Minggu, 24 Agustus 2014

TRUTH, OR DEATH ? PART 18



TRUTH OR DEATH?

  PART 18



A Fanfiction By Septi Titanika

Cast :
·         Wu Yi Fan aka Kris
·         Kim Myung Soo (INFINITE)
·         Cho Ha Ra (OC)
·         Im Min Ji (OC)

Other Cast :
·         Kim Jong In (EXO)
·         Jung Dae Hyun (BAP)
·         Kim Jong Dae (EXO)
·         Oh Ha Young (A PINK)
·         Xi Luhan (EXO)

Genre : Romance, Sad, Married Life, Mistery

Rated : PG 15

Length : Chaptered/ 6172 words

Cover By Admin Mouse Cover Fanfiction

The Story is mine, idenya dari otak saya, saya masih sangat amatiran, apabila ada kesamaan itu hanya kebetulan belaka. Semua Tokoh di FF ini adalah milik keluarga, Tuhan, agensi dan fansnya, OC nya milik saya. Awas typo merajalela, EYD tidak benar, Don’t bash , don’t plagiat and happy reading ^-^

***

“Hyo Sun – ah Imo tahu kau main di depan pintu, ayo masuk jangan main air…” Ha Ra melongok ke pintu depan, Hyo Sun menjulurkan tangannya panjang panjang, mencoba menerima air hujan. “Hyo Sun – ah cepat kemari…”

Hyo Sun berlari lari mendekat, tangannya basah. Ha Ra ingin mengomelinya tapi tidak bisa, dia anak Kris. Fakta itu sudah membuatnya ingin menangis, bagaimana dia bisa marah ? Dia mengambil tisu dan mengusap tangan bocah itu.

“Imo sedang memasak, ya?” Hyo Sun berjinjit, mencoba melihat apa yang ada diatas kompor. “Eommaku tidak pernah memasak…” dia menundukkan kepalanya. Soo Ra selalu membawa bekal buatan Ibunya.

“Eommaku tidak akan mati kan, Imo?” tanya Hyo Sun lirih, tadi dia sempat mendengar dokter mengucapkan kata mati, meninggal dan kritis. Dokter dan suster mengerumuninya, dia ingin melihat tapi tidak boleh.

Ha Ra berjongkok dan memeluk Hyo Sun, membenamkan dagu di pundak kecilnya. Min Ji terlalu pintar merajuk pada Tuhan. Dia berhasil membuat Tuhan iba, membuat pertahanan Ha Ra runtuh. Dia telah memohon secara halus – namun licik , agar suaminya dikembalikan. Ha Ra akan memberikannya, cepat atau lambat dia juga akan kehilangan Kris, jadi dia harus membiasakannya mulai sekarang. Kalau Kris tidak mati di pelukannya mungkin rasanya tidak akan terlalu sakit. Biarlah dia kembali ke tempatnya yang benar.

Tapi Kris tidak mengingat apapun, bagaimana menjelaskannya?

“Imo kenapa menangis?” tanya Hyo Sun takut takut, dia mundur lupa bahwa Ha Ra sempat marah padanya. Ketika perhatian semua orang terpusat pada Ibunya, Ha Ra langsung membawanya pulang. “Imo masih sakit?” Hyo Sun menempelkan tangannya di kening Ha Ra.

“Eommamu tidak apa apa sayang…” Ha Ra tersenyum lebar, senyum palsu. “Kau lapar kan? duduk di sini, ayo makan” Dia menggendong Hyo Sun dan mendudukkannya di kursi makan. Tadi pagi Ibunya memasak ayam goreng yang tidak Kris suka, dia tinggal menghangatkannya. Min Ji pasti tahu Kris tidak suka ayam goreng.

 “Makan yang banyak agar kau cepat besar…” Ha Ra mendorong piring berisi nasi ke depan Hyo Sun. Anak itu langsung makan dengan lahap, dua butir nasi menempel di bibirnya.

Ha Ra trenyuh memperhatikan Hyo Sun makan dengan lahap. Anak sekecil dia sudah terombang ambing dalam takdir hidup yang kejam. Dia mengusap nasi di bibirnya. Appamu ada di sini, Appamu menyayangimu, kau tidak akan diejek lagi karena tidak punya Appa. Kau punya orang tua yang lengkap. Hyo Sun – ah, aku akan memberikan semua waktuku untuk kau habiskan bersama Appamu.

“Imo minum…” Hyo Sun menggigit ayamnya.

Ha Ra mendorong air putih dan beranjak membuat teh untuk dirinya sendiri. Dia perpegangan pada sisi pantry, kepalanya benar benar pening. Tangannya meraba raba mencari teh – mungkin bisa menghangatkan tubuhnya yang kedinginan – namun tidak menemukannya. Yang ada hanya teh herbal mahal yang baru saja dibeli Ibunya. Air panas mengenai tangannya ketika dia menyeduhnya.

“Itu apa Imo?” Hyo Sun menunjuk cangkir teh Ha Ra.

“Teh, kau mau?” Ha Ra memijit keningnya. Hyo Sun mengangguk dan menyesap itu, dia melet melet, tidak enak. Hey, bukankah itu teh yang sama dengan yang dibuangnya di tempat sampah? Mendadak dia ingat Paman jahat yang juga membawa teh yang sama. Appa Myung Soo juga membawa teh seperti itu di rumah samchon Dae Hyun.

“Imo, ini teh Paman jahat…” celetuk Hyo Sun.