor Polisi sekarang…”  Kepala Polisi Park mencekal tangan Myung Soo yang ada di belakang punggung.

“Maaf, kami pinjam dia sebentar” Dae Hyun juga melakukan hal yang sama dengan kepala polisi Park, dia juga membawa borgol dalam tasnya.

Polisi juga akan membantu mereka, Ha Ra bisa merasa sedikit lega. Dendam apa yang sebenarnya menghuni hati Myung Soo?

***

“Nona Im, setelah sempat kritis keadaanmu jauh lebih baik sekarang, mungkin kemarin Tuhan sedang mengangkat penyakitmu, tekanan darahmu juga normal, jangan pikirkan apa apa ya, kalau kau menurut padaku, aku akan mengizinkanmu bangun besok…” Dokter Kang tersenyum lebar sambil mengalungkan stetoskop ke lehernya.

Min Ji mengangguk, masker oksigennya sudah dilepas jadi dia bisa bernafas dengan lega. Tubuhnya terasa lebih ringan dan pandangannya juga jernih, sakit di otot ototnya juga tidak begitu terasa. Hanya sebuah pelukan tapi efeknya luar biasa, dia butuh Yi Fan untuk sembuh, andai saja bisa….

Ah, tiba tiba dia merindukan Hyo Sun, dibawa siapa anak itu sekarang?

“Oh, tuan Wu, kau sudah sampai?” Dokter Kang menyambut Kris dan Ha Ra dengan ramah. “Apa kalian bersama dokter Kim? aku juga menyuruh suster memanggilnya ” dia menengok ke ruang kosong di belakang Kris. “Lihatlah, nona Im hanya ingin menakut nakuti kita, dia pulih lebih cepat…”

Mata Ha Ra bertemu dengan mata Min Ji, Ha Ra buru buru melepaskan tangannya dari tangan Kris dan menunduk. Dia merasa seluruh tubuhnya disiram air es, dingin membeku.

“Sebenarnya Kim Myung Soo…” Jika Ha Ra mengatakannya mungkin Min Ji akan lebih merasa aman dan dia bisa bergerak bebas. Kris menutup mulutnya, jangan katakan. Ha Ra menggigit tangannya, Kris memelototinya.

“Maaf, tapi sebetulnya Kim Myung Soo tidak ada di sini, dia pergi bersama dua orang Polisi, biar kami saja yang menjaga Min Ji sampai Myung Soo kembali” Ha Ra mendekati ranjang Min Ji dan bersikap layaknya seorang sahabat lama. “Min Ji Eonni aku senang melihatmu sudah sadar, Hyo Sun mencemaskanmu…”

“Kalau begitu aku pamit dulu Tuan Wu, Nona Cho…” Dokter Kang meninggalkan mereka berdua, Ha Ra segera mengambil kendali, menguatkan hati.

“Min Ji Eonni apa kau sudah merasa baikan, apa kau mau makan? Kau mau buah, aku akan mengupaskannya untukmu…” Ha Ra memilih milih buah di atas meja. Kris menyeretnya ke sudut ruangan dan berbicara dengan sedikit berbisik.

“Kenapa kau mengatakannya? Dia bisa syok jika tahu Myung Soo ada di kantor polisi…”

Ha Ra menghela nafas, “Kau sudah berjanji akan menurut padaku Kris. Kau masih membicarakan Myung Soo? Kau benar benar tidak peka, apa kau tidak bisa lihat Myung Soo dan Min Ji sudah berpisah dan sekarang Myung Soo dengan seenaknya mencoba mengambil Min Ji lagi, Min Ji sangat tersiksa. Dia lebih nyaman denganmu sekalipun kau hanya mantan kekasihnya. Cobalah bersikap lembut padanya…”

Kris tercengeng, Ha Ra tidak sedang mengigau kan? “Kau memintaku untuk lebih peduli pada istri orang daripada istriku sendiri?”

“Oppa… yang terpenting sekarang adalah Min Ji sembuh dan itu artinya kita harus menjauhkannya dari orang yang membuatnya tertekan…” Ha Ra mencengkeram ujung piamanya, kuat Cho Ha Ra, kau bisa. “Aku perempuan, perasaanku lebih peka, aku paham sekarang, Min Ji sempat beberapa kali minta tolong padaku ”

Kris baru akan membuka mulut ketika terdengar suara ranjang dipukul pukul, panggilan dari Min Ji.

 “Maaf Eonni kami membuatmu menunggu, oh ya ampun, aku lupa aku akan mengupaskan buah untukmu, tidak apa apa kan orang yang baru sadar makan buah?” Ha Ra menarik kursi dan mendorong Kris duduk di sana. “Buah juga baik untukmu, duduklah,  harusnya kita mengajak Hyo Sun kesini tadi…”

Rasa damai itu tiba tiba datang lagi, membuat Kris terpaku, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari mata bengkak Min Ji. Rasanya seperti menemukan kembali dongeng sebelum tidur yang sudah lama tidak dia dengar. Dongeng tentang kebaikan yang sesulit apapun pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan yang mengalir dari mulut Ibunya. Seperti menemukan harta karun lama yang terpendam, walaupun sederhana tapi amat menyenangkan. Kenapa jantungnya tiba tiba berdetak tidak karuan? Apa virus itu sedang menghancurkannya?

Ha Ra membuang muka ketika pada akhirnya Kris memeluk Min Ji seperti kemarin, menyalurkan semua rasa hangat yang dia punya.

Ha Ra menempelkan tangannya di bibir ketika Min Ji menatapnya dengan mata basah, sstt…

***

Min Ji – ya… aku mohon jangan libatkan Jun Seok karena aku akan dipenjara, aku akan menanggungnya, tidak apa apa jika kau tidak bisa memaafkan kami, tolong jangan sebut namanya, aku akan segera menyuruhnya pergi keluar negeri…

 Min Ji meremas remas kertas putih di pangkuannya. Tinggal mengatakannya pada Ha Ra dan mereka semua akan tertolong. Jun Su sudah melindunginya sejak umur empat tahun, tegakah dia membiarkannya dipenjara? Min Ji masih merasakan kakinya meremang karena laki laki itu bersujud di sana tadi. Memohon dengan amat sangat agar adiknya tidak perlu dilibatkan. Dia masih belum berubah, masih menjadi pelindung terkuat di dunia. Dia datang setelah tiga jam diinterogasi di kantor polisi dan tubuh basah kuyup karena kehujanan.

Dia sudah mampu berbicara walaupun dengan suara yang kecil, laki laki itu yang pertama kali mendengar suaranya kembali.

Aku mohon Min Ji – ya jangan libatkan adikku…

Hujan yang merinai deras di hadapan Min Ji membuat ingatannya melayang ke Cina, dulu sewaktu mereka baru pindah Jun Su juga basah kuyup karena berkeliling mencarikannya tteokbokki saat dia sakit perut karena tidak terbiasa makan masakan Cina.

Jun Su selalu melakukan apapun agar dia tidak marah, mulai hal hal konyol sampai yang membuatnya tersentuh.

Bagaimana jika Min Ji memberinya kesempatan?

“Im Min Ji cepat tulis…” Min Ji tergagap mendengar suara Ha Ra.

 “Nanti Kris bangun, cepat…” dia berjinjit keluar dari kamarnya ketika Kris tertidur dan mendorong kursi roda Min Ji keluar. “ Kalau kau tidak bisa bicara cepat tulis” desak Ha Ra dengan gelisah. “Bagaimana aku bisa melindungimu dan Kris kalau aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?”

Min Ji mencengkeram kertas itu hingga sobek, Ha Ra benar benar sok tegar, Kris sudah bahagia dengannya, kenapa dia malah repot?

Ha Ra berjongkok di depan kursi rodanya, “Aku tahu kau dan Kris masih suami istri, aku minta maaf  Im Min Ji – ssi telah mengambil suamimu. Aku akan mengembalikannya padamu, waktu yang dimiliki Kris tidak banyak, jadi pergunakanlah sebaik baiknya…”

Min Ji memegang lengan Ha Ra,  Kris akan lebih terluka jika bersamaku.

“Aku tidak tahu kenapa kau dan dia sampai terpisah seperti ini, tapi ini pasti bukan keinginan kalian, kasihan Hyo Sun juga, dia harus mengetahui siapa Appanya sebelum Kris benar benar pergi. Soal Myung Soo kau jangan khawatir, aku dan Jong In akan menghalaunya. Kami akan melindungi kalian berdua, cepat tulis Im Min Ji apa yang sebenarnya telah terjadi…”  Ha Ra berusaha mengendalikan eomosinya, tubuhnya demam lagi dan dia juga ingin muntah.

Bukan Kim Myung Soo Ha Ra – ssi, dia adalah orang yang baik.

Ha Ra menggenggamkan pulpen itu ke tangan Min Ji. Bukannya menggores, ujung pulpen itu malah menusuk kertas hingga berlubang. Ha Ra menoleh gelisah ke ujung lorong, “Cepat, Kris akan bangun dan menemukan kita…” desaknya tidak sabar. Min Ji menatapnya lekat, Kris sudah menemukan orang yang tepat. Hanya Ha Ra yang bisa melindunginya. Dia masih ingat senyum Kris ketika datang bersama Ha Ra di waktu waktu lalu.

“Im Min Ji ini demi anakmu, cepat lakukan…” Ha Ra menunduk, memohon. Diberi kemudahan kenapa sulit sekali menerima? Tangan Min Ji yang bergetar memegangi pulpen itu, persis seperti anak balita yang baru pertama kali memegang pulpen dan dengan susah payah dia menggoreskan tintanya. Jun Su – ah aku akan memberimu kesempatan tapi jangan berbohong lagi.

Ha Ra mengambil kertas dari pangkuan Min Ji dan berlari pergi sebelum Min Ji melihatnya menangis.

Min Ji membungkuk mengambil selembar kertas yang dijatuhkan Ha Ra dari sakunya ketika memberinya kertas. Kertas yang menyatakan bahwa dia hamil. Dasar wanita keras kepala.

***

“Kau kenapa, nak?  jangan membuat Ibu takut…” Ha Ra mengelus perutnya dan naik ke ranjang. Dia baru saja memuntahkan semua yang dimakannya. Kamar rawatnya kosong, tas Hyo Sun tergeletak di sofa. Dia memang menyuruhnya mengajak Kris ke kamar Min Ji.

“Kau harus membiasakan berpisah dari Appa mulai sekarang, Appa tidak akan bisa selamanya bersama kita tapi kau jangan takut ada Ibu dan juga Nenek yang akan menjagamu… Hei, kenapa kau diam saja? kau tidak dengar Ibu bicara? dasar anak nakal…” Ha Ra tertawa kecil. “Kau anak yang spesial, kau anak hebat…”

Tidak akan ada Ayah yang memanjakan anaknya nanti, tidak ada yang akan diajaknya berdiskusi memilih nama. Siapa namanya nanti? Menggunakan nama Korea atau Cina? Tidak akan ada yang mencarikannya jika dia ingin makan ini itu.

“Jangan menangis ya, Ibu juga tidak akan menangis” Ha Ra mengeluarkan kertas lusuh dari sakunya, hanya sebaris kata yang acak acakan.

Gomawo, Ha Ra – ssi…

Ha Ra memperhatikan kertas itu beberapa lama dan melipatnya lagi, Kris telah kembali ke tempatnya yang benar.  Dia memejamkan mata, dia harus sudah tidur sebelum Kris kembali agar dia tidak mengajaknya bicara.

Dokter KMS dari rumah sakit Seoul telah menjalani pemeriksaan hari ini dan terbukti terlibat dalam peredaran obat illegal bersama dokter LJ. Polisi juga sedang mengejar jaringan penjual organ tubuh dan juga dokter LJ telah terbukti menjual darah kepada pasien yang membutuhkan donor darah dengan harga tinggi. Hari ini polisi menggeledah apartemen dokter KMS yang juga berprofesi sebagai selebriti ini dan menemukan barang bukti berupa obat perusak memory.

Ha Ra membuka matanya ketika mendengar suara pembaca berita di TV. Dia tercekat namun kemudian tersadar, 2 – 0 , dia kecolongan lagi.

TBC

Maaf ngaret dan ceritanya makin gak jelas, masih ditunggu RCL nya yaaa….




Tidak ada komentar:

Posting Komentar