Selasa, 08 April 2014

Fanfiction/ Oneshoot - Soul ( Special Fanfiction For Choi Siwon Birthday)



ONE SHOOT – SOUL ( Special Fanfiction For 29th Choi Siwon Birthday )

A Fnfiction By Septi Titanika

Cast :  Shin Mi Woo

Ari Stea Darwin

Genre : Romance, Hurt

Rated : PG 15

Length : One Shoot / 4965 word.

The Fanfiction Is mine, castnya milik saya. Inspirasi cerita ini adalah dari cerita lama yang pernah saya tulis saat sekolah dulu, dari FF saya, Protect The Wife dan dari film Thailand Hello Stranger. 
Awas cerita aneh, nggak ada konflik sama sekali , nggak ada feel sama sekali dan typo bertebaran, Judul nggak sesuai dengan ceritanya. Don’t bash and happy reading^-^


Seoul, Korea Selatan…

Shin Mi Woo, murid kelas satu SMA Hangju membereskan buku bukunya setelah les musik berakhir. Dia memperhatikan jam bulat di dinding belakang kelas dan menyadari bahwa ini sudah senja, hampir jam lima sore. Sebenarnya jam sekolah sudah berakhir empat jam lalu kalau bukan karena ada guru baru yang memberikan les tambahan, guru Cho Kyuhyun. Sebulan yang lalu, guru musiknya, guru Kang meninggal jadi guru baru itu terpaksa harus mengisi pelajaran yang seharusnya diajarkan sebulan ini pada pelajaran tambahan, menyebalkan.

Di kelas itu hanya dia yang tersisa, mungkin juga di seluruh sekolah, Mi Woo sedikit berlari keluar kelas ketika tiba tiba angin dingin berhembus, hii bisa jadi itu hantu. Dia memasang headset kuning ke telinga kirinya untuk melawan sepi, bibirnya bersenandung kecil dan kakinya melangkah riang. Seseorang pasti sudah mati bosan menunggunya di depan gerbang, pengawal setianya, kakaknya.


“Oppa, apa kau sud…” Mi Woo melongokkan kepalanya dari gerbang, bermaksud mengagetkan, tapi ternyata di sana hanya ada dua anak laki laki berseragam. Mereka menatapnya dengan aneh karena merasa terganggu dengan panggilannya.

“Oppa, kau bersembunyi di mana?” Tidak ada kakaknya ataupun motornya. Mi Woo melongok ke ujung jalan, empat tahun ini kakaknya tidak pernah sekalipun telat menjemputnya. “Huft, dimana sih dia?” bibirnya mengerucut. Dia merogoh ponsel butut dari saku, tapi sial pulsanya habis.

Lima menit, akhirnya Mi Woo menyandarkan punggungnya di gerbang, mengambil jarak terjauh dari dua anak laki laki itu. Kakaknya, Kim Ki Bum, selalu berpesan agar dia menjauhi laki laki jika sedang tidak bersamanya – mereka berbahaya. Mi Woo menutupkan tudung jaketnya ke kepala, melindungi diri. Hampir empat tahun yang lalu sebuah kejadian yang sangat buruk pernah menimpanya, membuat kakaknya tidak pernah melepaskannya sendirian.

“Oppa, kau lama sekali sih…” Dia belum pernah pulang sendiri, sebuah bus yang menuju arah rumahnya lewat, dia mengabaikannya.

Mi Woo – ya , aku ada pekerjaan di Jeolla, gajinya lumayan jadi kuambil. Kau pulanglah sendiri naik taksi. Taksi jangan naik Bus. Hati hati di jalan.

Sebuah SMS dari kakaknya  membuatnya menghembuskan nafas berat. Sebesar apa gajinya hingga Ki Bum memilih meninggalkannya? Mungkinkah bisa untuk menebusnya jika dia diculik? Dia menggigit bibir bawahnya, menimbang nimbang dengan resah, bagaimana ini? Naik taksi? itu akan sangat mahal. Kakaknya mengumpulkan won demi won dengan susah payah, dia tidak akan tega menghamburkannya. Naik bus berarti menghadapi bahaya jalanan. Kejadian buruk itu masuk lagi ke ingatannya, membuatnya takut. Lagipula ini sudah sore, Ibu pasti sedang mengomel sekarang karena dia belum pulang.

“Ya Tuhan, itu tulisan apa, gue nggak tahu jalan…” Sepasang mata tajam memandangi papan petunjuk jalan dalam tulisan hangul. Entah dia sudah menyusuri trotoar  berapa ratus meter jauhnya. Dia membuka kamus, tapi malah makin membuatnya pusing. Peta di tangannya sudah sangat lusuh karena dibolak balik. Jaketnya tersampir di bahu dengan ransel besar di punggung. Tangannya kerepotan membawa peta, kamus, ponsel dan juga sebotol cola. Barang barangnya jatuh bertebaran di trotoar,  dia buru buru memungutinya.

“Tega banget ninggalin gue di sini, awas kalau ketemu…” Stea memandang geram pada ponselnya. Kakaknya  meninggalkannya sendirian entah kemana dia. “Ahh..itu…” rasanya seperti menemukan oase di padang pasir ketika dia melihat bus dengan nomor seperti yang tertulis di alamat hotelnya.

” Gue selamatt…” dengan tidak tahu malunya dia melompat lompat menghadang bus itu. Lupa bahwa dia bukan di negaranya. Beberapa orang menahan tawa melihat tingkahnya. Dia datang ke Korea untuk mengusir jenuh. Kakaknya seorang fotografer dan kebetulan dia sedang ada pekerjaan di Korea, jadi dia langsung mengiyakan begitu kakaknya menawarinya untuk ikut.

 Mi Woo membulatkan tekadnya, suatu saat dia juga harus lepas dari kakaknya, dia harus bisa menjaga diri. Dia melangkahkan kakinya mantap ke pemberhentian bus di dekat sekolah. Dia menarik nafas panjang ketika melihat sebuah kotak besar berwarna hijau melaju dari kejauhan,”Lindungi aku Tuhannn…”

Stea berlari cepat menuju pemberhentian bus, takut tertinggal. Ranselnya yang gemuk tidak mengurangi sedikitpun semangatnya. Tega sekali kakaknya meninggalkannya sendirian di negara yang benar benar asing, nyaris saja dia menjadi gelandangan  yang tampan. Busnya sudah berhenti, dia memperlebar langkah kaki panjangnya agar bisa segera menjangkau pintunya, tidak terpikirkan itu akan mengakibatkan kakinya tidak bisa mengerem.

BRUK…colanya tumpah, botolnya jatuh ke trotoar, dia sendiri hampir terjengkang ke belakang.

Mi Woo hampir memekik, sesuatu yang dingin menyentuh kulitnya, cairan berwarna merah merembes mengotori seragamnya, mulutnya membulat, “Omona…

“Maaf, gue nggak sengaja..” namun sedetik kemudian Stea sadar ucapannya salah,”I didn’t do in purpose, I m so sorry..”

“Seragamku..” seragamnya kotor, padahal besok masih harus dipakai dan seragamnya yang itu dia hanya memiliki satu. “Kau tidak lihat aku berdiri di sini sejak tadi?”

Stea diam, tidak mengerti apa yang Mi Woo bicarakan. Dia masih terus mencoba minta maaf dalam bahasa inggris. Mi Woo membalasnya dalam bahasa inggris sebisanya, tapi sepertinya Stea juga tidak mengerti dengan bahasa inggris asal asalannya. Mereka tidak sadar bahwa bus yang sudah berhenti itu bosan menunggu dan harus segera pergi ke rute yang lain.

“Busnya,busnya, hei jangan pergi..” Mi Woo melambaikan tangannya.

“Hei, bus sialan, Wooii…gue belum naik..” Stea berlari mengejar bus itu, namun sia sia, sepertinya bus itu tidak mau mengangkut dua orang yang bertengkar di pinggir jalan.

“Bagaimana aku harus pulang? Malam ini pasti aku harus makan sisa ramen yang dingin lagi..” Mi Woo menjejak jejakkan kakinya ke trotoar dengan kesal. Setiap pulang sekolah dia akan membantu Ibunya berjualan ramen hingga malam, dan jika dia terlambat , hukumannya adalah  makan malam dengan sisa ramen setelah toko mereka tutup.

“Ahh, gue nggak mau jadi gelandangan di Korea..” Stea memencet mencet ponselnya dengan tidak beradap. Sebetulnya dia tadi pergi dengan kakaknya, tapi dia bertemu dengan temannya dan bilang akan mengambil foto sebentar, tapi nyatanya tidak kembali setelah dua jam. Dia mencoba kembali ke hotel sendiri, tapi malah tersesat sampai ke tempat antah berantah.

Mi Woo segera tersadar, namja yang baru saja dia marahi itu asing. Bicara dengan kata kata yang tidak jelas, bermata bulat tajam, hidung mancung dan rambut hitam pekat. Dia pasti turis yang tersesat atau memang sengaja menyesatkan diri, jalanan itu berbahaya Mi Woo – yaa …pesan Kim Ki Bum yang selalu dia ingat.

Mi Woo buru buru melangkahkan kakinya cepat cepat sambil merutuki seragamnya, lebih baik menghindar sebelum terjadi sesuatu yang buruk. Dia sempat menoleh sekali dan melihat Stea memandangi punggungnya. Dia mendengarnya meneriakkan sesuatu, tapi Mi Woo tidak peduli. Dia mencengkeram selempang tasnya kuat kuat, pergi secepat mungkin. Rasanya lega ketika melihat bus selanjutnya datang, dia meloncat naik, tanpa sadar Stea juga meloncat naik lewat pintu belakang dengan kekuatan penuh.

Hei, I’ m sorry..” Mi Woo terperanjat, Stea sudah ada di dekatnya, menunjuk seragamnya lalu kursi kosong di sampingnya. Bus itu penuh, tidak ada tempat lain lagi. “Boleh aku duduk di sini?”

“Duduklah aku akan berdiri..” Mi Woo baru saja mengangkat tubuhnya ketika lorong di samping kursinya diisi oleh laki laki tambun. Ingin rasanya dia berteriak.

“Kamu tahu hotel King? Aku tersesat..” Stea menunjukkan kertas berisi alamat hotelnya, “Aku turis, tidak tahu apapun..” Sekarang dia menunjukkan petanya, menampakkan wajah memelas. “Aku orang Indonesia, I’m Indonesian…” Dia mengulurkan tangannya, “Maaf, sudah mengotori bajum, aku takut ketinggalan bus..” Yah walaupun pada akhirnya tetap harus naik bus berikutnya.

Anieyo, no problem..” Mi Woo mencoba mengikhlaskan seragamnya. “Oh, Hotel King?” di mencoba mengingat ingat, sepertinya itu hotel terkenal. Belum tiga detik dia berpikir, tiba tiba tubuhnya menubruk kursi di depannya, bus mengerem dengan mendadak. Lalu terdengar suara ribut ribut, penumpang bus yang ada di depan semuanya berdiri, ada bus terbalik dan terbakar hingga menyebabkan kemacetan panjang . Raungan sirine polisi dan ambulance terdengar jelas makin menambah ricuh jalanan.

“Maaf penumpang sekalian, perjalanan kita akan terganggu, ada kecelakaan besar di depan, jalur akan dialihkan jadi mohon bersabar…”

Mi Woo terhenyak, dari pembicaraan orang yang campur aduk, dia  bisa mendengar bahwa bus yang terbalik dan terbakar itu adalah bus yang seharusnya dia naiki tadi. Stea sibuk membuka kamusnya, mencoba menerjemahkan apa yang orang orang bicarakan. Dia bertanya pada orang di kursi di sebelahnya yang sepertinya orang Amerika. Dia menjelaskan bahwa bus yang mengalami kecelakaan itu adalah bus yang sama dengan line yang mereka  naiki. Bus yang seharusnya ditumpanginya tadi. Stea menyandarkan punggungnya, melemas. Bibirnya lirih mengucap syukur pada Tuhan, dia diselamatkan dari maut di tempat yang benar benar asing.

***

Mi Woo memasukkan sesendok penuh patbingsu ke mulutnya. Patbingsu itu terasa sangat enak di akhir musim panas seperti ini. Seminggu lagi musim panas akan berakhir, berganti dengan dekapan udara dingin musim gugur. Dia menyilakkan rambutnya yang berantakan tertiup angin dingin dari sungai Han. Harusnya dia membawa ikat rambut tadi. Mi Woo mengambil jepit rambut biru safir kesayangannya dan menata rambutnya dengan itu, lebih cantik…

Matanya memandang ke air sungai Han yang membentang keemasan dengan jembatan Banpo yang kokoh, seakan memisahkan sungai itu menjadi dua. Dia duduk di bangku besi di pinggiran sungai Han, menunggui kakaknya mencari uang. Mi Woo menghela nafas, hari ini dia lelah, jadi tidak ingin membantu. Mereka bukan anak keluarga berada, kakaknya harus mengumpulkan sedikit uang untuk bisa memberinya uang saku. Kalau tidak ada kuliah atau pekerjaan sampingan dia biasa mengamen di pinggir sungai Han. Menjadi seorang Busker – pengamen yang tidak hanya mengandalkan suara asal yang keluar dari mulut, tapi pemusik jalanan yang memiliki kemampuan bernyanyi, bermain alat musik, bahkan kadang break dance. Biasanya dia akan membantu dengan bermain harmonika atau  mengedarkan kotak uang.

Matahari mulai beranjak ke barat, meninggalkan jejak bayangannya di air sungai Han yang bersih. Jembatan Banpo ramai oleh kendaraan yang menyebrang dari Seocho ke Yungsan atau sebaliknya. Pingggiran Sungai Han juga ramai oleh orang orang yang ingin menghabiskan waktu sore, sekedar berjalan jalan menghirup udara segar, makan di kafe kafe mungil dan cantik, atau bersepeda.

Mi Woo melangkahkan kaki, bosan juga dia sendirian, dia menengadah menatap langit , burung burung berterbangan di langit yang menjingga. Rasanya seperti melihat camar di pantai. Dia menyumpal telinganya dengan sebuah lagu lembut melalui headsetnya…

“Hei, jangan lari lari nanti kau jatuh…” Mi Woo tersenyum pada anak kecil yang berlari lari mengejar temannya yang naik sepeda. Dia mengangguk pada Ibunya. Dia minggir ketika melihat sepasang kekasih yang bergandengan tangan. Lalu ada seorang nenek yang  asyik duduk merajut dibangku. Sungai Han memberikan beribu kebahagiaan dengan cara yang berbeda beda…

“Berapa sewanya?” Mi Woo menyentuh stang sepeda berwarna hijau di deretan sepeda yang disewakan. Keningnya berkerut ketika mendengar harganya, naik dua ribu won dari kemarin. Dia melanjutkan langkahnya lagi, tiba di pagar besi tepat di bibir sungai, menghirup udara sejuk dalam dalam, melepaskan semua mimpi buruk yang pernah menghantuinya…

Stea mengarahkan EOS 70D pinjaman dari kakaknya ke air sungai Han yang berkilau, ke jembatan Banpo, ke keramahan yang dihadirkan sungai Han, langitnya, udara musim panas yang baginya masih cukup dingin. Dia tersenyum melihat apa yang ada di depannya sekarang. Di Indonesia mana ada sungai sejernih ini, mana ada orang bersantai di pinggir sungai. Mulutnya membulat, mengucapkan pujian atas keindahan yang telah Tuhan limpahkan untuk negeri ginseng itu. Ini pertama kalinya dia ke Korea, dan sepertinya dia harus kembali lagi untuk mengajak...ah sudahlah tidak usah disebut lagi. Dia ke sini untuk melepaskan sejenak namanya, mengisi dengan namanya lagi, jika hatinya sudah mau sedikit berdamai.

Stea berlari lari kecil ketika melihat sebuah kerumunan, dia menerobos masuk ke lingkaran yang cukup padat itu. ”Wooow…” tanpa membuang waktu dia mengarahkan kameranya ke pusat pertunjukkan itu. Dia sudah membaca brosur, pemusik jalanan yang  disebut Busker. Tidak jauh beda dengan di Indonesia. Stea melanjutkan petualangannya lagi, melihat seorang nenek, anak kecil, persewaan sepeda…

Senyum di bibir Stea yang dari tadi terus terkembang sedikit meluntur ketika lensa kameranya menangkap sebuah obyek cantik dengan dress kuning selutut yang tengah menjulurkan tangannya seakan ingin mendekap air…

“Kamu…”

Mi Woo masih asyik dengan air dan lagu lembut yang benar benar merasuk ke telinganya, Stea menepuk punggungnya…

Agashi, Annyeonghaseo..” kata itu baru dipelajarinya semalam dan sekarang dia harus susah payah mengingat dan melafalkannya.

Mi Woo menoleh, berpikir sebentar dan kemudian bibirnya mengembangkan senyum, “Kau..”

“Aku yang di bus, kau masih ingat?” Stea tidak menyangka akan bertemu gadis Korea ini lagi. Gadis ini secara tidak langsung telah menyelamatkan nyawanya dan juga mungkin mamanya dari kondisi struk akibat syok. Kalau dia tidak menghalangi jalannya hingga menubruknya tentu dia sudah mati di bus maut itu.

Anyeonghaseo..” Mi Woo membungkukkan kepala. Kalau namja itu tidak menumpahkan colanya, tentu dia sudah naik bus dan mungkin sekarang dia koma. Mereka telah saling menyelamatkan. Mi Woo melongok ke kerumunan di mana Ki Bum berada, dia merasa laki laki ini bukan orang jahat. Entah kenapa dia tidak merasa takut sama sekali. Kakaknya juga laki laki, jadi ada kalanya dia juga tidak harus mempercayainya.

“Tuan, aku harus berterimakasih kau telah menyelamatkanku kemarin..”

“Bukan..” Stea memberi tanda dengan tangannya, “Kamu yang sudah menyelamatkanku..” Sepertinya dia sudah merasakan berbagai kebetulan seperti di drama Korea yang sering ditonton mamanya. Bukankah orang Korea juga sangat percaya pada takdir? Kalau dipikir pikir ini takdir yang lucu.

“Wow..sungainya bagus banget, gila..” Stea mengambil tempat di samping Mi Woo dan dia sibuk mengambil beberapa gambar.

“Ini sungai kebanggaan negara kami, kalau malam sungai ini tampak lebih indah lagi. Oh, bukankah kau berasal dari Indonesia? temanku pernah mengatakannya, Ba..” Mi Woo mencoba mengingat, “Bali..” celetuknya. Dia tidak tahu kenapa dia berbicara tanpa rasa canggung atau takut, seakan mereka adalah teman lama.

“Bukan, aku dari Lombok. Lombok tidak kalah indah dari Bali..”

“Kau datang ke sini di waktu yang tepat, musim panas sebentar lagi akan berakhir…”

Stea mengangguk, matanya berkeliling mencari obyek foto lagi. “Apa yang dimakan anak itu?” dia menunjuk anak kecil dengan semangkok patbingsu di pangkuannya.

“Itu es kacang merah, kau mau mencobanya? Di sana yang menjualnya…” Mi Woo menunjuk sebuah kafe di ujung jembatan, dua ratus meter dari tempat mereka berdiri.

“Berapa harganya?” Stea mengeluarkan semua won yang dia punya, meletakkannya di tangannya yang tertangkup. Dia segera berjalan mengikuti Mi Woo yang sudah berbalik untuk membeli Patbingsu.

“Enakk..” Stea mengacungkan dua jempolnya ketika mulutnya penuh dengan patbingsu. Rasa manis kacang merah dan dinginnya es begitu lumer di mulutnya. Ah setelah ini dia harus ikut jika mamanya menonton drama Korea. Bahkan dia masih merasa seperti di mimpi, menginjakkan kaki di tanah Korea rasanya seperti masuk ke layar drama. Dia mengusap bibirnya yang belepotan dengan tisu.

“Ini paling enak di musim panas seperti ini…” Mi Woo bahkan menambah, hari ini dia sudah menghabiskan tiga mangkok es kacang merah.

“Bukankah di jembatan itu ada air mancur?” Stea menunjuk jembatan Banpo.

“Hem, nanti malam, kau mau lihat?”

Bukannya menjawab Stea malah membuka brosur wisatanya, lalu mengeluarkan kertas lusuh dari ranselnya. Kakaknya sudah menuliskan banyak hal di situ, alamat hotel, jadwal mereka, takut dia hilang lagi. Dan jadwal nanti malam adalah…pesiar naik kapal di sungai Han, tiba tiba tawanya meledak, Mi Woo bengong.

“Aku akan melihatnya nanti malam, baca ini, kakakku sudah membeli tiketnya…” matanya berbinar senang. Kakaknya memberi catatan itu sejak kemarin, tapi dia tidak membacanya.

“Nikmatilah perjalananmu, menghabiskan malam di sungai Han sangat indah..”

“Kamu mau ikut ?” dia masih punya uang saku untuk membayarkannya. Dia juga tidak tahu kenapa rasanya dia sudah begitu lama akrab dengan gadis ini, seperti bertemu kembali dengan teman lama, rasanya lega yang tenang, bukan lega seperti saat dia melihat pacarnya baik baik saja. Beban pikiran yang memberati kepalanya akhir akhir ini lenyap begitu saja. Mengenal orang asing dan tidak tahu apa apa kadang memang lebih menyenangkan dan tanpa beban.

Aniyo, aku harus membantu Ibuku berjualan, aku sudah pernah, nikmatilah saja..”

“Aku bayarkan tiketnya..” Dia merasa nyaman berada di samping gadis ini. Dia ingin gadis ini ikut menjadi pemandunya, tentu akan lebih nyaman menikmati keindahan Korea bersama orang Korea..

“Tidak usah…”

“Ini sebagai balas budi kamu sudah nyelametin aku kemarin…”

“Tidak, kau yang menyelamatkanku…” Walaupun sebetulnya dia tidak ingin menolak tawarannya, kapan lagi dia bisa bersenang senang. Lagipula semakin malam sungai Han semakin ramai, jadi Ki Bum sepertinya belum akan berhenti mengumpulkan uang. Dia tersenyum sangat lebar, “Baiklah, tapi kau yang bayarkan tiketnya…”

Stea tersenyum senang,setidaknya dia tidak akan seperti orang hilang naik kapal sendirian. “Oh, aku ingin naik sepeda, sewakan untukku, aku tidak tahu bagaimana menyewanya…”

Sore itu mereka habiskan dengan bersepeda di pinggir sungai Han. Mi Woo seperti menjadi pemandu wisata dadakan.  Tidak ada rasa kaku sama sekali, mungkin karena atmosfir hangat senja sungai Han, benar benar seperti melepas kerinduan dengan teman lama. Mereka baru bertemu kemarin, sebuah pertemuan tak terduga, namun entah kenapa memunculkan rasa tenang damai yang menyenangkan, bukan berdebar debar seperti jatuh cinta, tapi benar benar damai…

***

Bulan purnama bulat sempurna di langit Seoul yang tampak berwarna warni oleh lampu lampu kota. Angin musim panas yang cukup bersahabat mengiringi sebuah ferry pesiar  yang membawa puluhan orang menikmati sisi lain dari Korea. Menikmati sungai Han bukan hanya dari pinggir , tetapi benar benar menyusuri setiap lekuk alirannya. Kapal pesiar putih itu riuh dengan obrolan berbagai bahasa, saling menyapa walau tidak saling mengenal.

Jembatan Banpo tampak sangat indah dengan air mancur berwarna warni yang menyembur dari kedua sisinya. Ratusan ribu kubik air itu jatuh membuat gelombang di sungai untuk kemudian dipompakan lagi. Kendaraan melaju cepat seakan tenggelam di tengah lampu lampu yang berderet dan air mancur raksasa itu.

Shin Mi Woo merapatkan jaket tipisnya, sudah hampir setengah jam, namun dia masih betah berdiri di dek feri itu, melihat gemerlapnya kota dari air. Terakhir kali dia menikmati travel seperti ini hampir setengah tahun yang lalu, sebagai hadiah ulangtahunnya yang ke enam belas.

“Ini buatmu…” Stea mengulurkan secangkir kopi. Susah payah dia menyibak kerumunan orang yang juga berdiri di dek dengan penuh semangat tanpa mempedulikan udara dingin yang menyusup. Dia memandang ke ke sisi sungai, ke gedung parlemen Korea yang berdiri dengan kubahnya yang kokoh.

Gomawo..” Mi Woo menyesapnya sedikit, rasa hangat langsung menjalar ke perutnya. Mereka tadi sudah menikmati pertunjukkan musik dan sulap, sekarang berdiri di dek adalah pilihan terbaik, melihat pemandangan menakjubkan di sepanjang Sungai Han. Gedung gedung pencakar langit Seoul yang berderet, kafe kafe cantik, jembatan jembatannya,  bahkan sampai stadion olahraga yang megah.

“Kalau tahu begini besok aku belum ingin pulang…” gumam Stea, rasanya empat hari di Korea tidaklah cukup, dia bahkan baru berputar putar di sungai Han. Belum ke pulau Jeju, pulau Nami, Namsan Tower, satu lagi, dia belum mencoba Kimchi. Ke pabrik Samsung juga sepertinya tidak ada salahnya.

“Kau mau pulang besok?” Mi Woo mengernyit.

“Yah, dengan penerbangan pagi. Aku hanya ikut dengan kakakku…” padahal dia baru merasakan ketenangan dan sekarang harus dilepaskan lagi. “Dia pulang ya aku harus pulang..”

“Hanya berdua saja dengan kakakmu?” tanya Mi Woo dengan pandangan terpusat pada ponselnya, SMS dari Ki Bum, dia jawab dia akan sampai empat puluh lima menit lagi. Ki Bum sudah menunggunya di dermaga sekarang, dasar. Dia sempat melotot tak percaya ketiaka Mi Woo mengatakan akan naik ferry bersama turis asal Indonesia. Siapa namanya? Mi Woo menggelengkan kepalanya, babbo… mereka bahkan belum berkenalan.

“Memang dengan siapa lagi?” Stea mengerahkan kameranya yang tergantung di leher ke gedung parlemen.

“Kebanyakan orang datang ke sini dengan kekasih atau keluarganya, kau lihat itu?” Mi Woo menunjuk sepasang kekasih yang sepertinya berasal dari Amerika, bule, lalu dua anak kecil dan orang tuanya.

Senyum Stea memudar. Dia dan pacarnya sedang berada dalam titik renggang. Pacarnya juga tidak tahu bahwa dia pergi ke Korea, dia belum menelfonnya hingga sekarang. Kemarin dia hanya pamit akan ke rumah kakeknya di Lombok, tapi baru dua hari di Lombok, kakaknya mengajaknya terbang ke tempatnya berada sekarang. Dia agak malas menelfon ke pacarnya di Jakarta.

“Yah harusnya aku mengajaknya ke sini..” tempat ini sangat cocok untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi kenyataannya dia justru menghabiskan waktu dengan gadis Korea yang baru ditemuinya kemarin. Dia baru menyadari bahwa dia seperti pengecut yang berlari dari masalah.

“ Dia senang dengan drama Korea seperti mamaku, dia pasti memukuliku kalau tahu aku pergi ke sini..” Stea tertawa miris. Apa kamu baik baik saja di sana? Hubungannya baru berjalan sekitar empat bulan, tapi rasanya terlalu sulit untuk dilanjutkan. Penyebabnya adalah sebuah awal yang tidak terlalu baik…

“Kalian sedang bertengkar?” Tiba tiba Mi Woo penasaran.

Bertengkar? Tidak juga. Hanya seperti saling menjauhkan diri, saling merasa tidak enak satu sama lain. Ingin membiarkan saja jika salah satu bahagia dengan pilihannya, tapi malah jadi rumit.

“Oh, kalian sedang bertengkar rupanya?” Mi Woo tertawa kecil, “dan kau melarikan diri ke sini..” itu kesimpulannya. Dia merasa miris, menyenangkan sekali punya pacar dan bisa bertengkar. Sedang dia, pergaulannya dengan laki laki sangat dibatasi. “Jangan begitu, nanti kau menyesal, hati wanita itu sangat lembut…” Dia memeluk tubuhnya yang mulai benar benar kedinginan.

“Dia keras kepala..” bahkan lebih keras dari batu. Dia butuh hampir tiga tahun untuk  menjadikannya pacarnya, tapi ternyata menjalaninya tidak semudah yang dia bayangkan.     ” Hubungan kami tidak diawali dengan baik…” besok dia tidak akan bertemu gadis Korea itu lagi, jadi tidak ada salahnya jika dia bercerita. Dia sama sekali tidak merasa asing, apa di kehidupan sebelumnya mereka pernah bertemu?

“Aku hidup dari ginjal orang yang sangat mencintai dia…”

Mwo?” Mi Woo meminta pengulangan.

“Dia koma karena kecelakaan dan aku koma karena sakit, dia memilih mati agar aku tetap hidup, merelakan orang yang dia cintai untukku…” cerita Stea lirih. Itu sebabnya mereka menjadi agak canggung akhir akhir ini. Dia kasihan melihat pacarnya sedikit tertekan, dan mau tidak mau itu menjadi beban pikirannya juga.

“Hem, kau tidak terlihat seperti itu…” dia tidak terlihat menyimpan beban.

“Menurutmu aku harus bagaimana sekarang?” apa harus dia lepaskan saja gadis itu?

“Jangan menyerah…” Mi Woo menyemangatinya, “kau harus mempertahankan hubunganmu, pacarmu pasti sangat beruntung bertemu orang sepertimu…”

“Kalau tetap dipertahankan itu sama saja membunuhnya perlahan…” benar kan? mereka hanya akan saling menyakiti.

“Kau tidak kasihan pada orang yang sudah mendonorkan ginjalnya untukmu? Dia sudah berusaha berbahagia untuk kalian. Dia pasti kesulitan melakukan itu, berdamai itu hal yang paling sulit…” apalagi berdamai dengan hati, seperti yang dia dan Ki Bum lakukan setelah kejadian buruk itu. Mi Woo mengusap matanya, kejadian itu terngiang lagi, hal yang membuatnya tidak akan pernah sempurna.

Deg, Stea memandang Mi Woo, gadis Korea ini benar. Rasa sakit dan galau yang dirasakannya sekarang tidak ada apa apanya dengan rasa sakit yang dirasakan orang yang telah merelakan nyawa dan hatinya untuknya. Untuk sesaat kemudian mereka terdiam dalam pikiran masing masing. Sangat berbalik dengan ramainya suara orang orang di kapal itu serta deru ferry yang semakin mendekati dermaga.

“Kau sendiri?” Stea juga tidak melihatnya bersama siapapun kemarin.

“Aku  terbiasa hanya dengan kakakku…” jawab Mi Woo pendek, “kami selalu bersama kemana mana…kau tidak melihatnya tadi? Kakakku yang menyanyi di pinggir sungai, namanya Kim Ki Bum…sekarang dia sudah menungguku di pelabuhan” Mi Woo menunjukkan ponselnya yang terus diberondong SMS.

Stea hanya ber – oh pendek, dia tidak ingat, ada dua orang yang menyanyi di dekat sungai Han tadi. “Kakakku tidak sebaik kakakmu..” gumamnya. Hubungannya dengan kakaknya juga belum begitu lama membaik, kakaknya sempat kabur ke luar negeri beberapa lama tanpa pamit. “Kamu sangat beruntung…” mengingat keadaan keluarga mereka rasanya pedih.

Mi Woo menghela nafas panjang, kalau bukan karena kejadian itu hidupnya tidak akan seketat sekarang. “Aku pernah dihancurkan tiga tahun yang lalu…” sebetulnya dia tidak ingin mengingatnya, dia mendadak kesulitan bernafas. “Aku pernah mengalami sesuatu yang sangat buruk di usia tigabelas tahun, bahkan sampai sekarang aku masih trauma..”

“Semacam kecelakaan, kamu hilang ingatan atau apa?” Stea tiba tiba merasa iba, apalagi Mi Woo tiba tiba menunduk memandang air, buku buku jarinya yang mencengkeram besi pinggiran dek memutih dan nafasnya tidak beraturan, “Sorry, kalau akau sudah menyinggungmu…” mau tahu sekali sih dia pada urusan orang asing.

“Bukan, tapi…” kata kata itu sudah sampai di ujung bibirnya, amarah mendorongnya untuk mengatakannya. Selama ini hanya dia dan Ki Bum yang tahu, mereka menutup rapat rapat lembaran hitam itu dari Ibu, dia tidak punya tempat menangis selain Ki Bum. Air mata Mi Woo tiba tiba tumpah, menetes dan hilang berbaur dengan air, dia terisak…

Stea menyentuh pundaknya, dia jadi merasa tidak enak, apalagi orang orang mulai memperhatikan mereka, “Sudahlah tidak usah dikatakan, tidak apa apa…” bisiknya. Tiba tiba dia ingat, terakhir kali dia datang ke rumah pacarnya, dia menghindar dan menangis di kamar…

“Aku tidak pernah bisa bercerita pada siapapun, bukan kecelakaan, seorang bangsat menghancurkan hidupku, membuat aku menjadi kepingan yang tidak berharga sama sekali..” terserah, dia ingin menangis sekarang. Dadanya sudah terlampau penuh untuk menampung semuanya sendiri. Lagipula dia ada di tengah sungai sekarang, terpisah dari daratan tempatnya hidup, terlepas dari hidupnya yang biasanya. Sampai kapal ini merapat nanti, bolehkah dia menjadi Mi Woo yang lemah? hidup seperti anak seusianya, menangis, merengek, bermanja manja…

“Tenangkan diri kamu, tidak apa apa..” Stea menutup mulutnya, tidak ingin mengikuti Mi Woo menyebut – entah siapa dia dengan bangsat. “Apa ini hal yang sangat buruk?” Adakah yang lebih buruk dari hidup dengan ginjal laki laki yang begitu mencintai pacarnya? Itu adalah hal terfatal sedunia…

Mi Woo mengatakannya dengan cukup lirih, namun  masih cukup jelas untuk Stea dengar, dia seperti ditampar. Masih berusaha mencerna apa yang gadis Korea itu katakan, tubuhnya menegang. Mi Woo tidak peduli orang memandangnya aneh, tidak peduli orang asing akan tahu aibnya, yang dia tahu, dia sudah tidak tahan lagi, dia tidak peduli merusak suasana kapal dengan tangisannya yang makin lama makin keras…

Stea mendesah, ahh kenapa pakai acara menangis, sih, dia kan jadi seperti tertuduh. “Mianhae, aku sudah bikin kamu sedih…maaf, aku bener bener nggak ngira…”dia menyentuh lengan Mi Woo pelan. Jantungnya seperti ditikam, hidupnya bukan yang terburuk ternyata, mungkin ini cara Tuhan menguatkan hatinya. Menyebrang negara, berbeda ras, bahasa, dia menemukannya di tengah jutaan manusia, dia tidak sendiri. Hidup ini begitu sulit, gadis ini berjuang bertahan, apa yang dia lakukan? Malah kabur begitu saja…

“Tidak apa apa..” Mi Woo mengusap pipinya, setelah tiga tahun, akhirnya dia bisa mengatakannya, dadanya begitu lega…

“Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun…” Stea mengacungkan kelingkingnya, janji. ”Terimakasih karena kau juga mau mendengar ceritaku…” masalahnya dia juga tidak menceritakannya pada siapapun, bahkan kakak dan mamanya.

“Maaf, aku mengganggu liburanmu dengan cerita burukku…” Mi Woo juga merasa tidak enak. Dia tidak tahu juga kenapa pertama kali dia bisa bercerita adalah pada orang asing. Titik paling hitam hidupnya yang tidak akan bisa dihapus dengan cat putih setebal apapun. Kehilangan harga dirinya di usia tiga belas tahun. ”Kau jauh jauh dari Indonesia ke Korea malah bertemu orang sepertiku..” Mi Woo tertawa dalam tangisnya, “kau pasti dikutuk…” dia mencoba bercaanda.

“Kamu juga dikutuk bertemu aku…”

“Aku lega sekarang, kau benar benar tidak akan mengatakannya pada siapapun kan?” Walaupun dia yakin namja asing ini adalah orang yang bisa dipercaya.

“Tidak akan, kalau suatu saat kau bertemu pacarku, kau juga tidak akan mengatakan apapun kan?” impas.

“Suatu saat aku ingin bertemu dia, kalian harus segera berbaikan, mungkin benar ini kutukan, kita bertemu di sini dengan masalah kita masing masing dan kurasa kita sudah saling menguatkan..” Dia sudah merasa benar benar kuat sekarang, dia tidak akan menyerah lagi, dia akan jadi Mi Woo seperti anak SMA pada umumnya, bergaul, menonton sepak bola, bola basket, menonton konser, mengerjai temannya, dia harus jadi seperti itu.

“Kutukan ini menyenangkan juga…” Stea merasakan laju kapal melambat, pelabuhan sudah di depan mata mereka. Untuk menemukan sebuah pelajaran berharga ternyata dia harus menempuh ribuan kilometer. Hatinya terasa lapang, ada beban yang terlepas…

“Terimakasih sudah mengajakku naik kapal…” Mi Woo membungkukkan badan ketika kakinya kembali menginjak tanah pelabuhan. Dia tersenyum, wajahnya dibingkai oleh rambutnya yang berkibar kibar ditiup angin laut yang kencang.”Kapan kapan aku pasti akan membalasnya…”

“Tidak apa apa, tidak usah, aku juga senang mendapat pemandu wisata gratis. Mamaku pasti senang kalau tahu aku bisa jalan jalan dengan orang Korea…” Dan terimakasih karena sudah mengajarkannya berdamai.

“Lain kali kau harus datang kemari lagi, kau harus mengajak pacarmu, nanti kutraktir kalian patbingsu…” Mi Woo mendengar suara memanggilnya, bayangan kecil tampak berlari lari mendekat, “Cepat pergi, ada kakakku..” dia mendorong Stea menjauh, “kau bisa dipukul nanti, cepat pergi…” matanya merah, bisa mati dia jika Ki Bum sampai melihatnya.

Sebelum pergi Stea mengeluarkan sebuah benda yang sempat dia beli tadi pagi di Apgujeong, dia mengenggamkannya ke tangan Mi Woo, “Ambil, kenang kenangan dariku..” dia buru buru berbalik ketika melihat orang yang tadi bernyanyi di pinggir sungai Han.

“Terimakasih sudah membantuku…” Stea berlari mundur, melambaikan tangannya, “Daaa…gomawo…” siapa dia, babbo, mereka bahkan tidak berkenalan, “Aku Stea, Ari Stea, gomawoo…”

Mi Woo memperhatikan benda yang tergenggam di tangannya, Stea sudah jauh, hampir hilang ditelan kendaraan yang diparkir, “Aku Shin Mi Woo…” teriaknya, kenapa hal sesederhana nama bisa dilupakan? Padahal mereka cukup lama bersama. Mi Woo tersenyum geli, benda di tangannya adalah kalung dengan bandul potongan Yin dan Yang berwarna hitam, Yin…

“Mi Woo – yaa, kenapa kau lama sekali, kau kemana saja, aku sudah lama menunggumu di sini..” Ki Bum membungkuk, menumpukan tangannya di lutut, menata nafasnya yang terengah. Dia menatap mata adiknya, ada yang tidak beres, dia ikut menatap ke arah yang dipandang Mi Woo. Adiknya itu bahkan setengah berjinjit dan menjulurkan kepala jauh jauh. “Siapa yang kau lihat?” tanyanya curiga, “kau bicara dengan siapa?” dia meletakkan kedua tangannya di pipi adiknya, “Apa kau menangis?”

Mi Woo buru buru menyembunyikan kalung Yin Yang nya ke belakang punggung dan tersenyum sangat manis.

“Oppa, kalau kita punya uang lebih aku ingin naik kapal lagi, boleh kan?” dia menggandeng tangan kakaknya, “Oppa, mulai besok, bolehkah aku naik bus sendiri ke sekolah? Mulai sekarang aku akan jadi Shin Mi Woo yang berani…”

Ki Bum menyentuh keningnya, siapa tahu dia demam, “Kau makan apa di kapal tadi?” melihat adiknya bahagia dia tidak jadi marah.

“Aku terkena kutukan…” jawabnya pendek, dia mendahului kakaknya berjalan. Ki Bum masih terus memberondongnya dengan berbagai pertanyaan sambil sesekali mengucak rambutnya…

Yin Dan Yang , Soulmate…

Yin…

Soul…


END

Haha..gaje kan? Mana Siwonnya kok nggak ada? Katanya special Choi Siwon Siwonnya baru akan muncul di cerita kedua nanti aku post pas ultahnya Siwon … :p Huaa…ada yang mau membaca ternyata, gomawo yaaa *bow

Tidak ada komentar:

Posting Komentar