ONE SHOOT – SOUL ( Special Fanfiction
For 29th Choi Siwon Birthday )
A Fnfiction By Septi Titanika
Cast : Shin Mi Woo
Ari Stea
Darwin
Genre : Romance, Hurt
Rated : PG 15
Length : One Shoot / 4965 word.
The Fanfiction Is mine, castnya milik
saya. Inspirasi cerita ini adalah dari cerita lama yang pernah saya tulis saat
sekolah dulu, dari FF saya, Protect The Wife dan dari film Thailand Hello
Stranger.
Awas cerita aneh, nggak ada konflik sama
sekali , nggak ada feel sama sekali dan typo bertebaran, Judul nggak sesuai
dengan ceritanya. Don’t bash and happy reading^-^
Seoul, Korea Selatan…
Shin Mi Woo, murid kelas satu SMA Hangju
membereskan buku bukunya setelah les musik berakhir. Dia memperhatikan jam
bulat di dinding belakang kelas dan menyadari bahwa ini sudah senja, hampir jam
lima sore. Sebenarnya jam sekolah sudah berakhir empat jam lalu kalau bukan
karena ada guru baru yang memberikan les tambahan, guru Cho Kyuhyun. Sebulan
yang lalu, guru musiknya, guru Kang meninggal jadi guru baru itu terpaksa harus
mengisi pelajaran yang seharusnya diajarkan sebulan ini pada pelajaran
tambahan, menyebalkan.
Di kelas itu hanya dia yang tersisa,
mungkin juga di seluruh sekolah, Mi Woo sedikit berlari keluar kelas ketika
tiba tiba angin dingin berhembus, hii bisa jadi itu hantu. Dia memasang headset
kuning ke telinga kirinya untuk melawan sepi, bibirnya bersenandung kecil dan
kakinya melangkah riang. Seseorang pasti sudah mati bosan menunggunya di depan
gerbang, pengawal setianya, kakaknya.
“Oppa, apa kau sud…” Mi Woo melongokkan
kepalanya dari gerbang, bermaksud mengagetkan, tapi ternyata di sana hanya ada
dua anak laki laki berseragam. Mereka menatapnya dengan aneh karena merasa
terganggu dengan panggilannya.
“Oppa, kau bersembunyi di mana?” Tidak ada
kakaknya ataupun motornya. Mi Woo melongok ke ujung jalan, empat tahun ini
kakaknya tidak pernah sekalipun telat menjemputnya. “Huft, dimana sih dia?”
bibirnya mengerucut. Dia merogoh ponsel butut dari saku, tapi sial pulsanya
habis.
Lima menit, akhirnya Mi Woo menyandarkan
punggungnya di gerbang, mengambil jarak terjauh dari dua anak laki laki itu.
Kakaknya, Kim Ki Bum, selalu berpesan agar dia menjauhi laki laki jika sedang
tidak bersamanya – mereka berbahaya. Mi Woo menutupkan tudung jaketnya ke
kepala, melindungi diri. Hampir empat tahun yang lalu sebuah kejadian yang
sangat buruk pernah menimpanya, membuat kakaknya tidak pernah melepaskannya
sendirian.
“Oppa, kau lama sekali sih…” Dia belum
pernah pulang sendiri, sebuah bus yang menuju arah rumahnya lewat, dia
mengabaikannya.
Mi Woo – ya , aku ada pekerjaan di Jeolla,
gajinya lumayan jadi kuambil. Kau pulanglah sendiri naik taksi. Taksi jangan
naik Bus. Hati hati di jalan.
Sebuah SMS dari kakaknya membuatnya menghembuskan nafas berat. Sebesar
apa gajinya hingga Ki Bum memilih meninggalkannya? Mungkinkah bisa untuk
menebusnya jika dia diculik? Dia menggigit bibir bawahnya, menimbang nimbang
dengan resah, bagaimana ini? Naik taksi? itu akan sangat mahal. Kakaknya
mengumpulkan won demi won dengan susah payah, dia tidak akan tega
menghamburkannya. Naik bus berarti menghadapi bahaya jalanan. Kejadian buruk
itu masuk lagi ke ingatannya, membuatnya takut. Lagipula ini sudah sore, Ibu
pasti sedang mengomel sekarang karena dia belum pulang.
“Ya Tuhan, itu tulisan apa, gue nggak tahu
jalan…” Sepasang mata tajam memandangi papan petunjuk jalan dalam tulisan
hangul. Entah dia sudah menyusuri trotoar
berapa ratus meter jauhnya. Dia membuka kamus, tapi malah makin
membuatnya pusing. Peta di tangannya sudah sangat lusuh karena dibolak balik.
Jaketnya tersampir di bahu dengan ransel besar di punggung. Tangannya kerepotan
membawa peta, kamus, ponsel dan juga sebotol cola. Barang barangnya jatuh
bertebaran di trotoar, dia buru buru memungutinya.
“Tega banget ninggalin gue di sini, awas
kalau ketemu…” Stea memandang geram pada ponselnya. Kakaknya meninggalkannya sendirian entah kemana dia.
“Ahh..itu…” rasanya seperti menemukan oase di padang pasir ketika dia melihat
bus dengan nomor seperti yang tertulis di alamat hotelnya.
” Gue selamatt…” dengan tidak tahu malunya
dia melompat lompat menghadang bus itu. Lupa bahwa dia bukan di negaranya. Beberapa
orang menahan tawa melihat tingkahnya. Dia datang ke Korea untuk mengusir
jenuh. Kakaknya seorang fotografer dan kebetulan dia sedang ada pekerjaan di
Korea, jadi dia langsung mengiyakan begitu kakaknya menawarinya untuk ikut.
Mi
Woo membulatkan tekadnya, suatu saat dia juga harus lepas dari kakaknya, dia harus
bisa menjaga diri. Dia melangkahkan kakinya mantap ke pemberhentian bus di
dekat sekolah. Dia menarik nafas panjang ketika melihat sebuah kotak besar
berwarna hijau melaju dari kejauhan,”Lindungi aku Tuhannn…”
Stea berlari cepat menuju pemberhentian bus,
takut tertinggal. Ranselnya yang gemuk tidak mengurangi sedikitpun semangatnya.
Tega sekali kakaknya meninggalkannya sendirian di negara yang benar benar
asing, nyaris saja dia menjadi gelandangan yang tampan. Busnya sudah berhenti, dia memperlebar
langkah kaki panjangnya agar bisa segera menjangkau pintunya, tidak terpikirkan
itu akan mengakibatkan kakinya tidak bisa mengerem.
BRUK…colanya tumpah, botolnya jatuh ke
trotoar, dia sendiri hampir terjengkang ke belakang.
Mi Woo hampir memekik, sesuatu yang dingin
menyentuh kulitnya, cairan berwarna merah merembes mengotori seragamnya,
mulutnya membulat, “Omona…”
“Maaf, gue nggak sengaja..” namun sedetik
kemudian Stea sadar ucapannya salah,”I didn’t do in purpose, I m so sorry..”
“Seragamku..” seragamnya kotor, padahal
besok masih harus dipakai dan seragamnya yang itu dia hanya memiliki satu. “Kau
tidak lihat aku berdiri di sini sejak tadi?”
Stea diam, tidak mengerti apa yang Mi Woo
bicarakan. Dia masih terus mencoba minta maaf dalam bahasa inggris. Mi Woo
membalasnya dalam bahasa inggris sebisanya, tapi sepertinya Stea juga tidak
mengerti dengan bahasa inggris asal asalannya. Mereka tidak sadar bahwa bus
yang sudah berhenti itu bosan menunggu dan harus segera pergi ke rute yang lain.
“Busnya,busnya, hei jangan pergi..” Mi Woo
melambaikan tangannya.
“Hei, bus sialan, Wooii…gue belum naik..”
Stea berlari mengejar bus itu, namun sia sia, sepertinya bus itu tidak mau mengangkut
dua orang yang bertengkar di pinggir jalan.
“Bagaimana aku harus pulang? Malam ini
pasti aku harus makan sisa ramen yang dingin lagi..” Mi Woo menjejak jejakkan
kakinya ke trotoar dengan kesal. Setiap pulang sekolah dia akan membantu Ibunya
berjualan ramen hingga malam, dan jika dia terlambat , hukumannya adalah makan malam dengan sisa ramen setelah toko
mereka tutup.
“Ahh, gue nggak mau jadi gelandangan di
Korea..” Stea memencet mencet ponselnya dengan tidak beradap. Sebetulnya dia tadi
pergi dengan kakaknya, tapi dia bertemu dengan temannya dan bilang akan
mengambil foto sebentar, tapi nyatanya tidak kembali setelah dua jam. Dia
mencoba kembali ke hotel sendiri, tapi malah tersesat sampai ke tempat antah
berantah.
Mi Woo segera tersadar, namja yang baru
saja dia marahi itu asing. Bicara dengan kata kata yang tidak jelas, bermata
bulat tajam, hidung mancung dan rambut hitam pekat. Dia pasti turis yang
tersesat atau memang sengaja menyesatkan diri, jalanan itu berbahaya Mi Woo
– yaa …pesan Kim Ki Bum yang selalu dia ingat.
Mi Woo buru buru melangkahkan kakinya
cepat cepat sambil merutuki seragamnya, lebih baik menghindar sebelum terjadi
sesuatu yang buruk. Dia sempat menoleh sekali dan melihat Stea memandangi
punggungnya. Dia mendengarnya meneriakkan sesuatu, tapi Mi Woo tidak peduli.
Dia mencengkeram selempang tasnya kuat kuat, pergi secepat mungkin. Rasanya
lega ketika melihat bus selanjutnya datang, dia meloncat naik, tanpa sadar Stea
juga meloncat naik lewat pintu belakang dengan kekuatan penuh.
“Hei, I’ m sorry..” Mi Woo
terperanjat, Stea sudah ada di dekatnya, menunjuk seragamnya lalu kursi kosong
di sampingnya. Bus itu penuh, tidak ada tempat lain lagi. “Boleh aku duduk di
sini?”
“Duduklah aku akan berdiri..” Mi Woo baru
saja mengangkat tubuhnya ketika lorong di samping kursinya diisi oleh laki laki
tambun. Ingin rasanya dia berteriak.
“Kamu tahu hotel King? Aku tersesat..”
Stea menunjukkan kertas berisi alamat hotelnya, “Aku turis, tidak tahu
apapun..” Sekarang dia menunjukkan petanya, menampakkan wajah memelas. “Aku
orang Indonesia, I’m Indonesian…” Dia mengulurkan tangannya, “Maaf, sudah
mengotori bajum, aku takut ketinggalan bus..” Yah walaupun pada akhirnya tetap
harus naik bus berikutnya.
“Anieyo, no problem..”
Mi Woo mencoba mengikhlaskan seragamnya. “Oh, Hotel King?” di mencoba mengingat
ingat, sepertinya itu hotel terkenal. Belum tiga detik dia berpikir, tiba tiba
tubuhnya menubruk kursi di depannya, bus mengerem dengan mendadak. Lalu
terdengar suara ribut ribut, penumpang bus yang ada di depan semuanya berdiri,
ada bus terbalik dan terbakar hingga menyebabkan kemacetan panjang . Raungan
sirine polisi dan ambulance terdengar jelas makin menambah ricuh jalanan.
“Maaf penumpang sekalian, perjalanan kita
akan terganggu, ada kecelakaan besar di depan, jalur akan dialihkan jadi mohon
bersabar…”
Mi Woo terhenyak, dari pembicaraan orang
yang campur aduk, dia bisa mendengar
bahwa bus yang terbalik dan terbakar itu adalah bus yang seharusnya dia naiki
tadi. Stea sibuk membuka kamusnya, mencoba menerjemahkan apa yang orang orang
bicarakan. Dia bertanya pada orang di kursi di sebelahnya yang sepertinya orang
Amerika. Dia menjelaskan bahwa bus yang mengalami kecelakaan itu adalah bus
yang sama dengan line yang mereka naiki. Bus yang seharusnya ditumpanginya tadi.
Stea menyandarkan punggungnya, melemas. Bibirnya lirih mengucap syukur pada
Tuhan, dia diselamatkan dari maut di tempat yang benar benar asing.
***
Mi Woo memasukkan sesendok penuh patbingsu
ke mulutnya. Patbingsu itu terasa sangat enak di akhir musim panas
seperti ini. Seminggu lagi musim panas akan berakhir, berganti dengan dekapan
udara dingin musim gugur. Dia menyilakkan rambutnya yang berantakan tertiup
angin dingin dari sungai Han. Harusnya dia membawa ikat rambut tadi. Mi Woo
mengambil jepit rambut biru safir kesayangannya dan menata rambutnya dengan
itu, lebih cantik…
Matanya memandang ke air sungai Han yang
membentang keemasan dengan jembatan Banpo yang kokoh, seakan memisahkan sungai
itu menjadi dua. Dia duduk di bangku besi di pinggiran sungai Han, menunggui
kakaknya mencari uang. Mi Woo menghela nafas, hari ini dia lelah, jadi tidak
ingin membantu. Mereka bukan anak keluarga berada, kakaknya harus mengumpulkan
sedikit uang untuk bisa memberinya uang saku. Kalau tidak ada kuliah atau pekerjaan
sampingan dia biasa mengamen di pinggir sungai Han. Menjadi seorang Busker
– pengamen yang tidak hanya mengandalkan suara asal yang keluar dari mulut,
tapi pemusik jalanan yang memiliki kemampuan bernyanyi, bermain alat musik,
bahkan kadang break dance. Biasanya dia akan membantu dengan bermain harmonika
atau mengedarkan kotak uang.
Matahari mulai beranjak ke barat,
meninggalkan jejak bayangannya di air sungai Han yang bersih. Jembatan Banpo
ramai oleh kendaraan yang menyebrang dari Seocho ke Yungsan atau sebaliknya. Pingggiran
Sungai Han juga ramai oleh orang orang yang ingin menghabiskan waktu sore,
sekedar berjalan jalan menghirup udara segar, makan di kafe kafe mungil dan
cantik, atau bersepeda.
Mi Woo melangkahkan kaki, bosan juga dia
sendirian, dia menengadah menatap langit , burung burung berterbangan di langit
yang menjingga. Rasanya seperti melihat camar di pantai. Dia menyumpal
telinganya dengan sebuah lagu lembut melalui headsetnya…
“Hei, jangan lari lari nanti kau jatuh…”
Mi Woo tersenyum pada anak kecil yang berlari lari mengejar temannya yang naik
sepeda. Dia mengangguk pada Ibunya. Dia minggir ketika melihat sepasang kekasih
yang bergandengan tangan. Lalu ada seorang nenek yang asyik duduk merajut dibangku. Sungai Han
memberikan beribu kebahagiaan dengan cara yang berbeda beda…
“Berapa sewanya?” Mi Woo menyentuh stang
sepeda berwarna hijau di deretan sepeda yang disewakan. Keningnya berkerut
ketika mendengar harganya, naik dua ribu won dari kemarin. Dia melanjutkan
langkahnya lagi, tiba di pagar besi tepat di bibir sungai, menghirup udara
sejuk dalam dalam, melepaskan semua mimpi buruk yang pernah menghantuinya…
Stea mengarahkan EOS 70D pinjaman dari kakaknya
ke air sungai Han yang berkilau, ke jembatan Banpo, ke keramahan yang
dihadirkan sungai Han, langitnya, udara musim panas yang baginya masih cukup
dingin. Dia tersenyum melihat apa yang ada di depannya sekarang. Di Indonesia
mana ada sungai sejernih ini, mana ada orang bersantai di pinggir sungai.
Mulutnya membulat, mengucapkan pujian atas keindahan yang telah Tuhan limpahkan
untuk negeri ginseng itu. Ini pertama kalinya dia ke Korea, dan sepertinya dia
harus kembali lagi untuk mengajak...ah sudahlah tidak usah disebut lagi. Dia ke
sini untuk melepaskan sejenak namanya, mengisi dengan namanya lagi, jika hatinya
sudah mau sedikit berdamai.
Stea berlari lari kecil ketika melihat
sebuah kerumunan, dia menerobos masuk ke lingkaran yang cukup padat itu. ”Wooow…”
tanpa membuang waktu dia mengarahkan kameranya ke pusat pertunjukkan itu. Dia
sudah membaca brosur, pemusik jalanan yang disebut Busker. Tidak jauh beda dengan
di Indonesia. Stea melanjutkan petualangannya lagi, melihat seorang nenek, anak
kecil, persewaan sepeda…
Senyum di bibir Stea yang dari tadi terus
terkembang sedikit meluntur ketika lensa kameranya menangkap sebuah obyek
cantik dengan dress kuning selutut yang tengah menjulurkan tangannya seakan
ingin mendekap air…
“Kamu…”
Mi Woo masih asyik dengan air dan lagu
lembut yang benar benar merasuk ke telinganya, Stea menepuk punggungnya…
“Agashi, Annyeonghaseo..” kata itu
baru dipelajarinya semalam dan sekarang dia harus susah payah mengingat dan
melafalkannya.
Mi Woo menoleh, berpikir sebentar dan
kemudian bibirnya mengembangkan senyum, “Kau..”
“Aku yang di bus, kau masih ingat?” Stea
tidak menyangka akan bertemu gadis Korea ini lagi. Gadis ini secara tidak
langsung telah menyelamatkan nyawanya dan juga mungkin mamanya dari kondisi
struk akibat syok. Kalau dia tidak menghalangi jalannya hingga menubruknya
tentu dia sudah mati di bus maut itu.
“Anyeonghaseo..” Mi Woo
membungkukkan kepala. Kalau namja itu tidak menumpahkan colanya, tentu dia
sudah naik bus dan mungkin sekarang dia koma. Mereka telah saling
menyelamatkan. Mi Woo melongok ke kerumunan di mana Ki Bum berada, dia merasa
laki laki ini bukan orang jahat. Entah kenapa dia tidak merasa takut sama
sekali. Kakaknya juga laki laki, jadi ada kalanya dia juga tidak harus mempercayainya.
“Tuan, aku harus berterimakasih kau telah
menyelamatkanku kemarin..”
“Bukan..” Stea memberi tanda dengan
tangannya, “Kamu yang sudah menyelamatkanku..” Sepertinya dia sudah merasakan
berbagai kebetulan seperti di drama Korea yang sering ditonton mamanya.
Bukankah orang Korea juga sangat percaya pada takdir? Kalau dipikir pikir ini
takdir yang lucu.
“Wow..sungainya bagus banget, gila..” Stea
mengambil tempat di samping Mi Woo dan dia sibuk mengambil beberapa gambar.
“Ini sungai kebanggaan negara kami, kalau
malam sungai ini tampak lebih indah lagi. Oh, bukankah kau berasal dari
Indonesia? temanku pernah mengatakannya, Ba..” Mi Woo mencoba mengingat,
“Bali..” celetuknya. Dia tidak tahu kenapa dia berbicara tanpa rasa canggung
atau takut, seakan mereka adalah teman lama.
“Bukan, aku dari Lombok. Lombok tidak
kalah indah dari Bali..”
“Kau datang ke sini di waktu yang tepat,
musim panas sebentar lagi akan berakhir…”
Stea mengangguk, matanya berkeliling
mencari obyek foto lagi. “Apa yang dimakan anak itu?” dia menunjuk anak kecil
dengan semangkok patbingsu di pangkuannya.
“Itu es kacang merah, kau mau mencobanya?
Di sana yang menjualnya…” Mi Woo menunjuk sebuah kafe di ujung jembatan, dua
ratus meter dari tempat mereka berdiri.
“Berapa harganya?” Stea mengeluarkan semua
won yang dia punya, meletakkannya di tangannya yang tertangkup. Dia segera berjalan
mengikuti Mi Woo yang sudah berbalik untuk membeli Patbingsu.
“Enakk..” Stea mengacungkan dua jempolnya
ketika mulutnya penuh dengan patbingsu. Rasa manis kacang merah dan
dinginnya es begitu lumer di mulutnya. Ah setelah ini dia harus ikut jika mamanya
menonton drama Korea. Bahkan dia masih merasa seperti di mimpi, menginjakkan
kaki di tanah Korea rasanya seperti masuk ke layar drama. Dia mengusap bibirnya
yang belepotan dengan tisu.
“Ini paling enak di musim panas seperti ini…”
Mi Woo bahkan menambah, hari ini dia sudah menghabiskan tiga mangkok es kacang
merah.
“Bukankah di jembatan itu ada air mancur?”
Stea menunjuk jembatan Banpo.
“Hem, nanti malam, kau mau lihat?”
Bukannya menjawab Stea malah membuka brosur
wisatanya, lalu mengeluarkan kertas lusuh dari ranselnya. Kakaknya sudah
menuliskan banyak hal di situ, alamat hotel, jadwal mereka, takut dia hilang
lagi. Dan jadwal nanti malam adalah…pesiar naik kapal di sungai Han, tiba tiba
tawanya meledak, Mi Woo bengong.
“Aku akan melihatnya nanti malam, baca
ini, kakakku sudah membeli tiketnya…” matanya berbinar senang. Kakaknya memberi
catatan itu sejak kemarin, tapi dia tidak membacanya.
“Nikmatilah perjalananmu, menghabiskan
malam di sungai Han sangat indah..”
“Kamu mau ikut ?” dia masih punya uang
saku untuk membayarkannya. Dia juga tidak tahu kenapa rasanya dia sudah begitu
lama akrab dengan gadis ini, seperti bertemu kembali dengan teman lama, rasanya
lega yang tenang, bukan lega seperti saat dia melihat pacarnya baik baik saja.
Beban pikiran yang memberati kepalanya akhir akhir ini lenyap begitu saja.
Mengenal orang asing dan tidak tahu apa apa kadang memang lebih menyenangkan
dan tanpa beban.
“Aniyo, aku harus membantu Ibuku
berjualan, aku sudah pernah, nikmatilah saja..”
“Aku bayarkan tiketnya..” Dia merasa
nyaman berada di samping gadis ini. Dia ingin gadis ini ikut menjadi
pemandunya, tentu akan lebih nyaman menikmati keindahan Korea bersama orang
Korea..
“Tidak usah…”
“Ini sebagai balas budi kamu sudah nyelametin
aku kemarin…”
“Tidak, kau yang menyelamatkanku…”
Walaupun sebetulnya dia tidak ingin menolak tawarannya, kapan lagi dia bisa
bersenang senang. Lagipula semakin malam sungai Han semakin ramai, jadi Ki Bum sepertinya
belum akan berhenti mengumpulkan uang. Dia tersenyum sangat lebar, “Baiklah, tapi
kau yang bayarkan tiketnya…”
Stea tersenyum senang,setidaknya dia tidak
akan seperti orang hilang naik kapal sendirian. “Oh, aku ingin naik sepeda,
sewakan untukku, aku tidak tahu bagaimana menyewanya…”
Sore itu mereka habiskan dengan bersepeda
di pinggir sungai Han. Mi Woo seperti menjadi pemandu wisata dadakan. Tidak ada rasa kaku sama sekali, mungkin
karena atmosfir hangat senja sungai Han, benar benar seperti melepas kerinduan
dengan teman lama. Mereka baru bertemu kemarin, sebuah pertemuan tak terduga,
namun entah kenapa memunculkan rasa tenang damai yang menyenangkan, bukan
berdebar debar seperti jatuh cinta, tapi benar benar damai…
***
Bulan purnama bulat sempurna di langit Seoul
yang tampak berwarna warni oleh lampu lampu kota. Angin musim panas yang cukup
bersahabat mengiringi sebuah ferry pesiar yang membawa puluhan orang menikmati sisi lain
dari Korea. Menikmati sungai Han bukan hanya dari pinggir , tetapi benar benar
menyusuri setiap lekuk alirannya. Kapal pesiar putih itu riuh dengan obrolan
berbagai bahasa, saling menyapa walau tidak saling mengenal.
Jembatan Banpo tampak sangat indah dengan
air mancur berwarna warni yang menyembur dari kedua sisinya. Ratusan ribu kubik
air itu jatuh membuat gelombang di sungai untuk kemudian dipompakan lagi.
Kendaraan melaju cepat seakan tenggelam di tengah lampu lampu yang berderet dan
air mancur raksasa itu.
Shin Mi Woo merapatkan jaket tipisnya, sudah
hampir setengah jam, namun dia masih betah berdiri di dek feri itu, melihat
gemerlapnya kota dari air. Terakhir kali dia menikmati travel seperti ini hampir
setengah tahun yang lalu, sebagai hadiah ulangtahunnya yang ke enam belas.
“Ini buatmu…” Stea mengulurkan secangkir
kopi. Susah payah dia menyibak kerumunan orang yang juga berdiri di dek dengan
penuh semangat tanpa mempedulikan udara dingin yang menyusup. Dia memandang ke
ke sisi sungai, ke gedung parlemen Korea yang berdiri dengan kubahnya yang
kokoh.
“Gomawo..” Mi Woo menyesapnya
sedikit, rasa hangat langsung menjalar ke perutnya. Mereka tadi sudah menikmati
pertunjukkan musik dan sulap, sekarang berdiri di dek adalah pilihan terbaik,
melihat pemandangan menakjubkan di sepanjang Sungai Han. Gedung gedung pencakar
langit Seoul yang berderet, kafe kafe cantik, jembatan jembatannya, bahkan sampai stadion olahraga yang megah.
“Kalau tahu begini besok aku belum ingin
pulang…” gumam Stea, rasanya empat hari di Korea tidaklah cukup, dia bahkan baru
berputar putar di sungai Han. Belum ke pulau Jeju, pulau Nami, Namsan Tower, satu
lagi, dia belum mencoba Kimchi. Ke pabrik Samsung juga sepertinya tidak ada
salahnya.
“Kau mau pulang besok?” Mi Woo mengernyit.
“Yah, dengan penerbangan pagi. Aku hanya
ikut dengan kakakku…” padahal dia baru merasakan ketenangan dan sekarang harus
dilepaskan lagi. “Dia pulang ya aku harus pulang..”
“Hanya berdua saja dengan kakakmu?” tanya
Mi Woo dengan pandangan terpusat pada ponselnya, SMS dari Ki Bum, dia jawab dia
akan sampai empat puluh lima menit lagi. Ki Bum sudah menunggunya di dermaga
sekarang, dasar. Dia sempat melotot tak percaya ketiaka Mi Woo mengatakan akan
naik ferry bersama turis asal Indonesia. Siapa namanya? Mi Woo menggelengkan
kepalanya, babbo… mereka bahkan belum berkenalan.
“Memang dengan siapa lagi?” Stea
mengerahkan kameranya yang tergantung di leher ke gedung parlemen.
“Kebanyakan orang datang ke sini dengan
kekasih atau keluarganya, kau lihat itu?” Mi Woo menunjuk sepasang kekasih yang
sepertinya berasal dari Amerika, bule, lalu dua anak kecil dan orang tuanya.
Senyum Stea memudar. Dia dan pacarnya
sedang berada dalam titik renggang. Pacarnya juga tidak tahu bahwa dia pergi ke
Korea, dia belum menelfonnya hingga sekarang. Kemarin dia hanya pamit akan ke rumah
kakeknya di Lombok, tapi baru dua hari di Lombok, kakaknya mengajaknya terbang
ke tempatnya berada sekarang. Dia agak malas menelfon ke pacarnya di Jakarta.
“Yah harusnya aku mengajaknya ke sini..”
tempat ini sangat cocok untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi kenyataannya
dia justru menghabiskan waktu dengan gadis Korea yang baru ditemuinya kemarin.
Dia baru menyadari bahwa dia seperti pengecut yang berlari dari masalah.
“ Dia senang dengan drama Korea seperti
mamaku, dia pasti memukuliku kalau tahu aku pergi ke sini..” Stea tertawa
miris. Apa kamu baik baik saja di sana? Hubungannya baru berjalan sekitar empat
bulan, tapi rasanya terlalu sulit untuk dilanjutkan. Penyebabnya adalah sebuah
awal yang tidak terlalu baik…
“Kalian sedang bertengkar?” Tiba tiba Mi
Woo penasaran.
Bertengkar? Tidak juga. Hanya seperti
saling menjauhkan diri, saling merasa tidak enak satu sama lain. Ingin
membiarkan saja jika salah satu bahagia dengan pilihannya, tapi malah jadi
rumit.
“Oh, kalian sedang bertengkar rupanya?” Mi
Woo tertawa kecil, “dan kau melarikan diri ke sini..” itu kesimpulannya. Dia
merasa miris, menyenangkan sekali punya pacar dan bisa bertengkar. Sedang dia,
pergaulannya dengan laki laki sangat dibatasi. “Jangan begitu, nanti kau
menyesal, hati wanita itu sangat lembut…” Dia memeluk tubuhnya yang mulai benar
benar kedinginan.
“Dia keras kepala..” bahkan lebih keras
dari batu. Dia butuh hampir tiga tahun untuk
menjadikannya pacarnya, tapi ternyata menjalaninya tidak semudah yang
dia bayangkan. ” Hubungan kami tidak
diawali dengan baik…” besok dia tidak akan bertemu gadis Korea itu lagi, jadi
tidak ada salahnya jika dia bercerita. Dia sama sekali tidak merasa asing, apa
di kehidupan sebelumnya mereka pernah bertemu?
“Aku hidup dari ginjal orang yang sangat
mencintai dia…”
“Mwo?” Mi Woo meminta pengulangan.
“Dia koma karena kecelakaan dan aku koma
karena sakit, dia memilih mati agar aku tetap hidup, merelakan orang yang dia
cintai untukku…” cerita Stea lirih. Itu sebabnya mereka menjadi agak canggung
akhir akhir ini. Dia kasihan melihat pacarnya sedikit tertekan, dan mau tidak
mau itu menjadi beban pikirannya juga.
“Hem, kau tidak terlihat seperti itu…” dia
tidak terlihat menyimpan beban.
“Menurutmu aku harus bagaimana sekarang?”
apa harus dia lepaskan saja gadis itu?
“Jangan menyerah…” Mi Woo menyemangatinya,
“kau harus mempertahankan hubunganmu, pacarmu pasti sangat beruntung bertemu
orang sepertimu…”
“Kalau tetap dipertahankan itu sama saja
membunuhnya perlahan…” benar kan? mereka hanya akan saling menyakiti.
“Kau tidak kasihan pada orang yang sudah
mendonorkan ginjalnya untukmu? Dia sudah berusaha berbahagia untuk kalian. Dia
pasti kesulitan melakukan itu, berdamai itu hal yang paling sulit…” apalagi
berdamai dengan hati, seperti yang dia dan Ki Bum lakukan setelah kejadian
buruk itu. Mi Woo mengusap matanya, kejadian itu terngiang lagi, hal yang
membuatnya tidak akan pernah sempurna.
Deg, Stea memandang Mi Woo, gadis Korea
ini benar. Rasa sakit dan galau yang dirasakannya sekarang tidak ada apa apanya
dengan rasa sakit yang dirasakan orang yang telah merelakan nyawa dan hatinya
untuknya. Untuk sesaat kemudian mereka terdiam dalam pikiran masing masing.
Sangat berbalik dengan ramainya suara orang orang di kapal itu serta deru ferry
yang semakin mendekati dermaga.
“Kau sendiri?” Stea juga tidak melihatnya
bersama siapapun kemarin.
“Aku terbiasa hanya dengan kakakku…” jawab Mi Woo
pendek, “kami selalu bersama kemana mana…kau tidak melihatnya tadi? Kakakku
yang menyanyi di pinggir sungai, namanya Kim Ki Bum…sekarang dia sudah
menungguku di pelabuhan” Mi Woo menunjukkan ponselnya yang terus diberondong
SMS.
Stea hanya ber – oh pendek, dia tidak
ingat, ada dua orang yang menyanyi di dekat sungai Han tadi. “Kakakku tidak
sebaik kakakmu..” gumamnya. Hubungannya dengan kakaknya juga belum begitu lama
membaik, kakaknya sempat kabur ke luar negeri beberapa lama tanpa pamit. “Kamu
sangat beruntung…” mengingat keadaan keluarga mereka rasanya pedih.
Mi Woo menghela nafas panjang, kalau bukan
karena kejadian itu hidupnya tidak akan seketat sekarang. “Aku pernah
dihancurkan tiga tahun yang lalu…” sebetulnya dia tidak ingin mengingatnya, dia
mendadak kesulitan bernafas. “Aku pernah mengalami sesuatu yang sangat buruk di
usia tigabelas tahun, bahkan sampai sekarang aku masih trauma..”
“Semacam kecelakaan, kamu hilang ingatan
atau apa?” Stea tiba tiba merasa iba, apalagi Mi Woo tiba tiba menunduk
memandang air, buku buku jarinya yang mencengkeram besi pinggiran dek memutih
dan nafasnya tidak beraturan, “Sorry, kalau akau sudah menyinggungmu…”
mau tahu sekali sih dia pada urusan orang asing.
“Bukan, tapi…” kata kata itu sudah sampai
di ujung bibirnya, amarah mendorongnya untuk mengatakannya. Selama ini hanya
dia dan Ki Bum yang tahu, mereka menutup rapat rapat lembaran hitam itu dari
Ibu, dia tidak punya tempat menangis selain Ki Bum. Air mata Mi Woo tiba tiba
tumpah, menetes dan hilang berbaur dengan air, dia terisak…
Stea menyentuh pundaknya, dia jadi merasa
tidak enak, apalagi orang orang mulai memperhatikan mereka, “Sudahlah tidak
usah dikatakan, tidak apa apa…” bisiknya. Tiba tiba dia ingat, terakhir kali
dia datang ke rumah pacarnya, dia menghindar dan menangis di kamar…
“Aku tidak pernah bisa bercerita pada
siapapun, bukan kecelakaan, seorang bangsat menghancurkan hidupku, membuat aku
menjadi kepingan yang tidak berharga sama sekali..” terserah, dia ingin
menangis sekarang. Dadanya sudah terlampau penuh untuk menampung semuanya
sendiri. Lagipula dia ada di tengah sungai sekarang, terpisah dari daratan
tempatnya hidup, terlepas dari hidupnya yang biasanya. Sampai kapal ini merapat
nanti, bolehkah dia menjadi Mi Woo yang lemah? hidup seperti anak seusianya,
menangis, merengek, bermanja manja…
“Tenangkan diri kamu, tidak apa apa..”
Stea menutup mulutnya, tidak ingin mengikuti Mi Woo menyebut – entah siapa dia
dengan bangsat. “Apa ini hal yang sangat buruk?” Adakah yang lebih buruk dari
hidup dengan ginjal laki laki yang begitu mencintai pacarnya? Itu adalah hal
terfatal sedunia…
Mi Woo mengatakannya dengan cukup lirih,
namun masih cukup jelas untuk Stea
dengar, dia seperti ditampar. Masih berusaha mencerna apa yang gadis Korea itu katakan,
tubuhnya menegang. Mi Woo tidak peduli orang memandangnya aneh, tidak peduli
orang asing akan tahu aibnya, yang dia tahu, dia sudah tidak tahan lagi, dia
tidak peduli merusak suasana kapal dengan tangisannya yang makin lama makin
keras…
Stea mendesah, ahh kenapa pakai acara
menangis, sih, dia kan jadi seperti tertuduh. “Mianhae, aku sudah bikin
kamu sedih…maaf, aku bener bener nggak ngira…”dia menyentuh lengan Mi Woo
pelan. Jantungnya seperti ditikam, hidupnya bukan yang terburuk ternyata,
mungkin ini cara Tuhan menguatkan hatinya. Menyebrang negara, berbeda ras,
bahasa, dia menemukannya di tengah jutaan manusia, dia tidak sendiri. Hidup ini
begitu sulit, gadis ini berjuang bertahan, apa yang dia lakukan? Malah kabur
begitu saja…
“Tidak apa apa..” Mi Woo mengusap pipinya,
setelah tiga tahun, akhirnya dia bisa mengatakannya, dadanya begitu lega…
“Aku berjanji tidak akan mengatakannya
pada siapapun…” Stea mengacungkan kelingkingnya, janji. ”Terimakasih karena kau
juga mau mendengar ceritaku…” masalahnya dia juga tidak menceritakannya pada
siapapun, bahkan kakak dan mamanya.
“Maaf, aku mengganggu liburanmu dengan
cerita burukku…” Mi Woo juga merasa tidak enak. Dia tidak tahu juga kenapa
pertama kali dia bisa bercerita adalah pada orang asing. Titik paling hitam
hidupnya yang tidak akan bisa dihapus dengan cat putih setebal apapun.
Kehilangan harga dirinya di usia tiga belas tahun. ”Kau jauh jauh dari
Indonesia ke Korea malah bertemu orang sepertiku..” Mi Woo tertawa dalam
tangisnya, “kau pasti dikutuk…” dia mencoba bercaanda.
“Kamu juga dikutuk bertemu aku…”
“Aku lega sekarang, kau benar benar tidak
akan mengatakannya pada siapapun kan?” Walaupun dia yakin namja asing
ini adalah orang yang bisa dipercaya.
“Tidak akan, kalau suatu saat kau bertemu
pacarku, kau juga tidak akan mengatakan apapun kan?” impas.
“Suatu saat aku ingin bertemu dia, kalian
harus segera berbaikan, mungkin benar ini kutukan, kita bertemu di sini dengan
masalah kita masing masing dan kurasa kita sudah saling menguatkan..” Dia sudah
merasa benar benar kuat sekarang, dia tidak akan menyerah lagi, dia akan jadi
Mi Woo seperti anak SMA pada umumnya, bergaul, menonton sepak bola, bola
basket, menonton konser, mengerjai temannya, dia harus jadi seperti itu.
“Kutukan ini menyenangkan juga…” Stea
merasakan laju kapal melambat, pelabuhan sudah di depan mata mereka. Untuk
menemukan sebuah pelajaran berharga ternyata dia harus menempuh ribuan
kilometer. Hatinya terasa lapang, ada beban yang terlepas…
“Terimakasih sudah mengajakku naik kapal…”
Mi Woo membungkukkan badan ketika kakinya kembali menginjak tanah pelabuhan.
Dia tersenyum, wajahnya dibingkai oleh rambutnya yang berkibar kibar ditiup
angin laut yang kencang.”Kapan kapan aku pasti akan membalasnya…”
“Tidak apa apa, tidak usah, aku juga
senang mendapat pemandu wisata gratis. Mamaku pasti senang kalau tahu aku bisa
jalan jalan dengan orang Korea…” Dan terimakasih karena sudah mengajarkannya
berdamai.
“Lain kali kau harus datang kemari lagi,
kau harus mengajak pacarmu, nanti kutraktir kalian patbingsu…” Mi Woo
mendengar suara memanggilnya, bayangan kecil tampak berlari lari mendekat, “Cepat
pergi, ada kakakku..” dia mendorong Stea menjauh, “kau bisa dipukul nanti,
cepat pergi…” matanya merah, bisa mati dia jika Ki Bum sampai melihatnya.
Sebelum pergi Stea mengeluarkan sebuah
benda yang sempat dia beli tadi pagi di Apgujeong, dia mengenggamkannya ke
tangan Mi Woo, “Ambil, kenang kenangan dariku..” dia buru buru berbalik ketika
melihat orang yang tadi bernyanyi di pinggir sungai Han.
“Terimakasih sudah membantuku…” Stea
berlari mundur, melambaikan tangannya, “Daaa…gomawo…” siapa dia, babbo,
mereka bahkan tidak berkenalan, “Aku Stea, Ari Stea, gomawoo…”
Mi Woo memperhatikan benda yang tergenggam
di tangannya, Stea sudah jauh, hampir hilang ditelan kendaraan yang diparkir,
“Aku Shin Mi Woo…” teriaknya, kenapa hal sesederhana nama bisa dilupakan?
Padahal mereka cukup lama bersama. Mi Woo tersenyum geli, benda di tangannya
adalah kalung dengan bandul potongan Yin dan Yang berwarna hitam, Yin…
“Mi Woo – yaa, kenapa kau lama sekali, kau
kemana saja, aku sudah lama menunggumu di sini..” Ki Bum membungkuk, menumpukan
tangannya di lutut, menata nafasnya yang terengah. Dia menatap mata adiknya,
ada yang tidak beres, dia ikut menatap ke arah yang dipandang Mi Woo. Adiknya
itu bahkan setengah berjinjit dan menjulurkan kepala jauh jauh. “Siapa yang kau
lihat?” tanyanya curiga, “kau bicara dengan siapa?” dia meletakkan kedua
tangannya di pipi adiknya, “Apa kau menangis?”
Mi Woo buru buru menyembunyikan kalung Yin
Yang nya ke belakang punggung dan tersenyum sangat manis.
“Oppa, kalau kita punya uang lebih aku
ingin naik kapal lagi, boleh kan?” dia menggandeng tangan kakaknya, “Oppa,
mulai besok, bolehkah aku naik bus sendiri ke sekolah? Mulai sekarang aku akan
jadi Shin Mi Woo yang berani…”
Ki Bum menyentuh keningnya, siapa tahu dia
demam, “Kau makan apa di kapal tadi?” melihat adiknya bahagia dia tidak jadi
marah.
“Aku terkena kutukan…” jawabnya pendek,
dia mendahului kakaknya berjalan. Ki Bum masih terus memberondongnya dengan
berbagai pertanyaan sambil sesekali mengucak rambutnya…
Yin Dan Yang , Soulmate…
Yin…
Soul…
END
Haha..gaje kan? Mana Siwonnya kok nggak
ada? Katanya special Choi Siwon Siwonnya baru akan muncul di cerita kedua nanti
aku post pas ultahnya Siwon … :p Huaa…ada yang mau membaca ternyata, gomawo
yaaa *bow
Tidak ada komentar:
Posting Komentar