ONE SHOOT – MATE (
Special Fanfiction For 29 th Choi Siwon Birthday )
A Fanfiction By Septi Titanika
Cast
: Choi Siwon
Inka
Veda Putri
Genre
: Romance
Rated
: PG 15
Length
: One Shoot /4689 word.
The Fanfiction Is
mine, castnya milik saya. Inspirasi cerita ini adalah dari cerita lama yang
pernah saya tulis saat sekolah dulu, dari FF saya, protect the wife dan dari
film Thailand Hello Stranger. Apabila ada kesamaan itu hanya kebetulan, don’t
bash and happy reading^-^
Awas cerita aneh,
nggak ada konflik sama sekali , nggak ada feel sama sekali dan typo bertebaran,
Judul nggak sesuai dengan ceritanya.
Universitas
City College Of San Fransisco,
San Fransisco, Amerika Serikat .
Salah
satu universitas terkenal di San Fransisco itu itu masih cukup ramai oleh
puluhan mahasiswa walaupun hari sudah cukup sore. Mereka yang sudah
menghabiskan kelasnya hari ini lebih memilih bersantai di taman kampus yang
hijau, menghirup udara segar di musim panas. Walaupun musim panas merupakan
waktu libur, tapi bangunan kampus itu tetap saja ramai.
Choi
Siwon mengusap kacamatanya yang berkabut dan menutup The Three Musketeers yang
sudah dibacanya hingga sepertiga. Dia menengok lagi – untuk yang ke sepuluh
kalinya ke arah fakultas desain lalu menghembuskan nafas panjang, oke dia masih
akan terus menunggu sampai Seo Yi Hyun keluar. Sejam, dua jam, sampai tengah
malam pun dia akan tetap berada di sana. Dia sudah bertekad akan menjemputnya
walaupun Yi Hyun sudah melarangnya, “Choi Siwon, aku sangat sibuk beberapa hari
ini, kita bicara lain kali saja…”
Yeojachingunya
itu beberapa hari ini sulit dihubungi, mereka sempat bertengkar karena masalah
sepele. Dia hanya berusaha mengingatkannya agar tidak terburu buru dan
mengambil jalan yang salah. Tapi gadis itu bersikap sekeras batu, ‘ aku sudah
memikirkannya berulang ulang dan tidak akan mundur selangkahpun’. Siwon
menyandarkan punggungnya di bangku kayu tempatnya duduk, matanya ke bangunan
gedung megah bertingkat tiga itu. Tidak mudah masuk ke sana, dia saja tidak
berhasil. Seo Yi Hyun lah yang berhasil masuk ke sana dengan susah payah, dan
sekarang dia bertekad mempertahankannya, bahkan bila mungkin naik ke tingkat
yang lebih tinggi. Sekarang kesempatan itu terbuka lebar, namun Siwon
menentangnya.
“Aku
hanya tidak ingin kau berhasil namun dengan jalan yang salah..” gumamnya pelan.
Salah seorang teman Yi Hyun baru saja meninggal dan dia bermaksud menggunakan
desainnya atas namanya. Teman yang tidak mungkin dilakahkan oleh Yi Hyun dengan
desainnya sendiri. Siwon mengecek ponselnya, dia sudah menelfon Yi Hyun tiga
puluh enam kali hari ini. Yi Hyun hanya membalasnya dengan sebuah pesan
singkat, kalau kau belum menyetujui apa yang ingin kulakukan, aku belum akan
bicara denganmu…
Siwon
bisa paham dengan apa yang dirasakannya, dia pergi ke Amerika untuk mengejar
impiannya menjadi seorang desainer kelas dunia hanya dengan berbekal sedikit
uang. Dia belajar tanpa lelah bahkan kadang tidak tidur agar tidak kehilangan
beasiswanya. Begitu kesempatan itu datang, orang bodoh mana yang akan menyia
nyiakannya?
Berbeda
dengan dia yang datang ke Amerika hanya karena bosan hidup dengan adiknya di
Korea. Dia membuka tasnya, mengelus kalung yang diberikan adiknya sebelum dia
kembali ke Korea kemarin. Kalung berbandul potongan Yin dan Yang berwarna
putih, Yang. Ujung bibirnya menyunggingkan senyum miris. Walaupun mereka
saudara kembar, mungkin selamanya mereka tidak bisa bersama, tidak akan pernah
sepaham. Apa adiknya memberikan kalung itu sebagai penegasan? Hanya Yin, dia
sudah memisahkan Yin dan Yang itu. Adiknya sepertinya benar benar tidak sudi
lagi mereka hidup bersama.
Siwon
membuka lagi novel classic yang cukup tebal di pangkuannya, ada kertas terlipat
yang terselip di sana. Benda yang mungkin sekarang menjadi nyawa Yi Hyun,
sketsa desain milik Yoon Hee Joo. Dia menelusuri gambar yang masih berupa
coretan pensil itu..huft…
Inka
menengok ke sana kemari, mencoba mencari orang Asia di antara orang bule yang
berserakan. Ponselnya tidak lepas dari telinga, dimana sih sepupunya? Tersesat
di kampus asing dalam mimpipun tidak pernah sekalipun terjadi.
“Yoga,
kamu pergi kemana sih?” Dia sudah berdiri di tangga utama yang menuju pintu
kampus, namun kemudian berbalik lagi, kalau dia masuk, mungkin malah tidak akan
bisa keluar. Dia sudah berputar putar di luasnya taman universitas itu, namun
tidak ketemu juga. Katanya hanya ingin ke toilet, tapi malah hilang entah ke
mana, tidak sadarkah jika dia buta Amerika?
“Yoga,
angkat telfonku…”dia merutuk pada ponselnya. Dia dan Yoga, sepupunya, diutus kakek mereka ke Amerika untuk mengurus
beberapa hal sehubungan dengan meninggalnya sepupu mereka yang ada di sana,
Yoon Hee Joo.
Dengan
kesal, Inka membanting tubuhnya di bangku kayu di bawah pohon yang cukup teduh.
“Menyebalkan sekali, kenapa juga aku bisa sampai di sini, walaupun Yoon Hee Joo
itu sepupuku, aku juga baru bertemu di sekali…” Dia bahkan tidak sudah lupa
punya sepupu orang Korea. Tangannya gemas memukul mukul novel tebal yang tadi
dititipkan Yoga padanya. “Tidak tau apa buku ini berat, Yoga, kupukul kalau kamu
kembali…” . Dia melempar The Three Musketeers itu ke tanah, namun
sedetik kemudian mengambilnya lagi sambil mengomel tidak jelas.
Siwon
menengok ke belakang punggungnya. Dia sempat mendengar sebuah kata, Yoon Hee
Joo, tapi kata lainnya diucapkan dalam bahasa yang tidak dia mengerti. Bangku
tempatnya duduk ada dua dan menempel saling membelakangi, seorang gadis duduk
memunggunginya. Apa dia ingin mengambil desain Yoon Hee Joo juga?
“Yoga
dimana kamu? Kamu mau aku jadi gelandangan, hah?” akhirnya Yoga mengangkat
telfonnya. “Hah, kamu tunggu di situ, aku kesitu jangan ke mana mana, di dekat
pohon besar, oh iya, aku sudah lihat…”
Inka memberesi ranselnya dan berjalan pergi, meninggalkan novelnya di bangku.
Siwon
menghela nafas, mengirim SMS pada Yi Hyun,
kutinggalkan
di bangku taman, ambillah…dia meletakkan bukunya di bangku
taman dan melangkah pergi dari tempat itu. Yi Hyun sudah berusaha keras dan
mungkin hal terbaik yang bisa dia lakukakan adalah mendukungnya…
***
“Kau
tinggalkan di mana, tidak ada apa apa?” pagi pagi Yi Hyun sudah membangunkan
Siwon , benar benar datang ke rumahnya dan menarik selimutnya dengan paksa.
“Kau bilang kau selipkan di buku, aku sudah hampir mengancurkan buku ini, tapi
tidak menemukan apapun…” Yi Hyun melemparkan buku tebal itu ke Siwon, Siwon
lebih sigap menangkapnya.
“Aku
menaruhnya di buku itu…” Siwon membalik buku itu, membuka lembarannya seperti
petugas bank menghitung uang. Bagaimana mungkin bisa tidak ada?
“Kau
benar benar ingin menghalangi jalanku, oppa?” Yi Hyun duduk di sisi ranjang
Siwon, tubuhnya melemas. “Aku sudah jauh jauh pergi ke sini dan aku tidak ingin
gagal..kumohon sekali ini saja, aku benar benar harus melakukannya..”
“Aku
menyelipkannya di sini…” antara halaman seratus empat puluh dan seratus empat
puluh satu, dia bahkan masih ingat dengan detail. Dia mencoba mengembalikan
ingatannya ke kampus kemarin, tiba tiba dia merasa disengat listrik. “Gadis
itu..” dia nyaris memekik. Hee Joo memandangnya tidak mengerti.
“Ayo
kita cari di kampus..” Siwon menarik jaketnya. Gadis yang duduk di belakangnya
kemarin juga membawa buku yang sama, semoga buku itu tertukar dan Yi Hyun
mengambil buku yang salah. Mau dicari sampai tahun depan pun juga tidak akan
ketemu.
“Kertas
itu penting, oppa, makanya kau jangan meletakkannya sembarangan, bagaimana
kalau ada orang yang menggunakannya?”
Mustahil
memang mencari orang tidak dikenal di kampus, tapi bagaimana bisa tahu kalau
tidak dicoba?
***
“Sayang
aku baru bertemu dengan Yoon Hee Joo sekali..” Inka dan Yoga berjalan
beriringan menuruni tangga, dia mendekap kotak berisi barang barang milik Hee
Joo yang akan mereka bawa pulang. “Aku tidak sepintar dia, hebat ya dia bisa
mendapat beasiswa di Amerika..”
“Hem..”
jawab Yoga pendek, dia sibuk memandangi foto Hee Joo di ponselnya. “Otakku
tidak seencer dia, mungkin Tuhan sayang padanya hingga memanggilnya lebih
cepat…” kata Yoga lirih. Mereka jarang bertemu karena hidup di negara yang
berbeda. Terakhir Inka melihat Hee Joo adalah dua tahun lalu, saat dia berlibur
ke Jakarta.
“Kamu
tidak ingin kuliah di sini?” tanya Yoga tiba tiba.
Inka menoleh, “Kuliah di sini?” tiba tiba dia
ingat dengan kuliahnya, rumahnya, pac..dia menarik nafas panjang, dia bahkan
tidak pamit akan ke Amerika.
“Kemarin
kamu bilang ingin lari saja? Di pesawat, masa kamu sudah lupa?”
Lari,
itulah yang sedang dilakukannya sekarang. Lari seperti vampir yang takut pada
matahari, lari dari sesuatu yang indah dan memberikan kehidupan. Akhir akhir
ini dia merasa resah dengan hubungannya dan pacarnya, Stea, dia sudah mencoba
berbahagia di sampingnya, namun tetap saja ada yang mengganjal. Dia sudah
berusaha tidak membuatnya sedih dan memikirkan apa yang sudah terjadi. Namun
dia terlalu perasa dan seperti ingin menghindarinya. Dia tahu betul dengan apa
yang Stea rasakan, hutang nyawa itu tidak enak. Dia bahkan tidak yakin hubungan
mereka masih bisa dijalani….
“Woi,
jangan melamun ?” bentak Yoga,” Nanti kamu bisa kerasukan, Hee Joo baru saja
meninggal siapa tahu arwahnya masih ada di sini..hiii…” dia bergidik.
“Ih
jangan bicara begitu, tidak baik. Ya sudah, ayo jalan…” Inka mencoba tertawa. Stea,
apa kamu tidak mencariku? Batinnya. Dia
sudah mencob menelfonnya berulang ulang namun tidak tersambung. Mama Stea
bilang dia pergi ke Lombok, apa dia benar benar ingin menjauhinya?
Siwon
dan Yi Hyun berlari secepat yang mereka bisa, mengejar orang yang sudah satu
jam mereka cari. Mereka baru menemukannya ketika gadis itu sudah melambaikan
tangannya untuk menghentikan taksi.
“Heii…kau
tunggu…” Siwon menghentikan langkahnya, terengah engah.
“Oppa,
kau yakin dia orangnya?” Yi Hyun menyusul di belakangnya, menata nafas.
Terlambat , pintu taksi sudah terbuka ketika dia berteriak. “ Nonaa….tunggu..,
kembalikan bukuku…” sia sia dia mambuang tenaganya untuk berteriak, taksi itu
tancap gas dengan kecepatan penuh, membawa impiannya, tujuannya datang ke
Amerika pergi entah kemana, hancur seperti debu..Dia menatap Siwon dengan mata
memerah, tubuhnya menegang.
“Kau
harus berusaha sendiri..” Siwon mencoba menenangkannya, “Kau pasti bisa..”
“Aku
tidak mau bertemu denganmu lagi..”Yi Hyun mengusap air yang turun dari matanya.
Dia berlari pergi, tidak peduli pada Siwon yang terus terusan memanggilnya. Siwon
memukul udara, bukankah dia sudah mengatakannya sejak awal? Dia sangat mencintai
Yi Hyun, ingin melihanya sukses, namun di satu sisi dia juga tidak setuju
dengan cara kotor Yi Hyun . Dia bisa ikut frustasi.
***
Kereta Amtrak Coast Starlight melaju cepat dari kota
Davis menuju stasiun terdekat dengan
Golden Gate di Emeryville, meninggalkan bayangan pepohonan yang berlarian
dengan cepat. Inka menutup brosurnya, membaca terlalu lama malah membuatnya
pusing. Dia mencoba menghibur diri dengan berjalan jalan mumpung sedang ada di
Amerika, tapi nyatanya pikirannya sama sekali tidak bisa fokus. Dia memandang
ke luar lewat jendela kereta, dia akan ke Golden Gate, dia bahkan sudah membeli
tiket untuk mengikuti tur Golden Gate By Cruiser. Yoga pergi sendiri, entah dia
akan ke mana Inka juga tidak tahu. Pikirannya sedang kalut, mungkin kalau dia
hilang malah akan lebih baik.
Inka
menimang nimang ponselnya, Stea mungkin juga tidak akan mengangkatnya jika dia
menelfon dengan nomor Amerika. Biarkan saja lah, mungkin menjauh untuk
sementara akan lebih baik, untuk introspeksi diri. Apa Stea sedang kebingungan
mencarinya sekarang?
Mata
Siwon membulat, dia merasa tidak asing dengan gadis yang duduk sendirian
menghadap jendela. Rambutnya yang tergerai berantakan ditiup angin dengan kaos
lengan panjang dan syal katun yang sewarna dengan kaosnya, putih, memangku tas
selempangnya…
Benar,
dia gadis yang membawa bukunya kemarin. Kalau kemarin dia mengejarnya dengan
menggebu gebu, maka sekarang niat itu tidak ada sama sekali. Semalam dia dan Yi
Hyun bertengkar hebat, kepalanya juga menjadi sedikit pusing. Siang ini tanpa
pamit pada Yi Hyun , dia pergi jalan jalan ke Golden Gate. Dia sudah tidak
peduli lagi, terserah Yi Hyun mau melakukan apa.
“May
I seat in here?” Sebetulnya nomor kursi Siwon ada di belakangnya, namun
sepertinya duduk di situ lebih nyaman dan gerbong itu hany terisi kurang dari
separuh.
Inka
menoleh, baru sadar jika kursi di sampingnya kosong, dia memperhatikan orang
yang berdiri di dekatnya dari ujung kaki sampai ujung topinya, tinggi, bermata
sipit, dan yeah..jauh lebih tampan dari Stea, orang Asia, mungkin Jepang atau
Korea. Dia mengangguk tanpa ekspresi.
Siwon
duduk menempelkan punggung dan kepalanya pada sandaran kursi senyaman mungkin,
memangku ranselnya dan membuka buka brosur wisatanya.
“Oh,
kamu mau ka Golden Gate juga? Sepertinya kamu orang Asia..” senang rasanya
menemukan orang yang satu ras di tempat antah berantah seperti ini.
“Ya
aku Korea..” Siwon tersenyum kecil, dia sudah lama tidak bertemu orang Asia
juga, hanya Yi Hyun dan sekarang dia sudah bosan melihatnya setiap hari.
“I’m
Indonesian…” Inka memperkenalkan diri, “Bali, you know, Bali?”
Siwon
mengangguk, dia pernah ke sana sekali – sewaktu berumur empat tahun kalau tidak
salah. Mulutnya gatal ingin menanyakan soal buku itu, tapi sudahlah, itu sudah
tidak penting lagi sekarang. Jika Yi Hyun mau berusaha sendiri, dia pasti akan
sukses. Lagipula sepertinya gadis ini orang yang nyaman untuk diajak bicara, mungkin
sedikit bisa mengurangi beban yang menumpuk tumpang tindih di hatinya.
“Kamu
sudah pernah ke Golden Gate?” Inka takut jika dia tersesat.
“Tenang
saja, aku sudah hampir empat tahun di Amerika..” Siwon mengacungkan empat
jarinya. Inka tertawa kagum, Siwon ikut tertawa.
“Syukurlah..”
Inka mengelus dada, “ Aku belum pernah ke Golden Gate dan hanya sendirian,
sepupuku maninggalkanku entah ke mana…”
“Oh,
kau hanya sendirian?” Siwon menengok ke kanan kiri, sampai sampai dia tidak
menyadari kalau mereka sama sama hanya pergi sendirian. “Berani sekali kau, kau
gadis yang hebat..” Siwon mengangkat dua jempolnya. “Kau juga hanya sendirian
ke Amerika? Dalam rangka berlibur atau apa?”
Mata
Inka menatap kehijauan pepohonan di luar, namun pikirannya sama sekali tidak ke
sana. Dia teringat Stea, dia masih dalam tahap pemulihan setelah transplantasi
ginjal, apa dia sehat sehat saja sekarang? Dia sering lupa minum obat, ahh Inka
bahkan sudah menambah beban pikirannya…
“Dalam
rangka apa?” haruskah dia jawab dalam rangka kabur dari masalah? “Sepupuku
meninggal, jadi aku kemari..” Inka tersenyum simpul.
Siwon
tercekat, “ Sepupumu kuliah di San Fransisco?”
“Hehem..dia
baru saja meninggal..”
Lagi
lagi Siwon menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, telinganya berdengung,
bukan karena keramaian kereta. Rasa gelisah menyusupi dadanya, untung dia tidak
berhasil mengejar gadis Indonesia ini. Kalau berhasil, Yi Hyun mungkin akan
dimasukkan ke penjara. Tuhan masih melindunginya dan Yi Hyun, Yi Hyun pasti
akan berhasil dengan usahanya sendiri.
“Maaf,
aku sudah mengingatkanmu padanya…”
“No
problem, aku juga tidak terlalu mengenalnya…oh, ini sudah sampai di stasiun
ya?” laju kereta mulai melambat. Dari stasiun Emeryville mereka masih harus
naik bus ke Fisherman Warf untuk benar
benar sampai ke Golden Gate, “Ayo turun, kita jalan sama sama saja..”
Siwon
mengangguk dan mengikuti langkah langkah riang Inka. Ayolah Choi Siwon lupakan
Yi Hyun sebentar dan cobalah bersenang senang, selama ini kau sudah terlalu
sering mengikuti apa yang dia inginkan.
Dia memasang senyum lebar, “Kita tunggu busnya di sana..”
***
Inka
melipat tangannya di perut, kulit telapak tangannya sering mengelupas jika
terkena udara dingin, alergi. Musim panas di Amerika benar benar berbeda dengan
di Indonesia, ini musim panas tapi angin laut membawa kabut di mana mana. Sudah
jam lima sore, kabut sudah kembali turun mengukung teluk San Fransisco. Inka
menatap takjub pada Golden Gate yang berdiri kokoh di peluk kabut, hingga
tampak seperti terbenam di awan. Awan awan itu berwarna jingga karena ditimpa
sisa sinar matahari,menciptakan harmoni sempurna dengan Golden Gate yang didominasi
oleh warna merah.
“Aku
sudah beberapa kali ke sini, tapi aku
belum pernah melihatnya seindah ini..” Siwon menyeruput mochacinnonya, ke dua
tangannya tertangkup pada badan cangkir keramik berwarna coklat itu, sensasi
hangatnya terasa menggelitik. Sisa uapnya keluar ketika dia berbicara.
“Huh, beberapa bulan lalu udaranya juga tidak
sedingin ini…pemanasan global semakin parah” gumamnya, dia datang bersama Yi
Hyun beberapa bulan yang lalu. Menikmati sunset pasifik dari atas kapal dengan
bahagia. Seratus delapan puluh derajat berbeda dari sekarang, pergi dengan
orang tidak dikenal, tanpa pamit dan dalam suasana hatinya yang kacau.
Inka merapikan rambutnya yang berantakan
tertiup angin laut yang cukup kencang, mereka berdiri di dek, menikmati pemandangan
indah kota dari atas kapal. Pulau Alcantraz mulai menjauh di belakang, bebatuan
granitnya tampak mempesona dan misterius dengan beberapa bangunan penjara yang
telah kosong. Siwon mengarahkan kameranya ke mercusuarnya yang makin mengecil,
sebelum benar benar hilang dari pandangannya. Dia berbalik dan mengarahkan
lensanya ke kerlap kerlip lampu kota yang tampak seperti kunang kunang di negeri
dongeng. Sangat berbeda dengan dua orang yang sedang berusaha membebaskan diri
dari belitan keresahan di hati…
“Kau
mau mengambil foto juga?” Siwon menyorongkan kameranya.
“Tidak
ah…” tolak Inka halus, “Kalau aku mengambil foto, nanti aku jadi ingin ke sini
lagi…”. Besok dia akan pulang ke Indonesia, kemarin dia sama sekali tidak
bersemangat ke sini, tapi sekarang
rasanya melah berat untuk pergi. Benar, sesuatu akan menjadi berharga
ketika hanya sedikit atau sudah benar benar tidak ada. Mungkin hubungan
cintanya juga akan menjadi berharga jika sudah tidak ada. Apa harus diakhiri
dan jika masih mungkin dimulai dari awal lagi?
“Kau
tidak mau ke sini lagi, kenapa?” tanya Siwon penasaran.
“Aku
mencoba mencari pelarian ke sini…” jadi tidak ingin mengulanginya lagi, sekali
saja seumur hidupnya. Mencari tempat untuk kabur hingga ribuan kilometer.
“Kau
sepertinya sedang ada masalah, aku melihatmu tidak bersemangat di kereta
tadi..apa kau masih memikirkan Yoon Hee Joo..” Siwon buru buru menutup mulutnya
ketika gadis di sampingnya itu menatapnya tajam, “Maksudku apa kau masih
bersedih dengan kematian sepupumu?” dan segera meralatnya.
“Aku
dan dia tidak terlalu dekat, kami baru bertemu dua kali seumur hidup. Bukan ,
bukan itu, ini soal aku dan pacarku…”. Mungkin bercerita kepada orang asing
yang besok tidak akan ditemuinya lagi malah akan lebih baik. Hatinya sudah
buncah oleh beban, dadanya seperti ditindih batu besar. Kotak rahasianya,
tempatnya paling nyaman dan aman untuk bercerita kini sudah pergi sangat jauh.
Meninggalkannya, pamit hanya dengan sebuah surat pendek, tidak akan pernah bisa
dia lihat lagi sekalipun dia memanggilnya hingga tenggorokannya putus. Tanpa
sadar matanya basah, dia mengusapnya dengan ujung syal.
“Maaf
kalau aku membuatmu pada hal buruk yang tidak ingin kau ingat…”
“Akulah
yang bodoh meninggalkan dia tanpa pamit. Hubungan kami sedang berada di titik
renggang dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, di tempat seindah ini aku
juga tidak bisa melupakannya”
“Jangan
kau paksa melakukan sesuatu yang kau tidak sanggup untuk kau lakukan…” Dia juga
sedang mencoba membiarkan Yi Hyun melakukan apa yang ingin dia lakukan, dia
tidak akan sanggup melihatnya sedih.
“Aku
tidak tahu harus bagaimana lagi, hubungan kami di luar terlihat baik, tapi
tidak begitu, ini lebih seperti balas budi…”
“
Aku juga mengenal seorang wanita, dia ingin melakukan hal yang sebetulnya aku
tidak suka…menurutmu aku harus bagaimana?”
“Pacarmu?”
“Entahlah
nanti…” Jawab Siwon pendek, dia menghabiskan tegukan terakhir cappucinonya.
Kalau Yi Hyun benar benar akan melakukan hal bodoh itu, mengatasnamakan desain
Hee Joo atas dirinya, hubungan mereka akan berakhir, dia akan memutuskannya. Kalau dia benar benar
merasa hebat, itu artinya sudah tidak membutuhkannya lagi.
“Seseorang
pasti punya alasan melakukan sesuatu, entah itu baik atau buruk..” Kenapa ‘dia’
membawanya masuk ke dalam hubungan ini, pasti ada alasannya, sekalipun ‘dia’
tahu tidak akan mudah bagi Inka untuk merasa nyaman. Sekarang dia sedang
berusaha memahami alasan itu, berusaha menerimanya walaupun rasanya sangat
sakit.
“Kenapa
kau mengambil alasan yang buruk untuk pergi ke Amerika? Kenapa kau mengambil
niat untuk lari, bukankah akan lebih baik kalau kau mengajak kekasihmu dan
membicarakannya bersama di senja yang nyaman seperti ini?” Siwon menatap wajah
Inka yang memerah terkena biasan sinar matahari. Seharusnya pertanyaan itu
ditujukan untuknya, kenapa dia tidak mengajak Yi Hyun dan bicara baik baik?
“Aku
terlalu takut untuk melihatnya..” itu akan mengingatkannya pada ‘dia’. “Dia
sudah berusaha mendapatkanku selama tiga tahun, aku tidak ingin melihatnya
menjadi putus asa karena pada akhirnya kami bersama namun dengan cara yang
tidak kami inginkan..” Inka mendesah, “Dia sekarang hidup dengan ginjal orang
yang sangat mencintaiku…” Adakah hubungan yang lebih buruk dari itu?
“Kau
orang yang sangat beruntung ya, kenapa kau harus kabur jika dikelilingi orang
yang menyayangimu?”. Berbeda dengan dia, dia dan Yi Hyun, bertengkar sehari,
berbaikan dua hari, bahkan dia baru saja mengusir adiknya yang jauh jauh datang
dari Korea hanya untuk menengoknya.
“Kasih
sayang yang terlampau banyak itu malah kadang bisa menyesatkan…” Inka menyedot
vanilla latenya yang mulai dingin. Pandangannya terarah jauh ke bayangan
matahari yang tinggal separuh terlukis dia air yang keemasan. Di seberang sana,
daratan Amerika yang bersiap menyambut malam mengintip dari balik kabut yang
makin menebal. Laut pasifik juga tampak samar samar.
“Kisah
cintamu sepertinya rumit…” lagi lagi Siwon mengarahkan kameranya, kali ini ke arah
wajah Inka. Inka menutupnya dengan tangan, dia suka difoto, tapi tidak dengan
wajah sayu, mata merah dan rambut berantakan.
“Ah
aku merasa bersalah meninggalkan dia tanpa pamit…” Inka merenggangkan tangannya
yang pegal, namun dia segera menyesalinya, udaranya makin dingin. Dia mengeluarkan
ponselnya dari tas selempangnya, berharap menemukan satu saja telfon atau SMS
dari nomor Stea, kamu benar benar tidak mencariku? Benar benar senang aku
menghilang? “Mungkin dia merasa bebas jika aku tidak ada, dia tidak akan punya
beban lagi, aku juga tidak tega melihatnya seperti itu…”. Inka menutup wajahnya
ketika tiba tiba ingatannya kembali ke beberapa bulan yang lalu, reaksi syok
Stea ketika baru sadar setelah transplantasi ginjal. Saat itu dia mendapatkan
hasil dari apa yang diinginkannya selama tiga tahun, namun bersamaan dengan itu
penderitaanya juga dimulai.
Siwon
mengucak rambut Inka, entah kenapa dia juga sedih melihat gadis ini sedih, rasanya
seperti mengobrol dengan teman lama. “Kau harus perbaiki hubunganmu dengan dia,
ada orang yang telah berkorban untuk kalian, itu adalah sebuah keberuntungan…”.
Dia juga ingin memiliki keberuntungan seperti itu. “Jangan sampai kau menyesal
hanya karena hal bodoh…”
Inka
berbalik, memunggungi Siwon, mengusap matanya yang basah, apa sih yang dia
lakukan, menangis di depan orang asing. Di depan Stea saja dia tidak pernah
menangis…
“Aku
hanya tidak ingin melihatnya tersiksa…”
“Berpisah
denganmu pasti akan membuatnya lebih tersiksa, walaupun dia tersiksa sekarang
setidaknya itu akan sedikit berkurang kalau kau ada di sampingnya…”. Siwon juga
tidak tahu kenapa bisa bicara seperti itu seperti hubungannya adalah yang paling
sempurna di dunia. Teori saja. “Maaf aku jadi lancang menasehatimu seperti
ini…” Dia membuang pandangannya ke lumba lumba yang berkejaran mengikuti arus
kapal dan buru buru memotretnya.
“Kau
ini seperti Mamaku saja, menasihati ini itu…” Inka tertawa, “Oh lumba lumba…”
Dia menunjuk ke air. Lumba lumba itu refleks membawa ingatannya ke Lombok,
pantainya yang indah, di mana dia dan Stea pernah bersenang senang. Orang Korea
ini benar, akan lebih mudah jika mereka hadapi bersama, bukan malah memisahkan
diri. Hatinya mulai sedikit longgar...
“Berjanjilah
kau dan kekasihmu akan segera berbaikan, lalu kembalilah ke sini bersamanya…”
Kali ini Siwon berhasil mengambil foto Inka. Inka memberengut.
“Ya,
kau masih akan tinggal lama di Amerika? Kita buat double date nanti…”
canda Inka, kali ini dia malah bergaya dan tersenyum manis, masa bodohlah.
Siwon
termenung sejenak lalu tertawa sinis, “Ya
aku akan segera mencari kekasih..”
“Kalau
aku berbaikan dengan pacarku, kenapa kau tidak melakukannya juga?” Dia meninju
lengan Siwon pelan.
“Dia
orang yang sulit, dia akan segera berganti nama dan tidak mengingatku lagi..”
Siwon mengusap rambutnya yang juga berantakan oleh angin, sial, dia lupa
membawa topi. “ Cita citanya akan tercapai dan aku juga tidak dia butuhkan lagi…”
. Dia yang mendampinginya selama hampir empat tahun ini, menerimanya apa adanya
walaupun mereka jelas jelas sangat berbeda. Kalau bukan karena Yi Hyun dia juga
tidak akan tahu bagaimana orang miskin hidup, sekarang sepertinya memang harus
sudah berakhir, sudah mulai membosankan.
“Jauh
jauh aku ke sini, ternyata malah menemukan orang galau juga…” yah nasib mereka
hampir sama, resah dengan cinta yang membelenggu.
“Aku
tidak bisa terus membela orang yang melakukan hal yang salah…”
“Sekalipun
kau sangat mencintainya?”
“Aku
akan mencoba hidup tanpa dia…”
“Kau
tidak takut akan berakhir seperti aku…” Mencoba pergi namun nyatanya itu sulit
untuk dilakukan. Tiga tahun persahabatannya dengan Stea tidak mudah untuk
dilupakan, terlanjur terlalu banyak hal yang telah terekam. Dan saat mereka
telah menjadi kekasih, sangat sulit untuk pergi. “Aku mau ke toilet dulu, titip
tasku ya…” Inka melepas tas selempangnya dan meletakkannya di dekapan Siwon
sebelum dia menjawabnya.
Sampai
semenit kemudian Siwon merasa membeku. Dia dan Yi Hyun sudah bersama sangat
lama, mampukah mereka hidup terpisah? Yi Hyun yang berjuang keras dari nol,
tegakah dia menghancurkannya? Gadis dengan mimpi setinggi bintang yang telah
menyadarkannya bahwa dia juga harus punya mimpi yang harus diraih. Dia datang
ke Amerika hanya karena muak dengan adiknya, tanpa tujuan apapun. Pertama kali
dia menemukan Yi Hyun pingsan di depan rumahnya karena lelah berjalan kaki
karena kehabisan uang. Setelah sadar yang diingatnya pertama kali adalah
sekolahnya, dia ada ujian dan langsung meloncat pergi, tidak boleh terlambat.
Sejak saat itu hubungan mereka dimulai,
Yi Hyun banyak mengajarkannya tentang arti kehidupan. Memberitahunya
bahwa dia tidak boleh kalah pada badai sekalipun, mendorongnya agar menjadi
manusia hebat.
Dadanya
seperti ditusuk tusuk, tegakah dia membiarkan Yi Hyun berjuang sendirian? Haruskah
dia merelakan orang yang sangat dia cintai hanya karena masalah seperti ini?
Selama ini apapun masalahnya mereka hadapi bersama…
Siwon
menatap tajam tas berwarna merah di pelukannya. Mungkin ini memang jalannya,
gadis itu mungkin yang dikirim Tuhan agar dia bisa mengambil keputusan yang
benar. Ini adalah takdir, ya dia tahu inilah jalan permainannya, sudah
ditunjukkan dengan sangat jelas. Tangannya bergerak cepat membuka resleting tas
Inka sambil memejamkan mata. Tubuhnya merasa seperti dilolosi ketika melihat
sebuah buku tebal, The Three Musketeers , hilang, lemas. Buku itu
terlihat jelas di bawah penerangan lampu kapal yang beberapa meter jauhnya dari
tempatnya berdiri.
Siwon
menemukannya, kertas itu, masih terselip di sana. Tangannya bergetar ketika menyentuh kertas
itu. Dia buru buru mengambilnya dan memasukkannya ke saku. Pertemuan ini
seperti sebuah kutukan baginya. Yah inilah jalannya, dia harus melindungi Yi
Hyun.
“Terimakasih…”
Inka mengambil kembali tasnya dari tangan Siwon, tepat ketika Siwon menarik
resletingnya sampai di ujung, tertutup dengan sempurna.
Siwon
hanya mengangguk kecil. Inka menyodorkan kopi padanya, sempat sempatnya dia
mengambilnya. “Ada lumba lumba lagi…”
“Baiklah…”
Siwon memasukkan tangannya ke saku jaket, “ Berjanjilah kau akan kembali ke
sini dan kita buat double date…”. Seo Yi Hyun, marilah kita hadapi ini
bersama sama, kita berjuang bersama sampai mati. Siwon mengacungkan
kelingkingnya, Inka tersenyum dan mengaitkan kelingking mereka.
“Kau
akan mendukungnya?”
“Kau
benar dia pasti punya alasan melakukan itu, yang perlu aku lakukan sekarang
adalah menjaganya…” berjalan bersama di sampingnya. Setelah ini dia akan ke
asrama Yi Hyun dan membuatnya menangis bahagia.
“Aku
juga akan minta maaf pada Stea…” Inka akan menysulnya ke Lombok dan akan
menjadi pacar terbaik untuknya. Ini adalah takdir untuk hubungan mereka,
walaupun awalnya sulit, tapi pasti bisa jika mereka menjalaninya bersama sama.
Mereka
berdua sama sama tersenyum, lalu diam terbawa pikiran masing masing. Menyerap
banyak banyak angin laut yang dingin untuk sedikit merilekskan pikiran dan
hati. Perahu makin melaju mendekati pelabuhan, tiang Golden Gate yang kokoh
juga tampak tertinggal. Air yang keemasan mulai menghitam karena matahari telah
benar benar tenggelam, San Fransisco sudah benar benar memulai kehidupan
malamnya. Udara makin menusuk, namun mereka masih betah berdiri di dek. Dalam
pertemuan yang singkat, dua anak manusia telah menemukan kedamaian.
“Selamat
tinggal Golden Gate…, terimakasih…”kata Inka dalam hati.
“Aku
pasti akan kemari lagi…” Siwon berjanji dalam hatinya, dalam senja yang lebih
indah.
**
Inka
sibuk menjilati es krim yang dibelinya, dua sekaligus, tiramisu di tangan kiri
dan vanilla di tangan kanan, bibirnya sampai belepotan. Siwon juga membawa
sebuah es krim coklat.
“Oh,
itu busku sudah datang, aku harus pergi sekarang…” Siwon menunjuk bus yang akan
segera membawanya kembali ke Apartemennya. Sebetulnya masih banyak yang bisa
dilihat di San Fransisco, tapi hari sudah larut dan mereka harus pulang. Mereka
kembali dari Golen Gate naik kereta bersama dan sekarang harus naik bus masing
masing. “Senang bertemu denganmu hari ini…”
“Aku
juga senang tidak sendirian jalan jalan di Golden Gate..terimakasih, oh apa
bahasa Korenya, kamsahamnida…” Inka membungkukkan kepala, seperti yang
sering dilihatnya di drama jika orang
Korea mengucapkan terimakasih. Kamsahamnida siapa ? ”Siapa namamu?” . Rasanya
Inka ingin tertawa keras keras, mereka mengobrol seperti teman lama, tapi
bahkan belum menyebutkan nama.
“Aku
Inka, namamu siapa? Ya ampun kita belum berkenalan…”
“Aku
Choi Siwon, daaa…” Siwon melambaikan tangannya, kalau tidak cepat cepat dia
bisa tertinggal bus. Satu kakinya meloncat ke bus, disusul satu kakinya lagi.
Dia melambaikan tangannya lagi ke Inka yang kini jarak mereka kini dua puluh
meter, lalu makin jauh, jauh dan hilang sama sekali. Mungkin mereka tidak akan
pernah bertemu lagi, kutukan ini telah berakhir. Siwon merasakan dadanya sangat
lega…
Inka
masih melambaikan tangannya, “Choi Siwon…” gumamnya pelan. Dia akan
mengingatnya, orang yang baik. Mungkin mereka tidak akan bertemu lagi,
pertemuan dan obrolan singkat, curhat pada orang asing, namun mampu membuatnya
benar benar lega. Dia merapatkan syal dan jaketnya, bersiap untuk kembali ke
hotel . Dia sudah tidak sabar untuk pulang ke Indonesia, bertemu dengan
pacarnya tercinta…
Kakinya
yang baru memulai dua langkah terhenti karena dia merasa menginjak sesuatu. Dia
membungkuk dan memungutnya, melongok ke arah bus Siwon, namun sudah benar benar
hilang jauh. Mungkin Choi Siwon menjatuhkannya, dia menggenggam erat benda itu
dan berlari kecil mendekati busnya yang sudah datang.
Benda
itu sebuah kalung berbandul potongan Yin dan Yang berwarna putih, Yang…
Yin
dan Yang, Soulmate…
Yang.
Mate.
END
Huaaaa
gajeeee *malu…terimaksih ya kalau ada yang membaca cerita gaje ini J
Soul
dan Mate bukan twoshoot ya, tapi dua oneshoot yang sebetulnya masih
nyambung..bingung kan? Aku juga hahaha *evil.
HAPPY
CHOI SIWON DAY
HAPPY
29TH CHOI SIWON
HAPPY
BIRTHDAY CHOI SIWON, SAENGIL CHUKAE HAMNIDA…
Happy
birthday captain…
Terima
kasih telah memberi inspirasi bagi jutaan elf…
Memberiku
banyak inspirasi untuk menulis…
Semoga
sehat dan sukses selalu…
SARANGEOO…..
^_^
BalasHapus