TRUTH OR DEATH?
PART 18
A Fanfiction By Septi Titanika
Cast :
·
Wu Yi Fan aka Kris
·
Kim Myung Soo (INFINITE)
·
Cho Ha Ra (OC)
·
Im Min Ji (OC)
Other Cast :
·
Kim Jong In (EXO)
·
Jung Dae Hyun (BAP)
·
Kim Jong Dae (EXO)
·
Oh Ha Young (A PINK)
·
Xi Luhan (EXO)
Genre : Romance, Sad, Married Life,
Mistery
Rated : PG 15
Length : Chaptered/ 6172 words
Cover By Admin Mouse Cover Fanfiction
The Story is mine, idenya dari otak saya, saya masih
sangat amatiran, apabila ada kesamaan itu hanya kebetulan belaka. Semua Tokoh
di FF ini adalah milik keluarga, Tuhan, agensi dan fansnya, OC nya milik saya.
Awas typo merajalela, EYD tidak benar, Don’t bash , don’t plagiat and happy
reading ^-^
***
“Hyo Sun – ah Imo tahu
kau main di depan pintu, ayo masuk jangan main air…” Ha Ra melongok ke pintu
depan, Hyo Sun menjulurkan tangannya panjang panjang, mencoba menerima air
hujan. “Hyo Sun – ah cepat kemari…”
Hyo Sun berlari lari
mendekat, tangannya basah. Ha Ra ingin mengomelinya tapi tidak bisa, dia anak
Kris. Fakta itu sudah membuatnya ingin menangis, bagaimana dia bisa marah ? Dia
mengambil tisu dan mengusap tangan bocah itu.
“Imo sedang memasak,
ya?” Hyo Sun berjinjit, mencoba melihat apa yang ada diatas kompor. “Eommaku
tidak pernah memasak…” dia menundukkan kepalanya. Soo Ra selalu membawa bekal
buatan Ibunya.
“Eommaku tidak akan
mati kan, Imo?” tanya Hyo Sun lirih, tadi dia sempat mendengar dokter
mengucapkan kata mati, meninggal dan kritis. Dokter dan suster mengerumuninya,
dia ingin melihat tapi tidak boleh.
Ha Ra berjongkok dan
memeluk Hyo Sun, membenamkan dagu di pundak kecilnya. Min Ji terlalu pintar merajuk
pada Tuhan. Dia berhasil membuat Tuhan iba, membuat pertahanan Ha Ra runtuh.
Dia telah memohon secara halus – namun licik , agar suaminya dikembalikan. Ha
Ra akan memberikannya, cepat atau lambat dia juga akan kehilangan Kris, jadi
dia harus membiasakannya mulai sekarang. Kalau Kris tidak mati di pelukannya
mungkin rasanya tidak akan terlalu sakit. Biarlah dia kembali ke tempatnya yang
benar.
Tapi Kris tidak
mengingat apapun, bagaimana menjelaskannya?
“Imo kenapa menangis?”
tanya Hyo Sun takut takut, dia mundur lupa bahwa Ha Ra sempat marah padanya.
Ketika perhatian semua orang terpusat pada Ibunya, Ha Ra langsung membawanya
pulang. “Imo masih sakit?” Hyo Sun menempelkan tangannya di kening Ha Ra.
“Eommamu tidak apa apa
sayang…” Ha Ra tersenyum lebar, senyum palsu. “Kau lapar kan? duduk di sini,
ayo makan” Dia menggendong Hyo Sun dan mendudukkannya di kursi makan. Tadi pagi
Ibunya memasak ayam goreng yang tidak Kris suka, dia tinggal menghangatkannya.
Min Ji pasti tahu Kris tidak suka ayam goreng.
“Makan yang banyak agar kau cepat besar…” Ha
Ra mendorong piring berisi nasi ke depan Hyo Sun. Anak itu langsung makan
dengan lahap, dua butir nasi menempel di bibirnya.
Ha Ra trenyuh memperhatikan
Hyo Sun makan dengan lahap. Anak sekecil dia sudah terombang ambing dalam
takdir hidup yang kejam. Dia mengusap nasi di bibirnya. Appamu ada di sini,
Appamu menyayangimu, kau tidak akan diejek lagi karena tidak punya Appa. Kau
punya orang tua yang lengkap. Hyo Sun – ah, aku akan memberikan semua waktuku
untuk kau habiskan bersama Appamu.
“Imo minum…” Hyo Sun
menggigit ayamnya.
Ha Ra mendorong air
putih dan beranjak membuat teh untuk dirinya sendiri. Dia perpegangan pada sisi
pantry, kepalanya benar benar pening. Tangannya meraba raba mencari teh – mungkin
bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan – namun tidak menemukannya. Yang
ada hanya teh herbal mahal yang baru saja dibeli Ibunya. Air panas mengenai
tangannya ketika dia menyeduhnya.
“Itu apa Imo?” Hyo Sun
menunjuk cangkir teh Ha Ra.
“Teh, kau mau?” Ha Ra
memijit keningnya. Hyo Sun mengangguk dan menyesap itu, dia melet melet, tidak
enak. Hey, bukankah itu teh yang sama dengan yang dibuangnya di tempat sampah?
Mendadak dia ingat Paman jahat yang juga membawa teh yang sama. Appa Myung Soo
juga membawa teh seperti itu di rumah samchon Dae Hyun.
“Imo, ini teh Paman
jahat…” celetuk Hyo Sun.
