Senin, 10 November 2014

KUNANG-KUNANG YANG MEREDUP




Gue berlari secepat-cepatnya, mengejar Pak Azril, lebih tepatnya mengejar nasib novel Kei. Novel Kei itu berhasil gue pinjem setelah merayunya dengan susah payah dan sekarang terancam disita! Gue terburu-buru menuruni tangga, mana tadi si bapak Azril? Oh itu dia… itu… dia… sepengelihatan gue, dia berhenti, membelakangi gue. "Pak Azriiiil!!!" Gue hadang jalannya, ngos-ngosan, membungkuk mengatur nafas, tidak berani memandang Pak Azril. "Pak mohon jangan disita novelnya, itu cuma pinjaman, iya deh pak ini terakhir kali baca novel di pelajaran bapak!" Gue masih membungkuk, memohon. Pak Azril diam, tumben? "Iya deh pak, serius pelajaran, nggak akan melanggar aturan…". Dan Pak Azrril terus diam, eh…Gue maul ambil novel-novel di tangan Pak Azril, langsung gue tersentak, meloncat! Senyum pelit sama sekali bukan tipe Pak Azril yang selebar pintu. Gue melongo, warna jaketnya sama dengan warna baju Pak Azril, bukan Pak Azril!!!! Murid satu sekolah pasti akan langsung pintar akuntansi kalau Pak Azril semuda dia. Malu-ku di Ambon!!! Dua detik!!! Dia menarik kembali tangannya yang gue pegang, gue kira itu tangan Pak Azril yang bawa novel. Gue mundur, nyengir, syok!!***Bulan sabit di langit sesekali tertutup awan, malu gue liatin! Tetapi, bulan itu banyak temannya, jutaan bintang! Teman yang gue tunggu belum datang juga, kurang-kunang!! Gue suka kunang-kunang, nggak peduli omongan kak Deva. "Kunang-kunang itu jelmaan kuku orang mati lho, De… hiii… Dan tempat favorit gue ketemu kunang-kunang adalah di Puncak bola dunia di TK Nusa, di depan rumah gue. Sebelum kunang-kunang datang, gue menemukan teman lain, buku kumal yang ditemukan mama saat bersih-bersih gudang.Si bisu takut kuan kunang cowok takut kunan kuang, bisu nggak mau ngomon nggak mua keatawa.Tulisan gue di umur 6 tahun! Gue inget gue menulis itu disini juga, waktu gue ketemu di bisu, mengenal sekilas, karena dia bisu makanya kita bicaranya pake tulisan. Buku kumal ini sudah gue lupakan. Dia tidak seperti anak-anak lain yang suka main bola dunia, dia justru nangis. Gue tersenyum sambil melihat langit, tangisnya makin keras ketika gue nangkap kunang-kunang dan gue kasih ke dia. Dimana ya bisu sekarang?* **Kira-kira kalau praktek biologi pakai kunang-kunang buat apa ya? Masa sekecil itu dibedah? Ah… yang penting udah gue tangkapin kunang-kunangnya, terserah Inka mau diapain.SMA masih sepi, padahal, SMK gue sudah istirahat dari tadi! Nggak apa-apa gue tunggu. Soalnya disini bukan medannya Pak Azril, aman! Baru gue mau duduk tenang, itu… itu… ya dia! Si jaket baju Pak Azril. Dia menuruni tangga, lewat samping tangga ke arah belakang. Kenapa ke arah situ? Belum istirahat pula! Daripada gue bengong mendingan ngeliatin dia!"Ini yang terakhir, gue nggak mau lagi, berapapun harganya, gue nggak butuh duit…" Dia bertemu seseorang di bekas gudang, orang yang jelas-jelas bukan siswa, sangar, gondrong, kucel. "Nggak butuh duit, nggak butuh duit haram?!" tawanya juga sangar. "Sebenarnya gue nggak mau bawa barang beginian ke sekolah!" "Lagak lo, udah tobat?" Sedang apa mereka? Si jaket baju Pak Azril memberikan sesuatu kepada kucel yang kemudian menciumnya. "Gue nggak mau lagi berurusan sama barang haram itu, pergi sana! Jangan pernah minta apa-apa lagi dari gue!!" Narkobakah? Gue terlambat pergi, si jaket Pak Azril sudah ingin kembali, dia menghadang jalan gue. Kami saling menatap, tajam! "Lo tahu?", "Iya". Dia tersenyum sinis, menantang. "Mau lapor Deanira!". Sekarang bukan saatnya gue terkejut dia tahu nama gue, "Lo udah jual beli narkoba di sekolah, orang seperti lo harus dikeluarin!!!". Dia terus menghalangi gue. "Lo sadar nggak sama perbuatan lo?!" Gue dorong dia, berhasil, dia minggir dan hampir terjatuh, tapi sesuatu benar-benar terjatuh dari sakunya, butiran, obat-obatan! Dia mau ambil, gue lebih cepat. "Jangan lapor Deanira!" Bentaknya, dia mau merebut miliknya kembali, dia balas dorong, gue hampir terjatuh, tas gue membentuk tembok. Bruuukk… toples gue jatuh, gue kaget, kunang-kunang gue lepas, berkelip bebas…Yang tidak gue sadari, si jaket Pak Azril memejamkan mata. Gue baru sadari setelah agak lama, dia diam. "Jauhkan itu! Jauhkan!!!" Gue tercekat, "Lo…"***Dia ketakutan begitu hanya karena kunang-kunang. Si bisu takut kunang-kunang! Berapa banyak cowok di dunia ini yang takut pada hewan seajaib kunang-kunang?"Hei!!!". Dia menoleh. "Lo ada masalah ya sama kunang-kunang?". Jawabnya adalah dia. "Lo itu bisu atau bisu pada saat-saat tertentu sih?". "Kamu mau melaporkan soal tadi?". "Kita pernah ketemua kan di TK Nusa, boleh tahu nama lo?" Lagi-lagi diam, alirannya kutubisme!. "Gue Deanira!". Ragu-ragu dia menjawab. "Levano!". "Jangan tenang dulu, gue tetep nggak akan ngebiarin pengedar narkoba berkeliaran di sekolah!". "Kamu tidak mau menjaga rahasia, ya?". "Kalau lo sekarang lapor sendiri, yang akan tau cuma lo, gue dan guru BP!". "Kalau itu mau kamu, kamu mau memberi saya kesempatan?". Gue kaget juga, nadanya tidak lagi menantang, lebih ke tulus.***Hari ini, Levano tidak masuk sekolah, jangan-jangan kabur lagi, gue memikirkan ulang kata tulusnya kemarin.Bulan sabit mulai membulat, makin terang, ditambah lampu neon TK Nusa dan kerlip kunang-kunang, gue tidak bisa merasa tenang! Gue bawa barang terlarang, tetapi bukan karena itu! Dulu, gue ketemua dia, bermain dengan Levano, tidak lebih dari setengah jam, tidak mengenalnya banyak. Untuk tahu namanya saja gue butuh 10 tahun. Tiga hari gue bertemua dia lagi, apa gue tahu lebih banyak? Mendadak gue ragu untuk melapor. Dalam waktu yang sesingkat ini apa semua yang gue ketahui tentang Levano pengedar narkoba sudah lengkap? Gue bertanya ke kunang-kunang di ujung jari gue. "Kunang, gue harus gimana?".***Lagi-lagi Levano tidak masuk sekolah, hari selanjutnya bolos lagi, bolos lagi! Oke, gue sudah tidak bisa lagi memendah rahasia pengedar narkoba, satu sekolah harus tau!" Obat haram itu ada di tas gue, membuat tas gue serasa diisi dengan 10 kg beras! Gue bulatkan tekad! Lapor!!. "Permisi, pak!". Gue mengetuk pintu ruang BP. "Lagi sibuk ya, Pak, saya ingin…", kerongkongan gue kering, "Iya nih, De, lagi nyari laporan buat rapat di Departemen Pendidikan…" jawab Pak Wisnu tanpa menoleh. "Ada yang mau saya bicar…". "Aduh… nanti saja ya, nunggu Pak Yon dan Bu Rani pulang, saya mau pergi…". Fortuna, memihak Levano.***Kelas 10-4! Ada satu bangku kosong, kayaknya Levano benar-benar kabur. Hari ini gue melangkah lagi ke ruang BP. Langkah gue terhenti, guru di 10-4 mengobrol dengan guru piket di depan pintu. "Tidak masuk lagi, bu? Ravva Levano Sutanto, saya catat ya!". "Padahal dia masih anak baru, denger-denger dia adalah masalah di rumah, orangtuanya kan sudah pisah, kakak-kakaknya sekolah di luar negeri… kasihan…". Gue mendesah, memang butuh banyak waktu untuk mengenal Levano…***Kemarin, gue batal ke BP, hari ini harus jadi! Tetapi, seiring dengan semangat melapor yang membara, keraguan juga semakin menggelora. Kunang-kunang dan keinginan bilang, "Lapor. De", hati gue bilang, "nggak!!". "Ayo, De, Lo membawa kebenaran, pintu BP sudah depan mata!". Bayangan 10 tahun lalu tiba-tiba melintas, "De, ikuti kata hati lo!". Dan seharian itu bayangan Levano 10 tahun lalu tidak mau lepas!***Gue berlari secepat-cepatnya ke kantor Pak Wisn u, sebelum ada yang merusak tekad gue, bahkan semalam gue sudah telfon Pak Wisnu kalau punya berita penting, tadi pagi gue SMS lagi! Gue sudah melihat Pak Wisnu! "Lari De, lari!! Pak Wis…". Gloddaakk… gue kesandung, tetapi sebelum menyentuh lantai sudah ditarik, berarti lebih tepatnya gue disandung kaki, Levano! Wajah polos itu sekarang telah menjadi tegas, "Ikut sebentar, setelah itu silahkan laporkan BP!".Dia mendorong gue masuk ke mobilnya tidak pergi, hanya duduk dan bicara, "Kemana aja lo?!". Hari ini dia pake jaket warna baju Pak Azril!. "De, loa masih nyimpen benda itu sekarang?". "Akan gue kasih ke Pak Wisnu". Levano mengambil sesuatu dari tasnya, astaga, dia masih punya! Dia berkata pelan. "Gue akui ini memang dunia gue, De…, gue emang jual beli narkoba dan make…". "Lev…!". "Gue nggak pernah punya apa-apa dalam hidup yang bisa dibanggain, jadi sekalian aja gue rusak hidup gue! Nggak pernah ada yang meminta gue untuk berubah, kok…". "Gue yang minta…". "Seandainya lebih cepat, De…". "Kalau sekarang lo udah nggak mau berubah, gitu?!!!"/ "Nggak bisa lagi, De… kamu harus bisa bedain mana narkoba dan yang bukan…". "Maksudnya?". "Yang gue jual kemarin emang narkoba, tapi, yang lo ambil itu obat gue…". Dia menatap ke luar. "Gue udah kena AIDS!". "Gue mual!". "Apa menurut lo gue masih bisa jadi orang baik?". "Yang ada di sekitar gue berputar, sekarang lapor aja De, nggak apa-apa!" katanya getir. Malam harinya gue menangis di puncak bola dunia TK Nusa, bersama kunang-kunang!.***Levano diskors atas pelanggaran berat yang dilakukannya, seminggu! Hari ini seharusnya dia masuk sekolah, tapi sampai sore dia tidak muncul. Gue ini memang orang tak punya hati yang tega melaporkannya ke BP. Sekarang, Levano ramai dibicarakan, tentu saja keburukannya, seakan-akan dialah satu-satunya makhluk hina di sekolah, hanya dia yang dibicarakan.Hari selanjutnya gua melongok lagi ke kelas 10-4, dia ada!! Begitu istirahat dia menghilang, di kantin, di perpus, lapangan, setiap orang yang gue tanyain menjawab dengan mencibir.Ketika gue menemukan Levano, dia lagi dikeroyok dan dihina-hina oleh sekelompok cowok. Dia menghindar saat gue tolongin. Dia juga pergi begitu saja saat dengan jelas-jelas ada sekelompok cewek yang mengejek di depan matanya!.Pulang sekolah gue cari dia lagi, dimana-mana tidak ada. Saat gue putus asa, gue melihatnya termenung di puncak bola dunia SD, sekolah gue memang yayasan, jadi ada SD sampai SMA. Levano memandang langit…, gue memilih berlalu…***Levano pingsan di sekolah dan gue nggak ngerti darimana anak-anak tahu dia kena AIDS. Gue hanya melapor tentang narkoba tidak tentang AIDS! Anak-anak semakin membencinya. "Ya ampuun… ternyata dia membawa virus berbahaya!". "Itu emang udah ganjarannya pengedar narkoba…". "Lo pergi sana dari sekolah ini!!". Telinga gue panas, "kalian nggak boleh bicara begitu, harusnya kalian bantu Levano!!!:. Levano pergi, "Lev…". "Nggak usah sok pahlawan begitu deh!". "Gue masih mau berteman sama lo kok, karena gue yakin lo akan berubah".***10 tahun yang lalu…"Sayang… main disini ya, mama mau cari tiket dulu, kan besok kita mau pulang ke Denpasar…". Levano menangis tidak mau ditinggal mamanya. Dari puncak bola dunia, Dean memandangnya heran. "Cowok kok nangis, naik sini main sama aku!". Levano duduk di ayunan, "Oh… kamu takut naik ya?". Tangis Levano mereda, "nama kamu siapa? Aku Deanira, eh… kamu kelas berapa sih? Kamu kok diem aja, bisu ya"?. Levano diam. "Oh… bisu… kasihan! Kita bicaranya nulis aja ya… kamu bisa nulis nggak?. "Diam, aku aja yang nulis, eh ada kunang-kunang…!". Deanira turun dari bola dunia, menangkap kunang-kunang di semak-semak. "Ini buat kamu!". Levano menangis keras, "kamu takut, ya?"***LevanoMalam ini bulan bulat, purnama, terang. Gue duduk di puncak bola dunia TK Nusa, ternyata tidak menakutkan! Pundak gue ditepuk pelan, Dean! Detik itu juga dia melepas-kan kunang-kunang dari toples. Gue tersenyum, "Gue nggak takut!". "Kenapa waktu itu loa nggak mau ngomong nggak mau naik ke sini?". Gue jawab dengan senyum, "Makasih ya De, lo masih mau berteman sama gue, orang kotor kaya gue!". "Lev… gue nggak mandang lo dari keburukan lo, kok…". "Gue mau berubah, selama ini, narkoba gue anggap sebagai jalan selesainya masalah gue…". Dean diam, "Ternyata masih ada orang yang mau peduliin gue… orang tua gue ajak nggak peduli". "Lo jangan putus asa, yang lalu ditutup aja, biar orang ngomong apa…!". "Sekarang gue akan jalanin sisa hidup yang dikasih Tuhan dengan baik…"Kami bersama melihat langit, bintang-bintang memberi harapan. Kunang-kunang ikut bahagia. Gue menangkap seekor kunang-kunang, buat Dean! "Kunang-kunang memberi cahaya, buat apa ditakuti, Lev?"Gue dan Dean tertawa…..^-^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar