TRUTH OR DEATH?
PART 18
A Fanfiction By Septi Titanika
Cast :
·
Wu Yi Fan aka Kris
·
Kim Myung Soo (INFINITE)
·
Cho Ha Ra (OC)
·
Im Min Ji (OC)
Other Cast :
·
Kim Jong In (EXO)
·
Jung Dae Hyun (BAP)
·
Kim Jong Dae (EXO)
·
Oh Ha Young (A PINK)
·
Xi Luhan (EXO)
Genre : Romance, Sad, Married Life,
Mistery
Rated : PG 15
Length : Chaptered/ 6172 words
Cover By Admin Mouse Cover Fanfiction
The Story is mine, idenya dari otak saya, saya masih
sangat amatiran, apabila ada kesamaan itu hanya kebetulan belaka. Semua Tokoh
di FF ini adalah milik keluarga, Tuhan, agensi dan fansnya, OC nya milik saya.
Awas typo merajalela, EYD tidak benar, Don’t bash , don’t plagiat and happy
reading ^-^
***
“Hyo Sun – ah Imo tahu
kau main di depan pintu, ayo masuk jangan main air…” Ha Ra melongok ke pintu
depan, Hyo Sun menjulurkan tangannya panjang panjang, mencoba menerima air
hujan. “Hyo Sun – ah cepat kemari…”
Hyo Sun berlari lari
mendekat, tangannya basah. Ha Ra ingin mengomelinya tapi tidak bisa, dia anak
Kris. Fakta itu sudah membuatnya ingin menangis, bagaimana dia bisa marah ? Dia
mengambil tisu dan mengusap tangan bocah itu.
“Imo sedang memasak,
ya?” Hyo Sun berjinjit, mencoba melihat apa yang ada diatas kompor. “Eommaku
tidak pernah memasak…” dia menundukkan kepalanya. Soo Ra selalu membawa bekal
buatan Ibunya.
“Eommaku tidak akan
mati kan, Imo?” tanya Hyo Sun lirih, tadi dia sempat mendengar dokter
mengucapkan kata mati, meninggal dan kritis. Dokter dan suster mengerumuninya,
dia ingin melihat tapi tidak boleh.
Ha Ra berjongkok dan
memeluk Hyo Sun, membenamkan dagu di pundak kecilnya. Min Ji terlalu pintar merajuk
pada Tuhan. Dia berhasil membuat Tuhan iba, membuat pertahanan Ha Ra runtuh.
Dia telah memohon secara halus – namun licik , agar suaminya dikembalikan. Ha
Ra akan memberikannya, cepat atau lambat dia juga akan kehilangan Kris, jadi
dia harus membiasakannya mulai sekarang. Kalau Kris tidak mati di pelukannya
mungkin rasanya tidak akan terlalu sakit. Biarlah dia kembali ke tempatnya yang
benar.
Tapi Kris tidak
mengingat apapun, bagaimana menjelaskannya?
“Imo kenapa menangis?”
tanya Hyo Sun takut takut, dia mundur lupa bahwa Ha Ra sempat marah padanya.
Ketika perhatian semua orang terpusat pada Ibunya, Ha Ra langsung membawanya
pulang. “Imo masih sakit?” Hyo Sun menempelkan tangannya di kening Ha Ra.
“Eommamu tidak apa apa
sayang…” Ha Ra tersenyum lebar, senyum palsu. “Kau lapar kan? duduk di sini,
ayo makan” Dia menggendong Hyo Sun dan mendudukkannya di kursi makan. Tadi pagi
Ibunya memasak ayam goreng yang tidak Kris suka, dia tinggal menghangatkannya.
Min Ji pasti tahu Kris tidak suka ayam goreng.
“Makan yang banyak agar kau cepat besar…” Ha
Ra mendorong piring berisi nasi ke depan Hyo Sun. Anak itu langsung makan
dengan lahap, dua butir nasi menempel di bibirnya.
Ha Ra trenyuh memperhatikan
Hyo Sun makan dengan lahap. Anak sekecil dia sudah terombang ambing dalam
takdir hidup yang kejam. Dia mengusap nasi di bibirnya. Appamu ada di sini,
Appamu menyayangimu, kau tidak akan diejek lagi karena tidak punya Appa. Kau
punya orang tua yang lengkap. Hyo Sun – ah, aku akan memberikan semua waktuku
untuk kau habiskan bersama Appamu.
“Imo minum…” Hyo Sun
menggigit ayamnya.
Ha Ra mendorong air
putih dan beranjak membuat teh untuk dirinya sendiri. Dia perpegangan pada sisi
pantry, kepalanya benar benar pening. Tangannya meraba raba mencari teh – mungkin
bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan – namun tidak menemukannya. Yang
ada hanya teh herbal mahal yang baru saja dibeli Ibunya. Air panas mengenai
tangannya ketika dia menyeduhnya.
“Itu apa Imo?” Hyo Sun
menunjuk cangkir teh Ha Ra.
“Teh, kau mau?” Ha Ra
memijit keningnya. Hyo Sun mengangguk dan menyesap itu, dia melet melet, tidak
enak. Hey, bukankah itu teh yang sama dengan yang dibuangnya di tempat sampah?
Mendadak dia ingat Paman jahat yang juga membawa teh yang sama. Appa Myung Soo
juga membawa teh seperti itu di rumah samchon Dae Hyun.
“Imo, ini teh Paman
jahat…” celetuk Hyo Sun.
Ha Ra mengangkat
wajahnya dan menatap Hyo Sun meminta pengulangan. Hyo Sun turun dari kursi dan
mendekatkan bibirnya ke telinga Ha Ra. Di film petualangan yang sering
dilihatnya begitu caranya berbagi rahasia.
“Imo, aku pernah lihat
Paman jahat membuka tas Nenek… ” kata Hyo Sun cepat. “Appa Myung Soo juga
pelnah minum teh sepelti ini, camcon Dae Hyun juga…”
Mata Ha Ra melebar,
“Kau bicara apa Hyo Sun – ah?” teh seperti itu dijual secara bebas, jadi
siapapun bisa meminumnya. “Coba ceritakan pada Imo, Paman siapa?” tandasnya.
Hyo Sun menggeleng, “ Nappaeun
Samchon…”
“Kau ini terlalu
banyak menonton film petulangan…” Ha Ra menghela nafas, “Sudah habiskan makananmu…” Ha Ra mulai
membereskan meja sambil mengawasi Hyo Sun, anak sekecil dia belum bisa
mengarang.
Sesuatu seperti
menyambar kepalanya ketika dia mencuci tangan Hyo Sun setelah selesai makan,
tubuhnya seperti disengat listrik. Teh, Myung Soo, teh … malam itu…
“Hyo Sun – ah, kau bilang apa? Ada yang
membuka tas Nenek?” otaknya memproses sebah kemungkinan. Yang dia minum bukan
teh yang dibeli Ibunya, tapi teh lain yang sudah dicampur dengan entah apa itu
yang membuatnya seperti mabuk.
Hyo Sun berpikir
beberapa saat kemudian mengangguk.
Ha Ra memukul meja,
keparat kau Kim Myung Soo. Jadi malam itu mereka dikendalikan? Ada yang sengaja
melakukannya, ada yang memanfaatkan keadaan Kris dan menjadikan Ha Ra korban. Membunuh
dua lalat dengan sekali sabet. Dia paham Kris dan Ha Ra luar dalam sampai ke
ujung kuku. Tangan Ha Ra terkepal keras hingga buku buku jarinya memutih, licik
kau Kim Myung Soo. Ha Ra tersenyum
getir, bukan licik tapi luar biasa cerdas.
Membunuh Ha Ra dan
Kris secara bersamaan dengan tangan Kris, menjauhkan Mi Ji darinya, dia
menonton dari jauh sambil bertepuk tangan. Bahaya ternyata sudah mengepung
mereka dari segala arah. Dia, Kris, Min Ji, Hyo Sun, semuanya. Myung Soo sudah
membuktikannya bahwa dia bisa melakukannya dalam sekali tepuk.
Ha Ra berjalan
terhuyung ke kursi makan, sekarang semua yang ada di depannya berputar. Malam
itu untuk pertama kalinya dia mengucapkan cinta pada Kris dan Kris membalasnya
dengan sesuatu yang lebih dari itu, sangat besar. Ha Ra merasa langit diruntuhkan
di atas kepalanya, lalu malam itu apa? Dia hanya berhalusinasi karena pengaruh
obat? Semua yang terjadi di bawah pengaruh obat. Obat yang mendorong mereka,
bukan nurani.
Obat Cho Ha Ra, bukan
nurani, kau dikerjai.
Ha Ra menekan dadanya
menahan sakit, dia masih bisa mengingat dengan jelas semuanya tanpa cela. Itu
semua tidak ada artinya sekarang. Dia menelungkupkan wajahnya di meja, menangis
terisak isak diiringi pandangan tidak mengerti dari Hyo Sun.
Kim Myung Soo keparat
kau.
***
BRUK…
Punggung Myung Soo
membentur tembok, dia berusaha bangun, namun sekali lagi krah kemejanya
dicengkeram oleh Jong In dan sekali lagi bogem mentah mengenai hidungnya hingga
berdarah. Sebelum dia berhasil bangun Jong In sudah mendorongnya ke tembok
lagi. Tidak ada gunanya dia melawan, dia yang salah.
“Kalau terjadi sesuatu
dengan Min Ji aku tidak akan segan untuk mematahkan lehermu…” gigi Jong In
bergemeletuk menahan amarah. “Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Min Ji
lagi…” kali ini dia mendesis, nafasnya naik turun dengan cepat. Baju dan
rambutnya yang tadi klimis tampak berantakan.
Keadaan Min Ji
memburuk, detak jantungnya bahkan sempat hilang. Sekarang tim dokter sedang
menanganinya. Dua orang suster memperhatikan mereka dari ujung lorong tapi
tidak berani mendekat, apalagi melerai.
“Kau bukan suami Min
Ji, aku akan melaporkanmu ke polisi atas kasus penculikan” Jong In menunjuk
Myung Soo, tepat di hidungnya. “Aku akan mencari tahu siapa kau sebenarnya…”
ancam Jong In.
Myung Soo bangun,
berpegangan pada tembok sambil mengusap hidungnya dengan ujung lengan kemeja
putihnya. “Kim Jong In – ssi, kau salah paham aku bisa menjelaskan semuanya
padamu…” tidak mungkin mengatakan bahwa sebenarnya semua yang dilakukannya
adalah untuk melindungi Min Ji.
“Aku sudah menyediakan
dokter terbaik untuknya di rumah, aku benar benar serius akan menjaganya….”
“Aku bersumpah akan
memasukkanmu ke penjara…” kepalan tangan Jong In mengambang di udara, sebelum
emosinya kembali naik dia berbalik pergi. Myung Soo menedang tembok, sial.
***
“Dokter Kang bagaimana
dia?” Kris melongok melewati bahu dokter Kang Ji Young, Min Ji masih dalam masa
kritisnya. Ada rasa perih yang menusuk nusuk ulu hatinya – apakah itu sebuah
telepati? Telepatinya dengan Ha Ra yang sudah terikat saja tidak seperti ini,
Apa yang dulu pernah dilakukannya dengan Min Ji hingga rasanya tidak karuan
seperti ini?
“Tuan Wu…” dokter Kang
menghela nafas pelan, “ Im Min Ji mengalami tekanan yang sangat berat, di fisik
dan juga jiwanya. “Namanya juga mulai muncul di media akhir akhir ini, itu
sangat tidak baik, dia butuh ketenangan. Kurasa dokter Kim Myung Soo mengakui
ini di waktu yang salah ”
Kris memandang Min Ji,
bagaimana dia bisa membantunya? Min Ji punya suami sementara dia punya istri.
Dia mengangguk ketika dokter Kang berpamitan dan pergi. Kris meraih tangan Min
Ji, menggenggamnya, dia mengaduh, sakit di ulu hatinya makin menusuk. Dia
memaksa otaknya mengingat apa yang terjadi bertahun tahun lalu, namun otaknya
sudah lebih parah dari orang pikun.
Kris berjalan keluar,
mengeluarkan ponselnya, dia ingin menelfon Ha Ra tapi SMS darinya sudah lebih
dulu masuk. Dia menyuruhnya beristirahat di rumah sakit saja, siapa tahu Min Ji
lebih membutuhkannya dan juga berpesan tidak usah mengkhawatirkan Hyo Sun
karena sudah bersamanya. Dia melangkah ragu pulang atau tetap menemani Min Ji,
Ha Ra juga sedang sakit.
“Kris Wu – ssi…”
dokter Shim tersenyum lebar seperti biasanya sambil menyembunyikan tangannya ke belakang punggung.
Tadi dia membawa amplop yang dijepit di bawah ketiak “Kau sibuk? Ada yang ingin
kubicarakan denganmu…”
“Aniyo…” Kris mengangguk
dan berjalan beriringan dengan langkah panjang dokter Shim.
Dokter Shim menutup pintu di belakangnya dan menyuruh
Kris duduk, “Apa kau mau minum teh?” tanpa menunggu jawaban dia menyeduh dua
gelas teh panas dengan gula rendah kalori seperti biasanya. Dia mendorong
cangkir teh ke depan Kris dengan kikuk, cangkir itu bergetar hingga isinya
sedikit tumpah mengotori di meja.
“Apa ada sesuatu yang penting?” Kris mencoba melihat
ke belakang punggung dokter Shim, dia meletakkan kertasnya di atas dispenser
sementara menyeduh teh. Kalau hanya soal kesehatannya itu sudah tidak terlalu
penting.
Dokter jangkung itu mengusap tengkuknya, dan
meletakkan tubuhnya di samping Kris. Kertas itu sudah ada di tangannya namun
dia malah menjejalkannya ke saku. “Aku tidak tahu harus mengatakannya atau
tidak padamu…” katanya dengan nada sungkan.
“Apa itu? apa ada keajaiban virus itu hilang dari
tubuhku?” Kris terkekeh lalu meneguk tehnya.
“Ini bukan tentangmu, aku mendapatkan ini dari dokter
Choi, dia menyuruhku menyampaikan ini padamu, istrimu…” dokter Shim menghela
nafas panjang, “ hamil, Cho Ha Ra, dia hamil empat minggu…” Dokter Shim menepuk
nepuk pahanya, seperti anak kecil yang mengatakan kalau dia baru saja makan
sesuatu yang dilarang.
UHUK... teh itu sukses menyembur dari mulut Kris,
mengotori meja dan kemejanya, dia batuk batuk untuk beberapa lama. Dokter Shim
menepuk punggungnya, saking bingungnya, dia menyuruh Kris minum lagi dan Kris
tersedak lagi.
Kris merebut kertas itu dari tangan dokter Shim,
dokter Shim menariknya kembali, mereka berebut seperti anak TK. Kris menyobek amplopnya
dengan mata melebar, dia tidak sabar menelusuri tulisan dan angka yang tidak
dia mengerti hingga pada akhirnya sampai pada kesimpulan yang terakhir. Kris
setengah meremas kertas itu dan menyangga keningnya dengan tangan, pening.
Matilah kau Kris Wu, mati saja sekarang. Astaga, apa salahnya hingga hukumannya
seberat ini?
“Pikirkan dengan kepala dingin…” dokter Shim lagi lagi
menepuk pundaknya. “Ini adalah sebuah keajaiban Tuhan, kita tidak pernah tahu
dengan apa yang Tuhan rencanakan. Kita sudah mencegahnya dengan segala cara,
aku iri padamu, kau masih sangat hebat” dokter Shim menepuk nepuk pundaknya,
“Kau benar benar menikmati tiga bulan terakhirmu rupanya…”
Kris menyandarkan tubuhnya di sofa, tubuhnya lemas.
Tuhan terlalu sayang atau terlalu jijik padanya? Suami mana yang tidak senang
akan jadi Ayah? Keadaannya berbeda, dia tidak akan kuat hidup sampai anaknya
lahir. Dan bagaimana jika anak itu nanti… Dia akan punya anak? Kris memukul
kepalanya sendiri. Dia akan menanggung dosa setelah mati karena tidak menafkahi
anak dan istrinya. Hanya sekali, tapi kenapa akibatnya sefatal ini?
Apa artinya perjanjian yang mereka buat di malam
pertama pernikahan?
“Aku harap semuanya akan baik baik saja, kau ingin
memberi tahu Ha Ra sendiri, atau biar aku yang melakukannya?” dokter Shim hanya
berbasa basi, dia tidak akan mampu melakukannya. Dia putus dari pacarnya
setahun lalu dan belum berpacaran lagi, sudah lupa bagaimana caranya menghadapi
wanita yang histeris.
“Selamat tuan Wu…” dia menjabat tangan Kris, “Kau dan
Ha Ra akan segera menjadi orang tua…” Bukan, bukan mereka, tapi Ha Ra akan
segera menjadi orang tua.
Sebelum mati, ternyata Kris harus gila dulu.
***
Ha Ra kembali lagi ke
rumah sakit dengan mengebut, tidak peduli dengan ponselnya yang terus berdering
dan Ibu yang melarangnya pergi sebelum hujan reda. Kepalanya benar benar pening,
namun dia tidak peduli dan hanya mengurangi sedikit kecepatan mobilnya.
Kim Myung Soo sudah
kenal Min Ji sejak lama, dia juga kenal Kris sejak lama. Dia ingin merebut Min
Ji dari Kris dan sampai sekarang dia masih berusaha melakukannya, bahkan kini dia ikut menyeretnya ke dalamnya.
Min Ji dan Kris berpisah itu juga pasti Myung Soo yang melakukannya entah
bagaimana caranya. Min Ji meninggalkan Kris, Kris bunuh diri itu bohong. Itu
kesimpulan yang Ha Ra ambil.
Ha Ra memarkirkan
mobilnya sembarangan dan berlari masuk, Kris ada bersama Min Ji sekarang, akan
lebih mudah bagi Myung Soo untuk melakukan sesuatu pada mereka. Dia harus
melindungi mereka – suaminya dan juga istrinya.
Melindungi wanita yang
akan mengambil suaminya.
Langkah Ha Ra terhenti,
sesuatu seperti menusuk nusuk perutnya. Mungkin karena belum makan sejak
semalam. Dia berpegangan pada tembok, rasa menusuk nusuk itu bertambah dengan
rasa mual, lagi lagi rasanya seperti dibalik.
“Cho Ha Ra, kau tidak
apa apa?” sebuah lengan menyangga tubuhnya, Jong In entah muncul dari mana,
“Kau pucat sekali, ayo kau harus diobati…” dia meletakkan tangan Ha Ra di
pundaknya dan melingkarkan tangan di pinggangnya, memapahnya.
“Kau lihat Myung Soo?”
Ha Ra mengedarkan matanya ke ujung
lorong.
“Aku baru saja
memukulinya dan aku akan segera memasukkannya ke penjara, kau tidak usah
khawatir. Kris akan tetap bersamamu dan Min Ji akan bersamaku, masalah ini akan
segera selesai…” kata Jong In geram.
“Kau, ahh perutku…” Ha
Ra mencengkeram perutnya.
“Aku akan jujur padamu
bahwa aku mencintai Min Ji, aku sudah merawatnya sejk lama dan aku juga ingin
mendapatkan balasan atas jasaku” Jong In memelankan langkahnya karena Ha Ra
tampak kepayahan. “Setelah dia sembuh aku akan melamarnya…”
Jika sesimpel yang
dipikirkan Jong In maka Ha Ra juga setuju, dia dengan Kris dan Min Ji dengan
Jong In, semuanya bahagia. Namun ini sudah menyangkut hidup dan mati dan juga
menyangkut kebenaran yang tersembunyi. Dia harus mencari tahu alasan Myung Soo
melakukan semua ini entah itu baik atau buruk. Kebenaran itu harus dia kuak,
walaupun resikonya dia yang akan hancur.
“Aku akan
memperjuangkan Min Ji, apapun yang terjadi…” Jong In mengepalkan tangannya.
“Jika kau bisa bersama
Min Ji, bagaimana dengan aku? Ini tidak adil…” Dia akan sendiri. Jikapun
semuanya terkuak, tetaplah dia yang akan jadi tumbal.
“Bagaimana kalau
kuberikan Hyo Sun padamu?” Jong In mencoba mencairkan suasana. Dia melihat Kris dan dokter Shim keluar dari
lift, dokter Shim menyarukkan paksa sebuah kertas ke dalam saku jasnya. “Cho Ha
Ra…” ketika Jong In menoleh, tangan Ha Ra sudah terkulai, semua yang ada di
depannya menjadi putih lalu berubah hitam pekat dalam sekejap.
“Cho Ha Ra…” Kris dan
dokter Shim memanggilnya bersamaan namun Ha Ra sudah tidak mendengar apa apa.
***
FLASHBACK
“Im Min Ji kau dimana?
Im Min Ji aku di sini…” seorang remaja jangkung membuka pintu ruang kelas,
tidak ada siapa siapa. Dia berlari keluar mencari di lapangan basket namun juga
tidak ada seorangpun di sana. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku, menelfon
namun juga tidak ada jawaban.
“Min Ji – ya…” panggilnya
lagi, salju turun cukup deras dan hari ini sekolah dipulangkan lebih cepat
karena badai. Min Ji belum pulang juga dari tadi hingga dia berinisiatif
mencarinya ke Sekolah. Hari ini dia tidak sekolah karena sakit dan terpaksa harus
keluyuran ke sekolah. “Min Ji kau dimana? kau bisa terjebak badai jika tidak
segera pulang…” lagi lagi suaranya hanya bergema di lorong lorong kelas yang
telah kosong.
Wu Yi Fan menaiki
tangga ke lantai dua, Min Ji suka menyendiri di perpustakaan, semoga dia ada di
sana. Nafasnya terengah ketika dia menendang pintu hingga menimbulkan suara
keras. Dia mendengar suara isakan dari sebuah sudut, kalau biasanya isakan di
perpustakaan yang sepi itu menakutkan, kali ini amatlah melegakan.
Yi Fan mencari asal
suara itu dan menemukan Min Ji duduk di lantai diantara dua rak tinggi yang penuh
buku, meletakkan kepalanya di lututnya yang tertangkup. Dia menyentuh lengannya
pelan, Min Ji memukul tangannya, “Pergi kau…” katanya di sela isak tangisnya.
“Ayo pulang kita bisa
terjebak badai…” kata Yi Fan lembut, “Ibumu mengkhawatirkanmu…” dia ikut
berjongkok di samping sahabatnya itu.
“Ibu tidak peduli
padaku, aku tidak ingin melihatnya…” Min Ji mengangkat wajahnya, pipinya basah
dan matanya bengkak. “ Jangan sebut
sebut Ibuku, pergilah kalau kau hanya ingin membicarakan Ibuku ” dia mendorong
Yi Fan.
“Kau harus mendengar
penjelasan Ibumu dulu…” suara Yi Fan berubah serak, “Ayahku juga bisa membantu
menyelesaikan masalah ini, Jun Su hanya salah paham…” dia mengusap bahunya yang
baru saja dipukul oleh Jun Su, perut dan pipinya juga memar, Jun Su tidak salah
paham. “Sebentar lagi Jun Su pasti akan minta maaf padamu, Jun Seok juga, ayo
kita pulang…”
Min Ji menggelengkan
kepalanya kuat kuat. Dia dan Jun Su sudah saling mengenal sejak umur empat
tahun, seperti apapun Min Ji mengerjai dan mengoloknya Jun Su belum pernah
sekalipun marah. Semenjak ada masalah kecil diantara orang tua mereka sikapnya
sedikit berbeda dan kemarin puncaknya. Orang tua mereka muncul di koran dan dia
marah besar. Dia bilang Ibu Min Ji telah memfitnah Ayahnya. Ketika Min Ji
bertanya pada Ibunya lagi lagi dia mendapat marah. Dia mencoba bertanya baik
baik pada Jun Seok, anak itu juga tidak mau bicara.
“Yi Fan – ah…” Min Ji
mengusap pipinya dengan punggung tangan dan membetulkan posisi duduknya. “
Tidak benar kan jika Ibuku orang jahat?” dia menatap Yi Fan serius dengan
pandangannya yang berkabut.
Yi Fan memaksakan
sebuah senyum dan menggeleng. Bohong. Tadi pagi tanpa sengaja dia mendengar
pembicaraan Ibu Min Ji dan Ayah Jun Su, mereka adalah buronan Korea yang
melarikan diri ke Cina karena terlibat kasus malpraktek di istana Presiden.
Sekarang pemerintah Korea dan Cina sudah mulai mencium jejak mereka, cepat atau
lambat mereka akan ditangkap.
“Katakan Yi Fan – ah,
Ibuku bukan orang jahat, apa yang dikatakan Jun Su itu salah…” Min Ji histeris,
air matanya tumpah lagi.
Yi Fan membuka jaket
dan menyelimutkannya ke bahu Min Ji, dia mendengar suara guguran salju di luar,
udara makin dingin.
“Tenanglah semuanya
pasti akan baik baik saja…” Yi Fan memegang kedua bahu Min Ji. Tidak akan ada
yang baik setelah ini, Ayahnya bekerja di kejaksaan jadi dia tahu hukuman untuk
buronan adalah hukuman mati, dia memejamkan mata – untuk tersangka dan seluruh
anggota keluarganya. “Ayahku akan menyelesaikan semuanya…” dia menarik Min Ji
ke dalam pelukannya.
“Aku akan
melindungimu, percayalah padaku…” Yi Fan mengelus pundak Min Ji pelan, “Sampai
kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu…”
“Benarkah itu? Janji?”
Min Ji menatapnya, dia mengulurkan kelingking, Yi Fan membalas dengan
menyentuhkan jempolnya. Dua remaja itu tersenyum dalam bingkai salju. Satu
senyum penuh pengharapan dan satu senyum putus asa.
Aku tidak akan
melindungimu, sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu…
FLASHBACK END
Min Ji merasa tubuhnya
dihempaskan lalu terjatuh di sebuah tempat yang keras. Dia melihat lorong putih
panjang yang berakhir dengan sebuah padang bunga luas yang tidak bisa lihat
dimana ujungnya. Lalu dia bermimpi melihat Yi Fan, dia bermimpi Yi Fan
memeluknya dan menenangkannya yang ketakutan. Rasa dingin di tubuhnya melumer
karena pelukannya yang hangat dan belaian tangan besarnya membuatnya merasa
aman.
Dia mencari taman
bunga itu tapi sudah tidak ada lagi, yang ada di depannya juga putih namun
tidak ada bunga, hanya bau antiseptik yang menyengat. Cahaya yang masuk ke
matanya juga tidak lagi seputih tadi, sedikit kuning dan membuat matanya pedih,
cahaya lampu. Sesuatu menghalangi mulut dan hidungnya, dia meraba raba
melepasnya.
Telinganya menangkap
suara dengkuran halus di sela sela monopoli bising ventilator, Kim Jong In,
kepalanya terkulai dan tangannya ada di perutnya. Min Ji memejamkan mata lagi,
yang memeluknya tadi Yi Fan atau Jong In? Di ruangan itu tidak ada siapa siapa
selain mereka berdua. Min Ji membetulkan letak masker oksigennya lagi ketika
kepala Jong In bergerak dan matanya berkedip kedip. Dia diam saja ketika Jong
In bangun dan mengecup keningnya lalu meninggalkannya pergi.
Terimakasih Jong In –
ah, terimakasih…
***
Aegy….
Ha Ra menempelkan
tangannya di perut dan mengelusnya perlahan. Ada yang sedang tidur di dalam
sana, meringkuk di rahimnya yang hangat. Dia masih sangat kecil, masih berupa
gumpalan darah – darahnya yang bercampur dengan darah Kris – namun dia pasti
akan segera tumbuh menjadi anak yang pintar dan tidak tahu malu seperti
Ayahnya. Sembilan tidak delapan bulan ke depan dia akan bermain main di rahim Ha
Ra, makan , jungkir balik, menendang nendang dan juga bermain main dengan tali
pusar seperti yang dilihatnya di
internet.
Dia akan jadi Ibu.
Dua bulan lalu dia
masih seorang reporter yang tidak pernah kencan dan menunggu kekasihnya yang
tidak ada kabarnya. Sulit dipercaya hidupnya begitu cepat berubah. Ha Ra
menutup mulutnya, takut suster tahu jika dia tertawa sendiri. Dia berkali kali
menghela nafas, meyakinkan diri bahwa ini bukanlah mimpi. Dalam pernikahannya
dengan Kris dia tidak merencanakan punya anak.
Namun entah kenapa
perasaannya begitu ringan setelah semuanya terjadi, apa pengaruh si jabang
bayi? Dia sama sekali tidak menyesal dan juga tidak takut. Jika Kris benar
benar pergi nanti dia tidak akan sendirian, Tuhan telah mengirimkan
duplikatnya. Ternyata Tuhan bukan hanya baik pada Min Ji, tapi juga baik
padanya. Ha Ra semakin yakin bahwa keputusannya untuk mengembalikan Kris ke Min
Ji itu benar, dia tidak boleh serakah.
Dia patut
berterimakasih pada Kim Myung Soo, kalau bukan karena dia anak mereka tidak
mungkin ada.
Kim Myung Soo sialan.
“Nyonya Wu, kau
tampaknya senang sekali…” suster tersenyum pada Ha Ra. Suster itu sudah
terbiasa menghadapi wanita yang hamil jadi bagaimanapun Ha Ra berusaha tidak
menimbulkan perhatian dia dengan mudah bisa mengetahuinya. “Selamat ya nyoya Wu,
suamimu sangat tampan anakmu juga tidak akan beda jauh darinya…” dia tersenyum
senyum sambil terus membereskan meja.
“Apa anak laki laki
akan seperti Ayahnya?” tanya Ha Ra antusias. Dia dan Jong Dae dulu berangan angan jika mereka menikah maka
ingin anak pertama perempuan.
“Tidak juga kadang dia
juga mirip Ibunya, kau jangan khawatir nyonya Wu, genmu dan gen suamimu sangat
bagus…”suster itu tertawa renyah.
“Kau ini…” Ha Ra
mendengus, dia memandang perutnya, kau anak laki laki atau perempuan? Senyumnya
menghilang ketika sadar bahwa anaknya otomatis akan jadi adik Hyo Sun. Dia
belum memberitahu Hyo Sun dan Ibunya, tidak berani membayangkan reaksi mereka
yang pasti akan overdosis.
“Suster…” senyumnya
telah benar benar luntur, ada yang mengganjal di pikirannya. Sekarang dia masih
minum antibiotik dari dokter Shim dan juga obat obatan herbal, dia tidak tahu
itu akan mempengaruhi bayinya atau tidak.
“Ada apa nyonya Wu?”
suster itu memandangnya lama karena Ha Ra tidak juga bicara. “Ada yang ingin
kau tanyakan? Kalau tidak aku akan keluar untuk mengambilkan vitamin untukmu…”
Ha Ra tergagap, “Tidak
apa apa, pergilah saja…”
Setelah Suster muda
itu pergi, Ha Ra meraih ponselnya dan membuka internet, mencari jawaban atas
pertanyaannya. Suaminya seorang penderita AIDS dan ada kemungkinan virus itu
akan masuk ke tubuhnya dan berimbas ke bayinya. Jangan berpikiran buruk Cho Ha
Ra, kau sudah minum obat. Dia juga minum obat agar tidak hamil, tapi obat itu
ciptaan manusia, bukan Tuhan.
“Kau melihat apa?” Ha
Ra tidak sadar jika Kris sudah berdiri di samping ranjangnya. Dia buru buru
menyembunyikan ponselnya.
“Tidak apa apa, Eomma
menelfon…”
“Menelfon apa, aku
melihat kau membuka internet ” dengus Kris sambil mengupas buah yang baru saja
dibelinya. “Habiskan, ini bagus untukmu…” dia menyuapkan satu siung jeruk tanpa
berani menatap Ha Ra, matanya tertuju ke ujung sepatunya.
“Appa…” Ha Ra
mempunyai sebuah panggilan baru, jantungnya berdetak cepat ketika menyebut kata
Appa.
Kris menoleh dengan
cepat, “Cho Ha Ra aku benar benar minta maaf karena terus membebani hidupmu,
kau boleh hukum aku apa saja terserah…” katanya putus asa. Hubungan mereka yang
awalnya direncanakan tiga bulan akan tersambung hingga puluhan tahun, “Kris,
kau benar benar bodoh…”
Grepp… Ha Ra
meleburkan dirinya, memeluk Kris. Bukan hanya kau yang bodoh Kris, tapi kita
berdua dibodohi oleh Kim Myung Soo.
“Jangan salahkan
dirimu aku tidak apa apa, kau jangan khawatir, aku pasti akan merawat anak ini,
kita kan sudah menikah dan saling mencintai malah aneh kalau kita tidak punya
anak…” Ha Ra tertawa. Hatinya dijatuhi batu, remuk tanpa sisa. Dia harus pura
pura bahagia. “Aku ini pekerja keras, tidak akan kesusahan kalau hanya
menghidupi seorang anak, tenang saja…” dia mencubit pipi Kris yang pucat.
Kris menatapnya tepat
di manik matanya. Ha Ra menarik narik pipinya, hidungnya ketika dia tidak
memberikan reaksi apa apa. “Pakai krim matamu, jangan sampai anakku lari
terbirit birit karena mengira kau hantu…”
Suara Ha Ra yang ceria
malah membuat Kris ingin menangis.
“Kau mendadak bisu ya?”
Ayo Cho Ha Ra teruslah pura pura kau baik baik saja, sempurnakan aktingmu. “Aku
tidak suka melihat rambutmu seperti ini…” dia membetulkan poni Kris yang
berantakan. “Aku lebih suka keningmu terlihat…” dia melepas ikat rambutnya dan
sedikit menengadahkan kepala mengikat rambut Kris.
Mereka begitu dekat,
dia bisa merasakan bau obat yang menusuk. Dia bisa melihat mata Kris basah.
“Aku baik baik saja,
kau harus percaya padaku…” Ha Ra menangkupkan tangannya di kedua pipi kurus
Kris. “Aku punya permintaan, bisakah kau menurut padaku? Maukah kau menuruti
semua yang kukatakan?”
Air mata Kris benar
benar melelah. Dosanya pada Ha Ra benar benar tidak bisa diampuni. Dia bahkan
tidak bisa berbuat apa apa ketika Ha Ra menciumnya, tenang dan lembut hingga
wajah mereka tak lagi berjarak. Dan dia juga hanya bisa pasrah ketika Ha Ra
menyatukan tangan mereka di perutnya, merasakan sebuah nyawa baru di sana.
Ini ciumanku yang
terakhir Yi Fan Oppa untuk tanda
perpisahan kita, saksinya anak kita, biar dia tahu dia juga punya Ayah dan Ibu
yang saling mencintai dan amat menyayanginya…
Suster menutup pintu
sepelan mungkin namun tetap menimbulkan suara. Pipinya bersemu merah, dia
mengganggu.
“Ada apa, Suster?”
Kris menoleh, berusaha bersikap biasa saja.
Suster itu mengangguk,
“ Maaf Tuan Wu, dokter Kang Ji Young menyuruhku memberi tahu anda bahwa nona Im
Min Ji telah sadar…” dan buru buru
pergi. Ha Ra menghela nafas panjang.
***
“Selamat siang tuan
Kim Myung Soo, aku kepala Polisi Park Jung Soo dari kepolisian Seoul…” Kepala
Polisi Park menunjukkan tanda pengenalnya. Dia menghadang langkah Myung Soo
yang terburu. “Kau harus ikut aku ke kantor polisi, aku membawa surat perintah”
dia mengeluarkan kertas berkop kepolisian.
Myung Soo
menganggukkan kepalanya. “Maaf, aku sedang sibuk sekarang” Min Ji baru saja
sadar dan dia harus melihatnya. Kepala Polisi Park tidak sendiri, dia dikawal
Jung Dae Hyun di belakangnya. Myung Soo tidak akan bisa lari kemana mana.
“Kau harus ikut kami
sekarang, kau hanya perlu menjawab beberapa pertanyaan saja berkaitan dengan
penangkapan dokter Joon”
“Aku pasti akan ikut,
tapi tidak sekarang, ada urusan yang harus kuselesaikan” Myung Soo sudah gatal
untuk segera berlari.
“Tapi kau harus datang
ke kepolisian sekarang Tuan Kim Myung Soo…” Dae Hyun menambahkan, “Kau tidak
memenuhi panggilan kami kemarin, jadi kau harus datang sekarang. Kami membawa
surat perintah resmi atau kau akan dihukum dengan pasal lain terkait usaha
melarikan diri ” katanya sopan.
Ck… Myung Soo berdecak,
kalau tidak ditempat umum dia pasti sudah berlari dan memukul kedua orang yang
menghalangi jalannya itu. Dia terpaksa menurut dengan berat hati, sesekali dia
menoleh ke lift, dia hanya perlu masuk ke sana dan akan melihat Min Ji. Dia
harus memastikan apa yang terjadi pada Min Ji setelah dia sadar, makin baik
atau makin buruk.
“Kepala polisi Park
apa kabar?” Mereka bertemu Kris dan Ha Ra di depan ruang dokter.
“Annyeong…” Ha
Ra ikut menyapa.
“Oh, kalian ada di
sini? Apa kau sakit atau nyonya Wu sedang sakit?” Kepala Polisi Park memandang
Ha Ra yang bersendal jepit dan memakai piyama rumah sakit.
“Tida apa apa aku
hanya flu saja dan agak parah…” Ha Ra mengeratkan gandengannya di lengan Kris,
refleks ketika melihat Myung Soo. “Kami harus menengok seseorang juga…” dia
melanjutkan.
“Lain kali kita minum
bersama Detekfit Wu, kami harus kembali ke Kantor Polisi sekarang…” Kepala Polisi Park mencekal tangan Myung Soo
yang ada di belakang punggung.
“Maaf, kami pinjam dia
sebentar” Dae Hyun juga melakukan hal yang sama dengan kepala polisi Park, dia
juga membawa borgol dalam tasnya.
Polisi juga akan
membantu mereka, Ha Ra bisa merasa sedikit lega. Dendam apa yang sebenarnya
menghuni hati Myung Soo?
***
“Nona Im, setelah
sempat kritis keadaanmu jauh lebih baik sekarang, mungkin kemarin Tuhan sedang
mengangkat penyakitmu, tekanan darahmu juga normal, jangan pikirkan apa apa ya,
kalau kau menurut padaku, aku akan mengizinkanmu bangun besok…” Dokter Kang
tersenyum lebar sambil mengalungkan stetoskop ke lehernya.
Min Ji mengangguk,
masker oksigennya sudah dilepas jadi dia bisa bernafas dengan lega. Tubuhnya
terasa lebih ringan dan pandangannya juga jernih, sakit di otot ototnya juga
tidak begitu terasa. Hanya sebuah pelukan tapi efeknya luar biasa, dia butuh Yi
Fan untuk sembuh, andai saja bisa….
Ah, tiba tiba dia
merindukan Hyo Sun, dibawa siapa anak itu sekarang?
“Oh, tuan Wu, kau
sudah sampai?” Dokter Kang menyambut Kris dan Ha Ra dengan ramah. “Apa kalian
bersama dokter Kim? aku juga menyuruh suster memanggilnya ” dia menengok ke ruang
kosong di belakang Kris. “Lihatlah, nona Im hanya ingin menakut nakuti kita,
dia pulih lebih cepat…”
Mata Ha Ra bertemu
dengan mata Min Ji, Ha Ra buru buru melepaskan tangannya dari tangan Kris dan
menunduk. Dia merasa seluruh tubuhnya disiram air es, dingin membeku.
“Sebenarnya Kim Myung
Soo…” Jika Ha Ra mengatakannya mungkin Min Ji akan lebih merasa aman dan dia
bisa bergerak bebas. Kris menutup mulutnya, jangan katakan. Ha Ra menggigit
tangannya, Kris memelototinya.
“Maaf, tapi sebetulnya
Kim Myung Soo tidak ada di sini, dia pergi bersama dua orang Polisi, biar kami
saja yang menjaga Min Ji sampai Myung Soo kembali” Ha Ra mendekati ranjang Min
Ji dan bersikap layaknya seorang sahabat lama. “Min Ji Eonni aku senang
melihatmu sudah sadar, Hyo Sun mencemaskanmu…”
“Kalau begitu aku
pamit dulu Tuan Wu, Nona Cho…” Dokter Kang meninggalkan mereka berdua, Ha Ra
segera mengambil kendali, menguatkan hati.
“Min Ji Eonni apa kau
sudah merasa baikan, apa kau mau makan? Kau mau buah, aku akan mengupaskannya
untukmu…” Ha Ra memilih milih buah di atas meja. Kris menyeretnya ke sudut
ruangan dan berbicara dengan sedikit berbisik.
“Kenapa kau
mengatakannya? Dia bisa syok jika tahu Myung Soo ada di kantor polisi…”
Ha Ra menghela nafas,
“Kau sudah berjanji akan menurut padaku Kris. Kau masih membicarakan Myung Soo?
Kau benar benar tidak peka, apa kau tidak bisa lihat Myung Soo dan Min Ji sudah
berpisah dan sekarang Myung Soo dengan seenaknya mencoba mengambil Min Ji lagi,
Min Ji sangat tersiksa. Dia lebih nyaman denganmu sekalipun kau hanya mantan
kekasihnya. Cobalah bersikap lembut padanya…”
Kris tercengeng, Ha Ra
tidak sedang mengigau kan? “Kau memintaku untuk lebih peduli pada istri orang
daripada istriku sendiri?”
“Oppa… yang terpenting
sekarang adalah Min Ji sembuh dan itu artinya kita harus menjauhkannya dari
orang yang membuatnya tertekan…” Ha Ra mencengkeram ujung piamanya, kuat Cho Ha
Ra, kau bisa. “Aku perempuan, perasaanku lebih peka, aku paham sekarang, Min Ji
sempat beberapa kali minta tolong padaku ”
Kris baru akan membuka
mulut ketika terdengar suara ranjang dipukul pukul, panggilan dari Min Ji.
“Maaf Eonni kami membuatmu menunggu, oh ya
ampun, aku lupa aku akan mengupaskan buah untukmu, tidak apa apa kan orang yang
baru sadar makan buah?” Ha Ra menarik kursi dan mendorong Kris duduk di sana.
“Buah juga baik untukmu, duduklah, harusnya kita mengajak Hyo Sun kesini tadi…”
Rasa damai itu tiba
tiba datang lagi, membuat Kris terpaku, dia tidak bisa mengalihkan tatapannya
dari mata bengkak Min Ji. Rasanya seperti menemukan kembali dongeng sebelum
tidur yang sudah lama tidak dia dengar. Dongeng tentang kebaikan yang sesulit
apapun pada akhirnya akan mengalahkan kejahatan yang mengalir dari mulut
Ibunya. Seperti menemukan harta karun lama yang terpendam, walaupun sederhana
tapi amat menyenangkan. Kenapa jantungnya tiba tiba berdetak tidak karuan? Apa
virus itu sedang menghancurkannya?
Ha Ra membuang muka
ketika pada akhirnya Kris memeluk Min Ji seperti kemarin, menyalurkan semua
rasa hangat yang dia punya.
Ha Ra menempelkan
tangannya di bibir ketika Min Ji menatapnya dengan mata basah, sstt…
***
Min Ji – ya… aku mohon
jangan libatkan Jun Seok karena aku akan dipenjara, aku akan menanggungnya,
tidak apa apa jika kau tidak bisa memaafkan kami, tolong jangan sebut namanya,
aku akan segera menyuruhnya pergi keluar negeri…
Min Ji meremas remas kertas putih di
pangkuannya. Tinggal mengatakannya pada Ha Ra dan mereka semua akan tertolong.
Jun Su sudah melindunginya sejak umur empat tahun, tegakah dia membiarkannya
dipenjara? Min Ji masih merasakan kakinya meremang karena laki laki itu
bersujud di sana tadi. Memohon dengan amat sangat agar adiknya tidak perlu
dilibatkan. Dia masih belum berubah, masih menjadi pelindung terkuat di dunia.
Dia datang setelah tiga jam diinterogasi di kantor polisi dan tubuh basah kuyup
karena kehujanan.
Dia sudah mampu
berbicara walaupun dengan suara yang kecil, laki laki itu yang pertama kali
mendengar suaranya kembali.
Aku mohon Min Ji – ya jangan
libatkan adikku…
Hujan yang merinai
deras di hadapan Min Ji membuat ingatannya melayang ke Cina, dulu sewaktu
mereka baru pindah Jun Su juga basah kuyup karena berkeliling mencarikannya tteokbokki
saat dia sakit perut karena tidak terbiasa makan masakan Cina.
Jun Su selalu
melakukan apapun agar dia tidak marah, mulai hal hal konyol sampai yang
membuatnya tersentuh.
Bagaimana jika Min Ji
memberinya kesempatan?
“Im Min Ji cepat
tulis…” Min Ji tergagap mendengar suara Ha Ra.
“Nanti Kris bangun, cepat…” dia berjinjit keluar
dari kamarnya ketika Kris tertidur dan mendorong kursi roda Min Ji keluar. “
Kalau kau tidak bisa bicara cepat tulis” desak Ha Ra dengan gelisah. “Bagaimana
aku bisa melindungimu dan Kris kalau aku tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi?”
Min Ji mencengkeram
kertas itu hingga sobek, Ha Ra benar benar sok tegar, Kris sudah bahagia
dengannya, kenapa dia malah repot?
Ha Ra berjongkok di
depan kursi rodanya, “Aku tahu kau dan Kris masih suami istri, aku minta
maaf Im Min Ji – ssi telah mengambil
suamimu. Aku akan mengembalikannya padamu, waktu yang dimiliki Kris tidak
banyak, jadi pergunakanlah sebaik baiknya…”
Min Ji memegang lengan
Ha Ra, Kris akan lebih terluka jika
bersamaku.
“Aku tidak tahu kenapa
kau dan dia sampai terpisah seperti ini, tapi ini pasti bukan keinginan kalian,
kasihan Hyo Sun juga, dia harus mengetahui siapa Appanya sebelum Kris benar
benar pergi. Soal Myung Soo kau jangan khawatir, aku dan Jong In akan
menghalaunya. Kami akan melindungi kalian berdua, cepat tulis Im Min Ji apa
yang sebenarnya telah terjadi…” Ha Ra
berusaha mengendalikan eomosinya, tubuhnya demam lagi dan dia juga ingin
muntah.
Bukan Kim Myung Soo Ha
Ra – ssi, dia adalah orang yang baik.
Ha Ra menggenggamkan pulpen
itu ke tangan Min Ji. Bukannya menggores, ujung pulpen itu malah menusuk kertas
hingga berlubang. Ha Ra menoleh gelisah ke ujung lorong, “Cepat, Kris akan
bangun dan menemukan kita…” desaknya tidak sabar. Min Ji menatapnya lekat, Kris
sudah menemukan orang yang tepat. Hanya Ha Ra yang bisa melindunginya. Dia
masih ingat senyum Kris ketika datang bersama Ha Ra di waktu waktu lalu.
“Im Min Ji ini demi
anakmu, cepat lakukan…” Ha Ra menunduk, memohon. Diberi kemudahan kenapa sulit
sekali menerima? Tangan Min Ji yang bergetar memegangi pulpen itu, persis
seperti anak balita yang baru pertama kali memegang pulpen dan dengan susah
payah dia menggoreskan tintanya. Jun Su – ah aku akan memberimu kesempatan tapi
jangan berbohong lagi.
Ha Ra mengambil kertas
dari pangkuan Min Ji dan berlari pergi sebelum Min Ji melihatnya menangis.
Min Ji membungkuk
mengambil selembar kertas yang dijatuhkan Ha Ra dari sakunya ketika memberinya
kertas. Kertas yang menyatakan bahwa dia hamil. Dasar wanita keras kepala.
***
“Kau kenapa, nak? jangan membuat Ibu takut…” Ha Ra mengelus
perutnya dan naik ke ranjang. Dia baru saja memuntahkan semua yang dimakannya.
Kamar rawatnya kosong, tas Hyo Sun tergeletak di sofa. Dia memang menyuruhnya
mengajak Kris ke kamar Min Ji.
“Kau harus membiasakan
berpisah dari Appa mulai sekarang, Appa tidak akan bisa selamanya bersama kita
tapi kau jangan takut ada Ibu dan juga Nenek yang akan menjagamu… Hei, kenapa
kau diam saja? kau tidak dengar Ibu bicara? dasar anak nakal…” Ha Ra tertawa
kecil. “Kau anak yang spesial, kau anak hebat…”
Tidak akan ada Ayah
yang memanjakan anaknya nanti, tidak ada yang akan diajaknya berdiskusi memilih
nama. Siapa namanya nanti? Menggunakan nama Korea atau Cina? Tidak akan ada
yang mencarikannya jika dia ingin makan ini itu.
“Jangan menangis ya,
Ibu juga tidak akan menangis” Ha Ra mengeluarkan kertas lusuh dari sakunya,
hanya sebaris kata yang acak acakan.
Gomawo, Ha Ra – ssi…
Ha Ra memperhatikan
kertas itu beberapa lama dan melipatnya lagi, Kris telah kembali ke tempatnya
yang benar. Dia memejamkan mata, dia
harus sudah tidur sebelum Kris kembali agar dia tidak mengajaknya bicara.
Dokter KMS dari rumah
sakit Seoul telah menjalani pemeriksaan hari ini dan terbukti terlibat dalam
peredaran obat illegal bersama dokter LJ. Polisi juga sedang mengejar jaringan
penjual organ tubuh dan juga dokter LJ telah terbukti menjual darah kepada
pasien yang membutuhkan donor darah dengan harga tinggi. Hari ini polisi
menggeledah apartemen dokter KMS yang juga berprofesi sebagai selebriti ini dan
menemukan barang bukti berupa obat perusak memory.
Ha Ra membuka matanya
ketika mendengar suara pembaca berita di TV. Dia tercekat namun kemudian
tersadar, 2 – 0 , dia kecolongan lagi.
TBC
Maaf ngaret dan
ceritanya makin gak jelas, masih ditunggu RCL nya yaaa….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar