KUNANG-KUNANG YANG MEREDUP
Gue
berlari secepat-cepatnya, mengejar Pak Azril, lebih tepatnya mengejar
nasib novel Kei. Novel Kei itu berhasil gue pinjem setelah merayunya
dengan susah payah dan sekarang terancam disita! Gue terburu-buru
menuruni tangga, mana tadi si bapak Azril? Oh itu dia… itu… dia…
sepengelihatan gue, dia berhenti, membelakangi gue. "Pak Azriiiil!!!"
Gue hadang jalannya, ngos-ngosan, membungkuk mengatur nafas, tidak
berani memandang Pak Azril. "Pak mohon jangan disita novelnya, itu cuma
pinjaman, iya deh pak ini terakhir kali baca novel di pelajaran
bapak!" Gue masih membungkuk, memohon. Pak Azril diam, tumben? "Iya deh
pak, serius pelajaran, nggak akan melanggar aturan…". Dan Pak Azrril
terus diam, eh…Gue maul ambil novel-novel di tangan Pak Azril, langsung
gue tersentak, meloncat! Senyum pelit sama sekali bukan tipe Pak Azril
yang selebar pintu. Gue melongo, warna jaketnya sama dengan warna baju
Pak Azril, bukan Pak Azril!!!! Murid satu sekolah pasti akan langsung
pintar akuntansi kalau Pak Azril semuda dia. Malu-ku di Ambon!!! Dua
detik!!! Dia menarik kembali tangannya yang gue pegang, gue kira itu
tangan Pak Azril yang bawa novel. Gue mundur, nyengir, syok!!***Bulan
sabit di langit sesekali tertutup awan, malu gue liatin! Tetapi, bulan
itu banyak temannya, jutaan bintang! Teman yang gue tunggu belum datang
juga, kurang-kunang!! Gue suka kunang-kunang, nggak peduli omongan kak
Deva. "Kunang-kunang itu jelmaan kuku orang mati lho, De… hiii… Dan
tempat favorit gue ketemu kunang-kunang adalah di Puncak bola dunia di
TK Nusa, di depan rumah gue. Sebelum kunang-kunang datang, gue
menemukan teman lain, buku kumal yang ditemukan mama saat bersih-bersih
gudang.Si bisu takut kuan kunang cowok takut kunan kuang, bisu nggak
mau ngomon nggak mua keatawa.Tulisan gue di umur 6 tahun! Gue inget gue
menulis itu disini juga, waktu gue ketemu di bisu, mengenal sekilas,
karena dia bisu makanya kita bicaranya pake tulisan. Buku kumal ini
sudah gue lupakan. Dia tidak seperti anak-anak lain yang suka main bola
dunia, dia justru nangis. Gue tersenyum sambil melihat langit,
tangisnya makin keras ketika gue nangkap kunang-kunang dan gue kasih ke
dia. Dimana ya bisu sekarang?* **Kira-kira kalau praktek biologi pakai
kunang-kunang buat apa ya? Masa sekecil itu dibedah? Ah… yang penting
udah gue tangkapin kunang-kunangnya, terserah Inka mau diapain.SMA
masih sepi, padahal, SMK gue sudah istirahat dari tadi! Nggak apa-apa
gue tunggu. Soalnya disini bukan medannya Pak Azril, aman! Baru gue mau
duduk tenang, itu… itu… ya dia! Si jaket baju Pak Azril. Dia menuruni
tangga, lewat samping tangga ke arah belakang. Kenapa ke arah situ?
Belum istirahat pula! Daripada gue bengong mendingan ngeliatin dia!"Ini
yang terakhir, gue nggak mau lagi, berapapun harganya, gue nggak butuh
duit…" Dia bertemu seseorang di bekas gudang, orang yang jelas-jelas
bukan siswa, sangar, gondrong, kucel. "Nggak butuh duit, nggak butuh
duit haram?!" tawanya juga sangar. "Sebenarnya gue nggak mau bawa
barang beginian ke sekolah!" "Lagak lo, udah tobat?" Sedang apa mereka?
Si jaket baju Pak Azril memberikan sesuatu kepada kucel yang kemudian
menciumnya. "Gue nggak mau lagi berurusan sama barang haram itu, pergi
sana! Jangan pernah minta apa-apa lagi dari gue!!" Narkobakah? Gue
terlambat pergi, si jaket Pak Azril sudah ingin kembali, dia menghadang
jalan gue. Kami saling menatap, tajam! "Lo tahu?", "Iya". Dia
tersenyum sinis, menantang. "Mau lapor Deanira!". Sekarang bukan
saatnya gue terkejut dia tahu nama gue, "Lo udah jual beli narkoba di
sekolah, orang seperti lo harus dikeluarin!!!". Dia terus menghalangi
gue. "Lo sadar nggak sama perbuatan lo?!" Gue dorong dia, berhasil, dia
minggir dan hampir terjatuh, tapi sesuatu benar-benar terjatuh dari
sakunya, butiran, obat-obatan! Dia mau ambil, gue lebih cepat. "Jangan
lapor Deanira!" Bentaknya, dia mau merebut miliknya kembali, dia balas
dorong, gue hampir terjatuh, tas gue membentuk tembok. Bruuukk… toples
gue jatuh, gue kaget, kunang-kunang gue lepas, berkelip bebas…Yang
tidak gue sadari, si jaket Pak Azril memejamkan mata. Gue baru sadari
setelah agak lama, dia diam. "Jauhkan itu! Jauhkan!!!" Gue tercekat,
"Lo…"***Dia ketakutan begitu hanya karena kunang-kunang. Si bisu takut
kunang-kunang! Berapa banyak cowok di dunia ini yang takut pada hewan
seajaib kunang-kunang?"Hei!!!". Dia menoleh. "Lo ada masalah ya sama
kunang-kunang?". Jawabnya adalah dia. "Lo itu bisu atau bisu pada
saat-saat tertentu sih?". "Kamu mau melaporkan soal tadi?". "Kita pernah
ketemua kan di TK Nusa, boleh tahu nama lo?" Lagi-lagi diam, alirannya
kutubisme!. "Gue Deanira!". Ragu-ragu dia menjawab. "Levano!". "Jangan
tenang dulu, gue tetep nggak akan ngebiarin pengedar narkoba
berkeliaran di sekolah!". "Kamu tidak mau menjaga rahasia, ya?". "Kalau
lo sekarang lapor sendiri, yang akan tau cuma lo, gue dan guru BP!".
"Kalau itu mau kamu, kamu mau memberi saya kesempatan?". Gue kaget
juga, nadanya tidak lagi menantang, lebih ke tulus.***Hari ini, Levano
tidak masuk sekolah, jangan-jangan kabur lagi, gue memikirkan ulang
kata tulusnya kemarin.Bulan sabit mulai membulat, makin terang,
ditambah lampu neon TK Nusa dan kerlip kunang-kunang, gue tidak bisa
merasa tenang! Gue bawa barang terlarang, tetapi bukan karena itu!
Dulu, gue ketemua dia, bermain dengan Levano, tidak lebih dari setengah
jam, tidak mengenalnya banyak. Untuk tahu namanya saja gue butuh 10
tahun. Tiga hari gue bertemua dia lagi, apa gue tahu lebih banyak?
Mendadak gue ragu untuk melapor. Dalam waktu yang sesingkat ini apa
semua yang gue ketahui tentang Levano pengedar narkoba sudah lengkap?
Gue bertanya ke kunang-kunang di ujung jari gue. "Kunang, gue harus
gimana?".***Lagi-lagi Levano tidak masuk sekolah, hari selanjutnya bolos
lagi, bolos lagi! Oke, gue sudah tidak bisa lagi memendah rahasia
pengedar narkoba, satu sekolah harus tau!" Obat haram itu ada di tas
gue, membuat tas gue serasa diisi dengan 10 kg beras! Gue bulatkan
tekad! Lapor!!. "Permisi, pak!". Gue mengetuk pintu ruang BP. "Lagi
sibuk ya, Pak, saya ingin…", kerongkongan gue kering, "Iya nih, De, lagi
nyari laporan buat rapat di Departemen Pendidikan…" jawab Pak Wisnu
tanpa menoleh. "Ada yang mau saya bicar…". "Aduh… nanti saja ya, nunggu
Pak Yon dan Bu Rani pulang, saya mau pergi…". Fortuna, memihak
Levano.***Kelas 10-4! Ada satu bangku kosong, kayaknya Levano
benar-benar kabur. Hari ini gue melangkah lagi ke ruang BP. Langkah gue
terhenti, guru di 10-4 mengobrol dengan guru piket di depan pintu.
"Tidak masuk lagi, bu? Ravva Levano Sutanto, saya catat ya!". "Padahal
dia masih anak baru, denger-denger dia adalah masalah di rumah,
orangtuanya kan sudah pisah, kakak-kakaknya sekolah di luar negeri…
kasihan…". Gue mendesah, memang butuh banyak waktu untuk mengenal
Levano…***Kemarin, gue batal ke BP, hari ini harus jadi! Tetapi, seiring
dengan semangat melapor yang membara, keraguan juga semakin
menggelora. Kunang-kunang dan keinginan bilang, "Lapor. De", hati gue
bilang, "nggak!!". "Ayo, De, Lo membawa kebenaran, pintu BP sudah depan
mata!". Bayangan 10 tahun lalu tiba-tiba melintas, "De, ikuti kata
hati lo!". Dan seharian itu bayangan Levano 10 tahun lalu tidak mau
lepas!***Gue berlari secepat-cepatnya ke kantor Pak Wisn u, sebelum ada
yang merusak tekad gue, bahkan semalam gue sudah telfon Pak Wisnu
kalau punya berita penting, tadi pagi gue SMS lagi! Gue sudah melihat
Pak Wisnu! "Lari De, lari!! Pak Wis…". Gloddaakk… gue kesandung, tetapi
sebelum menyentuh lantai sudah ditarik, berarti lebih tepatnya gue
disandung kaki, Levano! Wajah polos itu sekarang telah menjadi tegas,
"Ikut sebentar, setelah itu silahkan laporkan BP!".Dia mendorong gue
masuk ke mobilnya tidak pergi, hanya duduk dan bicara, "Kemana aja
lo?!". Hari ini dia pake jaket warna baju Pak Azril!. "De, loa masih
nyimpen benda itu sekarang?". "Akan gue kasih ke Pak Wisnu". Levano
mengambil sesuatu dari tasnya, astaga, dia masih punya! Dia berkata
pelan. "Gue akui ini memang dunia gue, De…, gue emang jual beli narkoba
dan make…". "Lev…!". "Gue nggak pernah punya apa-apa dalam hidup yang
bisa dibanggain, jadi sekalian aja gue rusak hidup gue! Nggak pernah
ada yang meminta gue untuk berubah, kok…". "Gue yang minta…".
"Seandainya lebih cepat, De…". "Kalau sekarang lo udah nggak mau
berubah, gitu?!!!"/ "Nggak bisa lagi, De… kamu harus bisa bedain mana
narkoba dan yang bukan…". "Maksudnya?". "Yang gue jual kemarin emang
narkoba, tapi, yang lo ambil itu obat gue…". Dia menatap ke luar. "Gue
udah kena AIDS!". "Gue mual!". "Apa menurut lo gue masih bisa jadi
orang baik?". "Yang ada di sekitar gue berputar, sekarang lapor aja De,
nggak apa-apa!" katanya getir. Malam harinya gue menangis di puncak
bola dunia TK Nusa, bersama kunang-kunang!.***Levano diskors atas
pelanggaran berat yang dilakukannya, seminggu! Hari ini seharusnya dia
masuk sekolah, tapi sampai sore dia tidak muncul. Gue ini memang orang
tak punya hati yang tega melaporkannya ke BP. Sekarang, Levano ramai
dibicarakan, tentu saja keburukannya, seakan-akan dialah satu-satunya
makhluk hina di sekolah, hanya dia yang dibicarakan.Hari selanjutnya
gua melongok lagi ke kelas 10-4, dia ada!! Begitu istirahat dia
menghilang, di kantin, di perpus, lapangan, setiap orang yang gue
tanyain menjawab dengan mencibir.Ketika gue menemukan Levano, dia lagi
dikeroyok dan dihina-hina oleh sekelompok cowok. Dia menghindar saat
gue tolongin. Dia juga pergi begitu saja saat dengan jelas-jelas ada
sekelompok cewek yang mengejek di depan matanya!.Pulang sekolah gue
cari dia lagi, dimana-mana tidak ada. Saat gue putus asa, gue
melihatnya termenung di puncak bola dunia SD, sekolah gue memang
yayasan, jadi ada SD sampai SMA. Levano memandang langit…, gue memilih
berlalu…***Levano pingsan di sekolah dan gue nggak ngerti darimana
anak-anak tahu dia kena AIDS. Gue hanya melapor tentang narkoba tidak
tentang AIDS! Anak-anak semakin membencinya. "Ya ampuun… ternyata dia
membawa virus berbahaya!". "Itu emang udah ganjarannya pengedar
narkoba…". "Lo pergi sana dari sekolah ini!!". Telinga gue panas,
"kalian nggak boleh bicara begitu, harusnya kalian bantu Levano!!!:.
Levano pergi, "Lev…". "Nggak usah sok pahlawan begitu deh!". "Gue masih
mau berteman sama lo kok, karena gue yakin lo akan berubah".***10 tahun
yang lalu…"Sayang… main disini ya, mama mau cari tiket dulu, kan besok
kita mau pulang ke Denpasar…". Levano menangis tidak mau ditinggal
mamanya. Dari puncak bola dunia, Dean memandangnya heran. "Cowok kok
nangis, naik sini main sama aku!". Levano duduk di ayunan, "Oh… kamu
takut naik ya?". Tangis Levano mereda, "nama kamu siapa? Aku Deanira,
eh… kamu kelas berapa sih? Kamu kok diem aja, bisu ya"?. Levano diam.
"Oh… bisu… kasihan! Kita bicaranya nulis aja ya… kamu bisa nulis nggak?.
"Diam, aku aja yang nulis, eh ada kunang-kunang…!". Deanira turun dari
bola dunia, menangkap kunang-kunang di semak-semak. "Ini buat kamu!".
Levano menangis keras, "kamu takut, ya?"***LevanoMalam ini bulan bulat,
purnama, terang. Gue duduk di puncak bola dunia TK Nusa, ternyata
tidak menakutkan! Pundak gue ditepuk pelan, Dean! Detik itu juga dia
melepas-kan kunang-kunang dari toples. Gue tersenyum, "Gue nggak
takut!". "Kenapa waktu itu loa nggak mau ngomong nggak mau naik ke
sini?". Gue jawab dengan senyum, "Makasih ya De, lo masih mau berteman
sama gue, orang kotor kaya gue!". "Lev… gue nggak mandang lo dari
keburukan lo, kok…". "Gue mau berubah, selama ini, narkoba gue anggap
sebagai jalan selesainya masalah gue…". Dean diam, "Ternyata masih ada
orang yang mau peduliin gue… orang tua gue ajak nggak peduli". "Lo
jangan putus asa, yang lalu ditutup aja, biar orang ngomong apa…!".
"Sekarang gue akan jalanin sisa hidup yang dikasih Tuhan dengan
baik…"Kami bersama melihat langit, bintang-bintang memberi harapan.
Kunang-kunang ikut bahagia. Gue menangkap seekor kunang-kunang, buat
Dean! "Kunang-kunang memberi cahaya, buat apa ditakuti, Lev?"Gue dan
Dean tertawa…..^-^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar