Senin, 10 November 2014



SILENTTOPIA

www.silenttopia.com

Hai, silenttopia adalah blogku yang kupersembahkan untuk orang yang sudah kusukai sejak  SD, Anthony. Silenttopia, silent berarti diam karena aku memang hanya bisa mengagumi Tony dalam diam, aku tidak pernah punya keberanian dan kesempatan untuk mengatakannya. Topia kalau kamu cari dalam kamus itu artinya negeri khayalan. Hanya di dunia yang kuciptakan sendiri inilah aku bisa merasa bahwa aku dan Tony bisa bersatu.
Topia itu juga dari namaku dan dia, Tony dan Livia, aku biasa dipanggil Pia.
Walaupun rumah Tony tepat di samping rumahku dan kami selalu berangkat sekolah bersama, dia tidak tahu bahwa blog ini ada.
Seperti dia yang menganggap aku ini sebatas ada, tapi tidak punya perasaan apa apa.
***
www.silenttopia.com

“Tony, titip Pia ya, hati hati berangkatnya…” Ibuku berteriak dari balik pagar rumah. Aku ini sudah besar, memangnya aku masih anak TK yang harus dititipkan?
“Iya, Tante” suara Tony kalah oleh suara motornya.
“Mama selalu deh gitu” kataku sambil mencengkeram ransel Tony erat erat, berpegangan.
“Mama kamu kan khawatir sama kamu, Pia” Tony mulai membawa motornya menuju sekolah. Kalau sudah begini rasanya aku tidak ingin sampai di sekolah, semoga saja jalanan macet hingga jam sepuluh. Kalau sedang mengendarai motornya seperti ini Tony menjadi sepuluh kali lebih tampan dan membuatku hatiku jungkir balik.
“Pia, nanti kamu pulang sendiri gimana? Aku ada les soalnya”
“Apa?” Aku tidak mendengar dengan jelas karena sebuah bus menyalip kami.
“Nanti kamu pulang naik angkot ya, aku ada les”
Aku ingin bilang, yaah, tapi akhirnya aku mengangguk.
Hari itu ternyata Tony bohong padaku. Sepulang sekolah aku mampir ke toko buku dan aku melihat Tony ada di kafe di depan toko buku. Tidak sendirian, tapi bersama Hani, anak kelas dua yang cantik.
***
www.silenttopia.com

Aku duduk menikmati angin semilir di pinggir lapangan bola sambil membuka blog dari ponsel Androidku. Sesekali mataku mengikuti Tony yang sedang berlarian di lapangan. Dia pemain sepak bola andalan sekolah. Walaupun aku tidak suka bola, aku suka diam diam menontonnya.
“Pia!”
Aku mengelus dada, keget. Sejak kapan Tony ada di belakangku? Rambut dan kaosnya basah oleh keringat, begitu juga dengan wajahnya yang coklat mengkilat karena kepanasan.
Aku menggeser duduk agar dia bisa duduk, “Menang?” tanyaku tanpa mengalihkan perhatian dari layar ponsel.
“Cuma latihan kok” Tony meneguk air mineralnya, “Kamu lagi ngapain sih?”
Aku menjauhkan ponselku ketika Tony hendak melihatnya.
“Ya udah deh kalau nggak boleh. Eh, Pi, aku mau cerita nih…” wajahnya berubah sumringah.
“Cerita apa?” firasatku mengatakan itu tentang wanita.
“Aku udah jadian sama…” Tony menarik nafas, “Hani”
Aku menoleh secepat kilat dan tidak berkedip. Setelah itu Tony terus mencerocos tentang bagaimana dia bisa mendapatkan Hani.
Aku pura pura ikut bahagia, harus. Inilah resiko yang harus aku tanggung atas perasaan yang tidak pernah aku ungkapkan. Aku patah hati.
***
www.silenttopia.com

Aku masih berangkat sekolah dengan membonceng motor Tony, tapi sepanjang perjalanan aku sama sekali tidak berniat untuk bicara. Di parkiran sekolah kami sudah disambut oleh Hani. Tony dan Hani segera menghilang dan aku juga menuju ke kelasku sendiri.
Aku tidak konsentrasi selama pelajaran dan malah asyik menulis di blogku, kali ini sebuah puisi pendek.

Matahari, bulan butuh cahayamu untuk bersinar
Matahari, bulan ingin menghibur bumi
Matahari berikan cahayamu maka akan kuteruskan untuk bumi…

“Livia, apa yang kamu lakukan?” suara berat pak Husin bergema.
Aku tergagap.
***
www.silenttopia.com

Hujan, aku menengadahkan tangan menerima rintik rintik air. Bibirku mengulum senyum ketika teringat saat kecil dulu aku dan Tony suka diam diam keluar rumah dan bermain air. Kami baru pulang jika Mama sudah marah marah. Sekarang kami bukan anak kecil lagi dan semua sudah berubah. Tony sudah punya pacar dan aku masih Pia yang kesulitan beradaptasi.
Aku menaikkan resleting jaketku untuk menahan dingin yang menggigit, membuka payung dan berjalan meninggalkan Sekolah yang sudah sepi.
Hhh, Tony pasti mengantar Hani pulang.
Aku berjalan sendirian dan mempercepat langkahku karena hujan makin deras.
“Pokoknya aku nggak mau tahu gimana caranya kamu harus berhasil bikin tim Sekolah ini kalah,ngerti?!”
Aku menghentikan langkah ketika mendengar sebuah suara dari sebuah ruang kelas yang pintunya sudah tertutup.
“Kamu tenang aja, aku akan bikin Tony cedera, pokoknya dia nggak akan bisa ikut pertandingan” lalu setelah itu ada suara tawa dari dua orang.
Aku menutup payungku dan mengintip dari jendela. Hani dan seorang cowok dari sekolah sebelah tampak sedang bertos.
Oh, jadi itu tujuan Hani yang sebenarnya?
***
www.silenttopia.com

Hujan bertambah deras ketika sore ini aku nekat memutuskan ke rumah Tony untuk menceritakan apa yang kulihat. Tapi apa reaksi Tony? Apa balasannya untukku yang telah hujan hujanan mendatanginya? Dia marah marah dan menuduh aku berbohong.
“Aku dengar sendiri, Ton”
“Nggak mungkinlah, jangan mengada ada”
“Tony, aku lihat pakai mataku sendiri, Hani mau bikin kamu cedera pas pertandingan sepak bola” Dan haruskah aku mengatakannya juga bahwa Hani sebetulnya adalah pacar cowok SMA sebelah?
“Pia, udah deh kamu jangan ngomong aneh aneh”
“Aku nggak bohong, Tony” memang susah ya ngomong dengan orang yang sedang kasmaran?
“Pia, kamu sadar nggak sih?” suara Tony naik lagi satu oktaf. “Aku tuh dari dulu nggak pernah ngerti dengan apa yang kamu katakan, aku…” Tony mengibaskan tangannya, sedang mencari kata kata yang tepat. “Aku nggak pernah paham dengan apa yang kita bicarakan, aku nggak pernah nyambung sorry…”
Deg, aku merasa seperti dijatuhi batu.
“Maafin aku, Pia…” Tony memegang pundakku.
“Nggak apa apa, aku cuma mau ngasih tau, terserah kamu mau percaya atau nggak. Mungkin aja aku salah lihat atau salah dengar”
Esoknya aku masih berangkat sekolah bersama Tony tapi keadaan sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
***
www.silenttopia.com

Cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan. Melihat orang yang kamu sukai di depan matamu tapi tidak pernah bisa menyentuhnya. Dia begitu dekat, tapi seperti bayangan yang selalu lolos saat kamu genggam.
Aku menutup tab close di sudut blogku, moodku untuk menulis juga hilang. Aku menendang nendang bunga liar yang tumbuh di bawah kursi taman tempatku duduk, apa kukatakan saja perasaanku yang sebenarnya? Aku akan terkesan murahan, tapi setidaknya itu akan mengurangi himpitan di hatiku.
Semua teman sekelasku selalu membicarakan tentang pacar pacar mereka, tapi apa yang kumiliki di kelas dua SMA ini? Aku tidak pernah berani menyukai orang lain selain Tony.
***
www.silenttopia.com

“Kamu nggak mau nonton bola, Pi?” Mama melongok ke dalam kamarku lewat celah pintu.
Aku mengeluarkan kepala dari bawah selimut, “Malas”
“Tony lho yang main jadi kapten lagi…”
Aku mengulangi sekali lagi kata, ‘malas’. Aku membuka laptopku dan menulis sebuah puisi di blogku. Tentu saja tentang perasaanku yang kacau balau. Ponselku berdering tepat ketika aku selesai memposting puisiku.

Tim kita kalah, Pi, Tony cedera parah, dia dibawa ke Rumah Sakit

Aku melempar ponselku ke sembarang tempat, kubilang juga apa? Rasa cemas namun juga jengkel berkecamuk dalam hatiku. Aku sudah terlajur sakit hati. Dia juga tidak pernah mengerti aku, buat apa aku mengerti dia?
***
www.silenttopia.com

Hujan lagi, dingin seperti hatiku. Langit abu abu, sama juga dengan hatiku. Aku memandang hujan dari jendela kamar, menarik nafas panjang. Aku memang tidak akan pernah bisa bersama dengan Tony.
Setelah tahu kejadian yang sebenarnya Tony masih bisa memaafkan Hani. Hani berjanji akan putus dengan pacarnya dan mereka memulai hubungan dari awal.
Persahabatanku dengan Tony juga kembali membaik, namun tidak akan pernah sebaik dulu. Aku memilih menjaga jarak dengannya, aku sadar aku tidak pantas untuknya.
Biarlah perasaanku kututup rapat rapat dalam blogku. Aku memutuskan tidak akan menulis tentangnya lagi dan menutup blog.
Ini adalah postingan terakhirku, aku ingin meminta maaf dan juga berterimakasih untuk Tony yang telah menjadi matahariku selama ini.
Silenttopia,
Secret Admirer…
***
Anthony menutup blog silenttopia dan tubuhnya lemas mendadak, tulang tulangnya serasa hilang. Pia, dia tidak pernah menyangkanya...
Pia, tetangga dan sahabatnya sejak SD, gadis bisu itu menceritakan semuanya dalam blog. Semua yang ditulis Pia dalam blognya memang nyata, semua yang dikatakan Tony juga nyata. Semua perkataan Pia di dunia nyata dikatakan dengan bahasa isyarat. Pia kembali menuliskan apa yang dikatakannya dalam blog
Pia menyukainya namun Tony tidak menyadari itu.
Dia baru saja mendapat password untuk membuka kembali blog Pia yang telah ditutup dua tahun lalu dari Mama Pia. Pia meninggal sebulan lalu karena kecelakaan dan dia sempat meminta Mamanya untuk kembali membuka blognya.
Tony memandang fotonya dan Pia saat masih kecil yang menjadi header blog itu, air matanya bergulir perlahan.
Maafin Tony, Pia…

TAMAT.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar