SILENTTOPIA
www.silenttopia.com
Hai, silenttopia adalah blogku yang kupersembahkan untuk orang yang sudah
kusukai sejak SD, Anthony. Silenttopia,
silent berarti diam karena aku memang hanya bisa mengagumi Tony dalam diam, aku
tidak pernah punya keberanian dan kesempatan untuk mengatakannya. Topia kalau kamu
cari dalam kamus itu artinya negeri khayalan. Hanya di dunia yang kuciptakan sendiri
inilah aku bisa merasa bahwa aku dan Tony bisa bersatu.
Topia itu juga dari namaku dan dia, Tony dan Livia, aku biasa dipanggil
Pia.
Walaupun rumah Tony tepat di samping rumahku dan kami selalu berangkat
sekolah bersama, dia tidak tahu bahwa blog ini ada.
Seperti dia yang menganggap aku ini sebatas ada, tapi tidak punya
perasaan apa apa.
***
www.silenttopia.com
“Tony, titip Pia ya, hati hati berangkatnya…” Ibuku berteriak dari balik
pagar rumah. Aku ini sudah besar, memangnya aku masih anak TK yang harus
dititipkan?
“Iya, Tante” suara Tony kalah oleh suara motornya.
“Mama selalu deh gitu” kataku sambil mencengkeram ransel Tony erat erat,
berpegangan.
“Mama kamu kan khawatir sama kamu, Pia” Tony mulai membawa motornya
menuju sekolah. Kalau sudah begini rasanya aku tidak ingin sampai di sekolah,
semoga saja jalanan macet hingga jam sepuluh. Kalau sedang mengendarai motornya
seperti ini Tony menjadi sepuluh kali lebih tampan dan membuatku hatiku jungkir
balik.
“Pia, nanti kamu pulang sendiri gimana? Aku ada les soalnya”
“Apa?” Aku tidak mendengar dengan jelas karena sebuah bus menyalip kami.
“Nanti kamu pulang naik angkot ya, aku ada les”
Aku ingin bilang, yaah, tapi akhirnya aku mengangguk.
Hari itu ternyata Tony bohong padaku. Sepulang sekolah aku mampir ke
toko buku dan aku melihat Tony ada di kafe di depan toko buku. Tidak sendirian,
tapi bersama Hani, anak kelas dua yang cantik.
***
www.silenttopia.com
Aku duduk menikmati angin semilir di pinggir lapangan bola sambil
membuka blog dari ponsel Androidku. Sesekali mataku mengikuti Tony yang sedang
berlarian di lapangan. Dia pemain sepak bola andalan sekolah. Walaupun aku
tidak suka bola, aku suka diam diam menontonnya.
“Pia!”
Aku mengelus dada, keget. Sejak kapan Tony ada di belakangku? Rambut dan
kaosnya basah oleh keringat, begitu juga dengan wajahnya yang coklat mengkilat
karena kepanasan.
Aku menggeser duduk agar dia bisa duduk, “Menang?” tanyaku tanpa
mengalihkan perhatian dari layar ponsel.
“Cuma latihan kok” Tony meneguk air mineralnya, “Kamu lagi ngapain sih?”
Aku menjauhkan ponselku ketika Tony hendak melihatnya.
“Ya udah deh kalau nggak boleh. Eh, Pi, aku mau cerita nih…” wajahnya
berubah sumringah.
“Cerita apa?” firasatku mengatakan itu tentang wanita.
“Aku udah jadian sama…” Tony menarik nafas, “Hani”
Aku menoleh secepat kilat dan tidak berkedip. Setelah itu Tony terus
mencerocos tentang bagaimana dia bisa mendapatkan Hani.
Aku pura pura ikut bahagia, harus. Inilah resiko yang harus aku tanggung
atas perasaan yang tidak pernah aku ungkapkan. Aku patah hati.
***
www.silenttopia.com
Aku masih berangkat sekolah dengan membonceng motor Tony, tapi sepanjang
perjalanan aku sama sekali tidak berniat untuk bicara. Di parkiran sekolah kami
sudah disambut oleh Hani. Tony dan Hani segera menghilang dan aku juga menuju
ke kelasku sendiri.
Aku tidak konsentrasi selama pelajaran dan malah asyik menulis di
blogku, kali ini sebuah puisi pendek.
Matahari, bulan butuh cahayamu untuk bersinar
Matahari, bulan ingin menghibur bumi
Matahari berikan cahayamu maka akan kuteruskan untuk bumi…
“Livia, apa yang kamu lakukan?” suara berat pak Husin bergema.
Aku tergagap.
***
www.silenttopia.com
Hujan, aku menengadahkan tangan menerima rintik rintik air. Bibirku
mengulum senyum ketika teringat saat kecil dulu aku dan Tony suka diam diam
keluar rumah dan bermain air. Kami baru pulang jika Mama sudah marah marah.
Sekarang kami bukan anak kecil lagi dan semua sudah berubah. Tony sudah punya
pacar dan aku masih Pia yang kesulitan beradaptasi.
Aku menaikkan resleting jaketku untuk menahan dingin yang menggigit,
membuka payung dan berjalan meninggalkan Sekolah yang sudah sepi.
Hhh, Tony pasti mengantar Hani pulang.
Aku berjalan sendirian dan mempercepat langkahku karena hujan makin
deras.
“Pokoknya aku nggak mau tahu gimana caranya kamu harus berhasil bikin
tim Sekolah ini kalah,ngerti?!”
Aku menghentikan langkah ketika mendengar sebuah suara dari sebuah ruang
kelas yang pintunya sudah tertutup.
“Kamu tenang aja, aku akan bikin Tony cedera, pokoknya dia nggak akan
bisa ikut pertandingan” lalu setelah itu ada suara tawa dari dua orang.
Aku menutup payungku dan mengintip dari jendela. Hani dan seorang cowok
dari sekolah sebelah tampak sedang bertos.
Oh, jadi itu tujuan Hani yang sebenarnya?
***
www.silenttopia.com
Hujan bertambah deras ketika sore ini aku nekat memutuskan ke rumah Tony
untuk menceritakan apa yang kulihat. Tapi apa reaksi Tony? Apa balasannya
untukku yang telah hujan hujanan mendatanginya? Dia marah marah dan menuduh aku
berbohong.
“Aku dengar sendiri, Ton”
“Nggak mungkinlah, jangan mengada ada”
“Tony, aku lihat pakai mataku sendiri, Hani mau bikin kamu cedera pas
pertandingan sepak bola” Dan haruskah aku mengatakannya juga bahwa Hani
sebetulnya adalah pacar cowok SMA sebelah?
“Pia, udah deh kamu jangan ngomong aneh aneh”
“Aku nggak bohong, Tony” memang susah ya ngomong dengan orang yang
sedang kasmaran?
“Pia, kamu sadar nggak sih?” suara Tony naik lagi satu oktaf. “Aku tuh
dari dulu nggak pernah ngerti dengan apa yang kamu katakan, aku…” Tony
mengibaskan tangannya, sedang mencari kata kata yang tepat. “Aku nggak pernah
paham dengan apa yang kita bicarakan, aku nggak pernah nyambung sorry…”
Deg, aku merasa seperti dijatuhi batu.
“Maafin aku, Pia…” Tony memegang pundakku.
“Nggak apa apa, aku cuma mau ngasih tau, terserah kamu mau percaya atau
nggak. Mungkin aja aku salah lihat atau salah dengar”
Esoknya aku masih berangkat sekolah bersama Tony tapi keadaan sudah
berubah seratus delapan puluh derajat.
***
www.silenttopia.com
Cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Melihat orang yang kamu
sukai di depan matamu tapi tidak pernah bisa menyentuhnya. Dia begitu dekat,
tapi seperti bayangan yang selalu lolos saat kamu genggam.
Aku menutup tab close di sudut blogku, moodku untuk menulis juga hilang.
Aku menendang nendang bunga liar yang tumbuh di bawah kursi taman tempatku
duduk, apa kukatakan saja perasaanku yang sebenarnya? Aku akan terkesan
murahan, tapi setidaknya itu akan mengurangi himpitan di hatiku.
Semua teman sekelasku selalu membicarakan tentang pacar pacar mereka,
tapi apa yang kumiliki di kelas dua SMA ini? Aku tidak pernah berani menyukai
orang lain selain Tony.
***
www.silenttopia.com
“Kamu nggak mau nonton bola, Pi?” Mama melongok ke dalam kamarku lewat
celah pintu.
Aku mengeluarkan kepala dari bawah selimut, “Malas”
“Tony lho yang main jadi kapten lagi…”
Aku mengulangi sekali lagi kata, ‘malas’. Aku membuka laptopku dan
menulis sebuah puisi di blogku. Tentu saja tentang perasaanku yang kacau balau.
Ponselku berdering tepat ketika aku selesai memposting puisiku.
Tim kita kalah, Pi, Tony cedera parah, dia dibawa ke Rumah Sakit
Aku melempar ponselku ke sembarang tempat, kubilang juga apa? Rasa cemas
namun juga jengkel berkecamuk dalam hatiku. Aku sudah terlajur sakit hati. Dia
juga tidak pernah mengerti aku, buat apa aku mengerti dia?
***
www.silenttopia.com
Hujan lagi, dingin seperti hatiku. Langit abu abu, sama juga dengan
hatiku. Aku memandang hujan dari jendela kamar, menarik nafas panjang. Aku
memang tidak akan pernah bisa bersama dengan Tony.
Setelah tahu kejadian yang sebenarnya Tony masih bisa memaafkan Hani.
Hani berjanji akan putus dengan pacarnya dan mereka memulai hubungan dari awal.
Persahabatanku dengan Tony juga kembali membaik, namun tidak akan pernah
sebaik dulu. Aku memilih menjaga jarak dengannya, aku sadar aku tidak pantas
untuknya.
Biarlah perasaanku kututup rapat rapat dalam blogku. Aku memutuskan
tidak akan menulis tentangnya lagi dan menutup blog.
Ini adalah postingan terakhirku, aku ingin meminta maaf dan juga
berterimakasih untuk Tony yang telah menjadi matahariku selama ini.
Silenttopia,
Secret Admirer…
***
Anthony menutup blog silenttopia dan tubuhnya lemas mendadak, tulang
tulangnya serasa hilang. Pia, dia tidak pernah menyangkanya...
Pia, tetangga dan sahabatnya sejak SD, gadis bisu itu menceritakan
semuanya dalam blog. Semua yang ditulis Pia dalam blognya memang nyata, semua
yang dikatakan Tony juga nyata. Semua perkataan Pia di dunia nyata dikatakan
dengan bahasa isyarat. Pia kembali menuliskan apa yang dikatakannya dalam blog
Pia menyukainya namun Tony tidak menyadari itu.
Dia baru saja mendapat password untuk membuka kembali blog Pia yang
telah ditutup dua tahun lalu dari Mama Pia. Pia meninggal sebulan lalu karena
kecelakaan dan dia sempat meminta Mamanya untuk kembali membuka blognya.
Tony memandang fotonya dan Pia saat masih kecil yang menjadi header blog
itu, air matanya bergulir perlahan.
Maafin Tony, Pia…
TAMAT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar